Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Minggu, 28 Agustus 2016

Endonesa Negeri Para Perokok dan Neraka Pendamba Surga Dunia





Mengawali pagi dengan sejuk-segarnya udara aroma embun yang natural tanpa polusi, lalu mencoba meneduhkan diri di bawah rindangnya pepohonan yang membikin hawa sepoi-sepoi nan adem oleh angin, berikut mengakhirinya dengan menikmati sayup-sayup keheningan hidung menghirup-hembus ketenangan alam bersama segelas teh dan senja, rasanya hidup seperti demikian adalah laksana surga. Sayang, surga yang saya dambakan dan saya maksud tak benar-benar mewujud dalam realitasnya. Tak sadar saya telah tertidur dalam mimpi ....
 
Entah butuh berapa ratus purnama saya akan menanti ke-tidak-adil-an yang dibiasakan ini dihentikan. Saya bukanlah seorang perokok, sungguh. Bila saya bukan seorang perokok, bukan berarti saya adalah seorang yang bisa disebut si “anti rokok”. 

Dalam keseharian, saya bergerumul, berinteraksi, atau bersahabat dengan teman-teman saya yang notabene adalah perokok (berat). Di lingkungan saya, saya adalah minoritas yang tidak merokok. Saya tak pernah merasa ditindas atau didiskriminasi. 

Dari apa yang saya alami selama ini, sering judgement diskriminator jatuh pada orang yang tak merokok, alasannya konyol: kalau tak suka dengan asap rokok, jangan berteman dengan kami! Well sekarang siapa yang menindas dan siapa yang mendiskriminasi? Sejak kapan rokok menjadi kunci persahabatan antara kita?  Sehingga letak benang silaturahim ditentukan oleh rokok, sungguh, ini tidak adil. 


Saya senang dengan isu-isu mutakhir bertopik sok agamis, dengan menggandeng klausa toleransi- empati-kompromi atau kolaborasi. Sayang seribu kali sayang sama dengan sayang sekali, kenapa klausa toleransi-empatisme tidak tersentuh oleh babagan rokok. Padahal, bermula dari rokok, muncullah dua aliran yang selalu menjadi polemik kesyejahteraan keadilan endonesa: sang perokok dan yang nggak merokok. Betul kan? 


Di endonesa, para perokok mendapatkan tempat yang istimewa. Mereka diberi ruang-ruang khusus area smooking. Tapi, tahu sendirilah bagaimana watak manusia endonesa. Semakin dilarang semakin nekad melanggar. Walhasil kawasan bebas asap rokok menjadi tak termaknai sesuai harapan: asap rokok benar-benar bebas berhembus di setiap sudut ruang kawasan terbuka dan fasilitas umum. Syahdu sekali pemira... ada ibu-ibu hamil kena asap rokok, bukannya minggir malah dengan santainya ngajak ngobrol si ibu hamil. Mengaharukan.


Oh iya, endonesa adalah negeri yang tercipta sebagai istana para perokok, itu karena harga rokok yang bisa dibilang murahan. Jadi, maaf, jangan marah kalau saya bilang perokok itu murahan. Anggapan saya, bila rokok harganya naik sehingga mahal, maka dampaknya adalah akan terjadi kastanisasi  terhadap rokok. Rokok turut memberikan warna identitas pada kelas sosial. Kaum borjuislah yang bisa membeli rokok dengan harga mahal, sedang proletar terkini lebih memilih beli tembakau langsung dari petani dan melintingnya.

Konkretnya, bila rokok benar-benar mahal, yang akan kita temui adalah hanya pejabat-pejabat atau konglomerat yang bisa kebal-kebul merokok. Sedangkan kelas buruh tentu akan kesulitan membeli rokok.
Lain hal apabila harga rokok masih begitu-begitu saja, dinamika yang terjadi adalah rokok bisa dibeli oleh siapapun. Entah ia kaya atau miskin, muda atau om-om, tua atau veteran, anak teka atau esde (masih ingatkan gambar meme anak yang meloporkan gurunya ke polisi dengan gambar bergaya merokok sok gagah!), tentu juga mahasiswa atau tante-tante. 

Persoalnnya Pemerintah dinilai telah kewalahan mengatasi regulasi bea cukai rokok untuk mempermahal harga rokok perbungkusnya nanti, ini berkaitan erat juga dengan para juragan tembakau di Indonesia.
Dugaan saya adalah wacana yang lebih senang disebut hoax ini memperlihatkan bahwa pemerintah akan dicap sebagai kapitalis, bahkan istilah overgeneralisasi atau Fallacy of Dramatic Instance atau lebay yang dilayangkan oleh Erdward S. Kennedy. Tabik! Atau jangan-jangan desas-desus bahwa ini adalah akal busuk pemerintah juga membuat enak-emak takut belanja bulanan dipotong suami buat beli rokok? Aduhai mama... tamatlah riwayatmu kini. Pucing-pucing pala mamak. 


Mengharukan sekali stigmatisasi dan pandangan seperti demikian.
Barangkali Pramis endonesa seolah kehilangan jati diri sebagai orang yang ngintelek. Tokoh-tokoh yang gemar merokok dan dijadikan cover buku seolah interpretasi dari tingkat keintelektualan seseorang. Padahal teman-teman saya nggak begitu pinter-pinter banget. Bahkan ada yang sok intelek kalau ngrokok afdolnya ditemani kopi. Duh Gusti paringono ekstasi macam GusMul, sejak kapan logika kopi dan rokok tertanam dalam benak otak orang endonesa.


