Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Rabu, 30 Mei 2018

??

Engkau pikir siapa yang memulai dan mengakhiri semua hal dengan penilaian. Tuhanmu telah memberi contoh antara hal yang baik dan buruk, salah dan benar, haq dan bathil, surga dan neraka. Semua itu adalah ruang-ruang pilihan yang ambivalen, selalu ada, dan kontradiksi, bukan?

Pelajaran filsafat di ruang kelas tidak memberiku pemahanan yang bertahan lama tentang konsep teori ontologi, epistimologi, maupun axiologi. Dari keseluruhan cabang filsafat, barangkali hanyalah axiologi yang mampu mampir ke ruang ingatanku --sebentar--untuk menyadarkanku bahwa penilaianlah yang sering digunakan kebanyakan orang.

Hanya sedikit orang yang mempelajari tentang kenapa sesuatu biasa "ada" atau mereka biasa menyebutnya ontologi, ketimbang axiologi  itu sendiri. Maka, aku tidak lagi heran ketika kujumpai beberapa orang, yang dia terkadang adalah sahabat sendiri; lebih sering menilai daripada menggambarkan.

Orang-orang lebih sering menggunakan akal pikirannya untuk menilai daripada hati untuk menggambarkan. Engkau tahu? Misalnya, si-A mengatakan bahwa si-B adalah tipe orang yang pendiam, kaku, sulit diajak bicara. Menurutku itu adalah contoh bahwa seseorang telah gagal menggambarkan (sesuai realitas) sedangkan sebenarnya ia baru sampai ke pada tahap penilaian. Ia gagal dalam menceritakan orang yang ia maksud ke dalam lingkaran representasi sesungguhnya. Ini seperti ketika orang Jawa yang mengatakan orang Madura itu Kasar dan sebaliknya Orang Madura mengira orang Jawa itu lelet. menggambarkan tak semudah itu.


Rabu, 25 April 2018

SEPERTI BENIH YANG KAMU TANAM, IA PERLU DIRAWAT DAN DISIRAM

Malam dan malam. Seorang lelaki pergi dari rumah menuju taman belakang. Menemui angin. Menyapa daun yang diterpa cahaya bulan. Lalu duduk di bangku menunggu balasan pesan. Tidak pernah ada kata benci untuk menunggu. Hanya, barangkali, bosan dengan ketidakpastian itu.


Di kereta, aku melihat seorang perempuan sendiri memeluk buku. Terpulas oleh mimpi yang menyandarkan kepalanya ke dinding jendela kereta; mata terpejam dan mimpi berterbangan. Di pemberhentian kedua ia bangun, ia tersenyum, tersadar, bahwa kereta ini tidak akan tepat waktu. Ya, tidak tepat waktu. Cinta memang tidak pernah tepat waktu. Kadang, beberapa hal bersifat tidak tepat waktu hanya untuk menemui cinta

Oh, Ya. Bunga-bunga indah itu pernah menjadi benih-benih yang ditanam dan dirawat. Kamu?


Minggu, 15 April 2018

“Mengapa Pujangga-pujangga itu Begitu Mahir Merangkai Cerita Tentang Cinta yang Mereka Anggap Seolah Cinta Adalah Dewa Kehidupan yang Nyata.”



Sahabat. 

Ini kali pertama aku memanggilmu sahabat, lain tidak. Aku belajar tentang arti cinta dari pujangga, maka aku pun belajar bagaimana bersahabat juga dari pujangga.
Kau masih saja menyisakan cerita dalam sejarah hidup. Yang tertuliskan dalam syair dan bait-bait puisi. Kau abadi di sana, tapi tidak di sini (di puisiku).
Kenapa tak kau tanyakan saja kepada para pujangga-pujangga yang mendewakan cinta. Biar tahu, biar paham. Mengapa pujangga-pujangga yang kau maksud itu merangkai cerita cinta mereka seapik mungkin.
Suara hati seorang kekasih tak sama dengan suara hati malaikat yang punya surga. Apakah aku harus menghamba kepada cinta?

Ketahuilah sahabat, mereka para pujangga telah tersiksa dengan nestapa rasa. Mereka ditelantarkan oleh cinta, terombang-ambing dalam rasa siksa. Itulah mengapa sebabnya mereka mendongeng. Membangun cintanya lewat cerita. Karena dunia tak berpihak padanya. 


