Aku sadar sesadar-sadarnya
darimana aku bermula. Dari rahim siapa aku dilahirkan. Aku hampir lupa
bagaimana cara membahagiakanmu. Aku terlena, dibuai megah dunia. Maaf? Iya,
maaf. Aku minta maaf. Aku yang terlalu egois. Aku lupa siapa dan apa
kepentinganku.
Ketika umur mulai menua, tanganmu
selalu meninggalkan bekas keriput, semakin terlihat keriput. Aku sadar
sesadar-sadarnya. Aku mulai beranjak dewasa dan kau bertambah tua. Aku belum
sempat membahagiakanmu. Iya, bahagia. Aku hanya menyusahkanmu, dan tak jarang
membuat peluh air matamu menetes.
“Uripku nek ora kanggo anak,
yo nggo sapa”
Aku lah orang itu, yang
disebut-sebut sebagai anak. Aku yang selalu diceritakan kepada semua orang, aku
yang selalu dibanggakannya dengan penuh kebanggaan. Aku? Aku bisa apa?
Untuk Ibu, aku serupa burung yang
sayapnya patah-patah paruhnya. Tak bisa berbicara lagi akan kemuliaanmu, belum
bisa melakukan sesuatu untuk bahagiakanmu.
Aku masih nakal. Masih berusaha
untuk memerbaiki diri, sehingga bisa disebut baik.
Ibu, aku harap kau tetap terjaga
sehat dan diberi kelancaran. Banyak yang ingin aku persembahkan Ibu, banyak.
Ibu, aku sudah pasti yakin engkau
selalu mendoakan anakmu. Maka, bukan karena hari ini sebagai hari Ibu. Akan tetapi
karena aku baru sadar untuk apa dan siapa aku akan bersimpuh rindu.
Ikhlaskan Anakmu ini untuk pergi,
pergi ke tanah hijrah.
22 Desember 2015, satu bulan
sebelum kelahiranku.
Tanah Perantauan Mangkuyudan,
Ahmad Alfi.