Sekali lagi. Rokok lagi-lagi tak pernah memberikan kemerdekaannya pada konsep toleransi dan empati pada para orang yang tak merokok-- yang alergi pada asap ketidak-adilan.
Konteks asap menjadi sangat logis bagi yang mendambakan kenyamanan. Mereka bebas melakukan aktivitas seperti mengawali pagi dengan sejuk-segarnya udara aroma embun yang natural tanpa polusi, lalu mencoba meneduhkan diri di bawah rindangnya pepohonan yang membikin hawa sepoi-sepoi nan adem oleh angin, berikut mengakhirinya dengan menikmati sayup-sayup keheningan hidung menghirup-hembus ketenangan alam bersama segelas teh dan senja. Inilah surga, bukan neraka! Surga bagi pendamba surga hahaha...


Di sisi lain telah dibangun gerakan-gerakan olahraga dengan sponsor merk rokok ternama, belum lagi rupiah-rupiah yang dialokasikan untuk dana beasiswa. Sungguh bijaknya pabrik rokok endonesa. Slalu ada plus minusnya! Mau menentang kok sayang, mau mendukung kok tak sesuai nurani... haduhh
Sekali lagi, saya kian mumet untuk berapologi pada ketidakadilan. Tapi realitasnya rokok membuat paradigma keadilan yang nyata. Ya itu, lewat sponsor-sponsor dan beasiswanya itu.
Akhirul kalam... bagi perokok silakan nimbun sebanyak-banyaknya, siapa tahu wacana yang lebih senang disebut hoax ini akan segera dibahas di meja DePeeR dan Presyiden dan dibuat surat keputusan! Modyar genti koen...


Untuk yang antirokok atau nggak merokok jangan sok sehat banget, ngerokoknya nggak, tapi konsumsi makanan sampah (junkfood), udah gitu nggak pernah olahraga, padahal tercemar asap kendaraan udah pasti. Wkwkwk ada keluhan sila nge-tweet di Twitter dengan tagar #tolakhargarokok50ribu vs #dukunghargarokok50ribu .  Tagar ini sempat jadi trending topic , loh...
Selamat berwacana!

*kredit foto: sumber -http://dayat-latuconsina.blogspot.co.id/

Rabu, 10 Agustus 2016

Perjumpaan dengan Waktu: Kenangan dan Tujuan

Setiap denting waktu memiliki maknanya tersendiri. Waktu terus berjalan, namun enggan untuk berhenti sejenak, bahkan untuk mengulang atau kembali ke denting sepersekian waktu yang telah lalu, waktu tak sudi untuk itu.
Usia terus bertambah, dengan simbolisasi numerik manusia masih bisa mengelak antara masih “muda atau tua” secara masif. Namun umur? Tak ada yang bisa membohongi umur. Karenanya umur menjadi salah satu misteri seseorang untuk berkehidupan. Logika pasti menunjukan kredo bahwa usia dan umur adalah dua entitas penting yang selalu berkaitan dengan waktu. Ia selalu hadir dalam kesempatan-kesempatan seorang manusia menciptakan peluang-peluang capaian selanjutnya.
Menuliskan ihwal “waktu” nyatanya tak akan perah selesai. Kemudian aku menjadi paham bagaimana waktu sangat berpengaruh terhadap gerak peradaban manusia dengan lingkungannya. Peradaban akan selalu berkembang menuju arah kemajuan, dan lingkungan menjadi bukti atau hasil produksi (dari peradaban) itu sendiri.

Aku mengenal waktu sudah lama. Ia selalu menemani setiap pergerakanku untuk menjalani semua rutinitas kehidupanku. Dari “waktu” aku mengenal apa itu masa lalu dan apa itu masa depan. Dari “waktu” pula aku menemukan makna kenangan dan apa itu tujuan.
Waktu mengilhami manusia untuk terus mempertimbangkan segala aspek antara rasio keberuntungan-kebermanfaaatn dan kerugian. Sehingga dari apa yang telah manusia dapatkan dari kerja usaha seseorang waktu akan ikut berperan menjadi faktor keberhasilan atau kegagalan. Dalam hal ini manusia kemudian dikenal sebagai mahluk yang terbukti memiliki akal dan pikiran. Tentu karena manusia terus berpikir!

Ketika tangan sedang bersalaman, terasa ada yang berbeda. Tangan itu sudah tak semulus dan sehalus dulu. Telapak tangan yang kasar menyimpan rahasia-rahasia yang selama ini ia sembunyikan dariku. Seperti biasa, mencium tangannya adalah sebuah keharusan dalam bersalaman. Tangan Ibu seperti berbicara padaku tentang harapan-harapannya. Tangan Ibu juga seperti telah merelakan anaknya untuk memulai penghidupan ke tahap yang lebih subtanstif. Tangan itu memaafkan segala laku salah maupun khilaf dari anaknya ini.
Kerutan di wajah, di bawah pipi dan sekitar kelopak mata, menandakan begitu banyak kenangan-kengan yang telah Ia ciptakan bersama keluarganya, tentu juga anaknya. Belum lagi berhelai-helai rambut yang memutih satu per satu. Ibu sudah tak lagi muda. Ibu sudah memulai fase kehidupan sebagi seseorang yang menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-cucunya. Begitulah seorang Ibu yang juga menjadi seorang nenek.
Tahukah kau apakah yang tak akan pernah lepas dan selalu mengikuti? Ya, Tuhan menciptakan waktu agar manusia memahami apakah ia akan hidup secara berguna atau binasa dengan sia-sia.
Pelan tapi pasti, jika diri ini masih sering melakukan kecerobohan yang sangat tak berlogika, sulit dimaafkan waktu, mulai sekarang bagaimana diri ini kembali bersahabat dengan waktu. Bukankah diri ini kelak ingin juga berharmoni dengan cukup waktu bersama Ibu?
Waktu....
Kepada waktu: 03.51 WIB Surakarta