Tapi.... ada hal yang perlu diingat. “Cinta” bagi pujangga adalah gambaran kehidupan. Untuk apa mereka hidup, selain menghamba pada Tuhan dan menjalin cinta lalu membangun impian istana kehidupan dalam dunia kehidupan. Aku pun begitu, aku manusia dan kau juga manusia. Sama-sama punya rasa, sama-sama punya cinta. Tapi kita punya keinginan yang berbeda, aku harus melihat kau membangun cinta yang kau impikan dan kau mendoakan agar aku membuat syair-syair cinta seindah mungkin-menyenangkan diriku sendiri-menumbuhkan cinta kembali.

Aku harap kau mulai paham dengan hal ini. Jaga dirimu baik-baik. Jaga cinta yang telah tumbuh kembang bersemi, bunga-bunga putih gunung turut mengikuti harum bau masa depanmu. Jaga kepribadian anggun dirimu, senyum yang merekah lagi tawa yang memecah gundah. Sahabat.....

Tentang Sore dan Masa Lalu.
Sudah lama pelangi tak muncul kembali. Aku pun rindu dengan hal itu. Namun sayang, pelangi tak selamanya ada. Tak setiap saat menghias langit.
Aku pun berterimakasih padamu yang telah mengisi masa mudaku. Kau pula yang mengajarkan akau bagaimana bercinta (menjadi cinta). 
Ah, Aku yang selalu berharap kepada yang terpaksa. Aku mohon maaf, aku hanyalah pengabdi syair yang menjunjung bagaimana cerita cinta itu ada.

Setidaknya kita telah berkenalan dengan rasa, yang menyisakan luka duka pun tawa. 


Sampah.....

Minggu, 11 Februari 2018

TANDA SETIA PADA PAGI

Selamat pagi…
Pagi ini tak ada lembaran-lembaran rindu yang tertulis. Sebab, kita sedang sama-sama menatap layar gawai mengamati bagaimana dunia ini berjalan, berkembang, dan memoles dirinya.

Pagi ini tak ada kopi yang mendinginkan isi kepala. Pagi ini tak ada secangkir teh yang menjernihkan anganku. Kita melangkah menengok ke jendela sebentar lalu hilang. Setiap nafas yang terhembus adalah kenikmatan ruhani, bersamamu.
Selamat pagi… rutinitas pagi menyambut pagimu. Aku harap ini bukanlah apa-apa yang sedang ditanam. Sampai akhirnya kita sadar tak pernah kehilangan apapun yang sebenarnya tidak aku tanam.

Burung berkicau, tanda setia pada pagi

Puisi tak menyalamatkan apapun selain kata-kata. Kamu masih saja bertanya apa saja pertanda dan penanda.  Syair. Burung-burung terbang untuk pergi dan kembali.. Ku harap setia pada pagi itu tak sulit.


Gerimis Pagi, Solo, 12 Februari 2018

Jumat, 09 Februari 2018

Sabar dan Jalani!

Kau tahu, aku dilahirkan tidak dengan kemudahan. Aku tumbuh pun membersamai kesulitan-kesulitan di hidupku. Meskipun begitu, bukan berarti aku akan hidup dengan seluruh kesulitan -selamanya. Tidak. Bukan. Aku hidup dengan kemurahan yang diberikan Tuhanku, Allah. Allah menjamin kebahagiaan hambanya, ciptaannya, aku.

Allah Maha Bahagia. Tentu aku akan mendapatkan jatah kebahagiaanku sendiri. Pun semua orang miliki jatah bahagianya masing-masing. Tapi, bahagia tidak bisa didapat begitu saja. Kau tahu, kita ini hidup di dunia. Di mana di setiap kata sifat memiliki kebalikannya. Ada suka ada benci. Ada manis ada pahit. Ada cahaya ada kegelapan. Dan masih banyak lagi kata-kata di dunia ini yang memiliki kebalikan. Termasuk bahagia. Barangkali, atau mestinya, kau bisa bahagia jika kau pernah merasakan sedih. Iya, suatu perasaan di hatimu yang  membuatnya gelisah, tidak nyaman, pikiran kacau, belum lagi saraf matamu dan hatimu yang terhubung melalui perasaan membuatmu kadangkala meneteskan air mata.

