Kau tahu, aku dilahirkan tidak dengan kemudahan. Aku tumbuh pun membersamai kesulitan-kesulitan di hidupku. Meskipun begitu, bukan berarti aku akan hidup dengan seluruh kesulitan -selamanya. Tidak. Bukan. Aku hidup dengan kemurahan yang diberikan Tuhanku, Allah. Allah menjamin kebahagiaan hambanya, ciptaannya, aku.Allah Maha Bahagia. Tentu aku akan mendapatkan jatah kebahagiaanku sendiri. Pun semua orang miliki jatah bahagianya masing-masing. Tapi, bahagia tidak bisa didapat begitu saja. Kau tahu, kita ini hidup di dunia. Di mana di setiap kata sifat memiliki kebalikannya. Ada suka ada benci. Ada manis ada pahit. Ada cahaya ada kegelapan. Dan masih banyak lagi kata-kata di dunia ini yang memiliki kebalikan. Termasuk bahagia. Barangkali, atau mestinya, kau bisa bahagia jika kau pernah merasakan sedih. Iya, suatu perasaan di hatimu yang membuatnya gelisah, tidak nyaman, pikiran kacau, belum lagi saraf matamu dan hatimu yang terhubung melalui perasaan membuatmu kadangkala meneteskan air mata.
Maksudku, kau akan bahagia jika kau pernah mengalami kesulitan-kesulitan. Dan kau tahu? Kesulitan itu hanya bisa ditaklukan oleh dua hal; sabar dan dijalani. Ya, kadang kita merasa apa yang sedang terjadi sama sekali tidak berpijak pada kehendak kita. Situasi dan kondisi memutar balik keinginan. Tidak ada keberpihakan di sana. Sewaktu kita lahir, apakah Tuhan memberi bekal kita di dunia? Jawabnya adalah iya. Tuhan memberkati kita dengan akal yang kita miliki. Tuhan menaruh berbagai rasa dan semangat di hati. Kadang aku berpikir apa bedanya hati dan akal. Saat kita sedih, saat kita bahagia, perasaan-perasaan tempatnya tidak bisa kita ketahui, tapi bisa dirasakan.
Ahh.. bingung ku menjelaskannya. Jadi maksudku bekal yang diberi Tuhan itu adalah kekuatan besar. Cuma kesalahan kita adalah memisah kekuatan itu. Kita perlu menyatukan hati dan akal; agar kita kuat...
Alfiahmad, Solo, 6 Februari 2018.

0 komentar:
Posting Komentar