Maksudku, kau akan bahagia jika kau pernah mengalami kesulitan-kesulitan. Dan kau tahu? Kesulitan itu hanya bisa ditaklukan oleh dua hal; sabar dan dijalani. Ya, kadang kita merasa apa yang sedang terjadi sama sekali tidak berpijak pada kehendak kita. Situasi dan kondisi memutar balik keinginan. Tidak ada keberpihakan di sana. Sewaktu kita lahir, apakah Tuhan memberi bekal kita di dunia?  Jawabnya adalah iya. Tuhan memberkati kita dengan akal yang kita miliki. Tuhan menaruh berbagai rasa dan semangat di hati. Kadang aku berpikir apa bedanya hati dan akal. Saat kita sedih, saat kita bahagia, perasaan-perasaan tempatnya tidak bisa kita ketahui, tapi bisa dirasakan.

Ahh.. bingung ku menjelaskannya. Jadi maksudku bekal yang diberi Tuhan itu adalah kekuatan besar. Cuma kesalahan kita adalah memisah kekuatan itu. Kita perlu menyatukan hati dan akal; agar kita kuat...


Alfiahmad, Solo, 6 Februari 2018.

Minggu, 04 Februari 2018

SETIAP ANAK TERLAHIR UNTUK MEMULAI, ORANG TUA TERUS BERJALAN UNTUK MENGAKHIRI, DAN KITA YANG KEBINGUNGAN UNTUK DIAM ATAU MELANJUTKAN

Ini adalah semester baru. Semester enam. Di semester ini aku hanya mendapat jatah dua hari untuk berangkat ke kampus. Aku mendapat banyak hari-hari untuk waktu luang, kosong, nirkegiatan. Tapi, bukan berarti aku menganggur. Bukan. Aku hanya menyebut ini dengan istilah "jatah istirahat". Ya, kau tahu, semester lima kemarin adalah semester ternggilani yang ku jalani. Banyak kegiatan hanya di kampus dan sisanya di pondok. Aku merasa menyesal ada kata "sisa" di sana. Sebab tanggungjawab yang mestinya menjadi prioritas malah menjadi kata "sisa". Sungguh, itu tidak baik, tapi itu juga bukan keinginanku. Semester lima benar-benar menghabiskan waktu dan pikiranku. Proyek drama di jurusan, penelitian yang gagal, makalah-makalah, belum urusan event-event di pondok. Dari semua itu aku sebenarnya sangat senang dengan kegiatan pondok. Cukup mengibur-lalaikanku dari tugas-tugas perkuliahan. 

Semester enam barangkali akan mengubah (sedikit) pola berkehidupanku. Banyak waktu yang berpotensi menjadi bibit-bibit bermalas-malasan. Aku tahu itu. Aku sendiri sangat mudah oleh itu. Biasanya, jika aku sudah betrmalas-malasan pilihannya hanya satu : kombinasi antara kasur, gawai, beberapa film, buku puisi, dan seperangkat makanan minuman adalah keniscayaan. Hiduplah orang malas...

Seperti itu jangan dicontoh. Aku menulis ini hanya karena aku ingin ada catatan bahwa aku tidak benar-benar sebagai pribadi yang rajin-rajin sekali. Sama. Kita semua adalah manusia yang sebagian hatinya di huni balas dendam iblis kepada Adam. Maka dari itu kalau ada orang yang menilaiku dengan mudah hanya sehari-sekali-seperkedipan-sepenglihatan-sehembusan itu artinya orang itu tidak bernar-benar menilai. Ia melewatkan validitas data yang ada. Sebenarnya ia gagal menilai. Jadi, jangan mudah menilai. 

Semester satu, dua, tiga, empat, dan lima memiliki puncak keriwetan masing-masing... semua itu menjadi memoar bagiku. Bertemu kawan macam-macam model, seri, dan tipe. Bertemu dosen yang tak kalah variasinya, sampai di sini aku mulai paham : tiap dosen punya metodologi penelitian versi dosen itu sendiri.

Sampai suatu ketika aku tersadarkan oleh lamunanku. Ingatan-ingatan datang secara tiba-tiba. bapak dan Ibu adalah ingatan yang datang. Menghampiriku. Saat itu memang aku sedang lalai. aku seperti hilang. Ya, hilang : lupa: tidak ingat: bebas: kebingungan.

Mereka hadir dalam bayang-bayang Ibu memasak di dapur, mengantar katering ke rumah sakit, Bapak menjelma keringat-keringat dan peluh kesusahan menuju belantara dunia. Sedang aku? berdiri menatap mentari berusaha tenggelam dan aku masih tetap berdiri ketika sayup azan mengumandang. Di situ aku baru tersadar...

Kita terlahir untuk memulai. Orang tua berjalan untuk menuju akhir. Tapi kadangkala kita kebingungan atas apa yang telah kita mulai. Sebenarnya, kita butuh terlahir kembali!