Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Senin, 21 Desember 2015

Coretan (Hidup)



Aku sadar sesadar-sadarnya darimana aku bermula. Dari rahim siapa aku dilahirkan. Aku hampir lupa bagaimana cara membahagiakanmu. Aku terlena, dibuai megah dunia. Maaf? Iya, maaf. Aku minta maaf. Aku yang terlalu egois. Aku lupa siapa dan apa kepentinganku.
Ketika umur mulai menua, tanganmu selalu meninggalkan bekas keriput, semakin terlihat keriput. Aku sadar sesadar-sadarnya. Aku mulai beranjak dewasa dan kau bertambah tua. Aku belum sempat membahagiakanmu. Iya, bahagia. Aku hanya menyusahkanmu, dan tak jarang membuat peluh air matamu menetes.
Uripku nek ora kanggo anak, yo nggo sapa”
Aku lah orang itu, yang disebut-sebut sebagai anak. Aku yang selalu diceritakan kepada semua orang, aku yang selalu dibanggakannya dengan penuh kebanggaan. Aku? Aku bisa apa?
Untuk Ibu, aku serupa burung yang sayapnya patah-patah paruhnya. Tak bisa berbicara lagi akan kemuliaanmu, belum bisa melakukan sesuatu untuk bahagiakanmu.
Aku masih nakal. Masih berusaha untuk memerbaiki diri, sehingga bisa disebut baik.
Ibu, aku harap kau tetap terjaga sehat dan diberi kelancaran. Banyak yang ingin aku persembahkan Ibu, banyak.
Ibu, aku sudah pasti yakin engkau selalu mendoakan anakmu. Maka, bukan karena hari ini sebagai hari Ibu. Akan tetapi karena aku baru sadar untuk apa dan siapa aku akan bersimpuh rindu.


Ikhlaskan Anakmu ini untuk pergi, pergi ke tanah hijrah.
22 Desember 2015, satu bulan sebelum kelahiranku.
Tanah Perantauan Mangkuyudan,
Ahmad Alfi.

Selasa, 15 Desember 2015

Requeim Senja dan Pujangga




(di) Kereta
Puisi Rangga

Resah di dadaku
Dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini
Di pisah kata-kata
Begitu pula rindu
Lihat tanda tanya itu
Jurang antara kebodohan dan keinginanku
“Memilikimu sekali lagi”









Minggu, 29 November 2015

Refleksi: Catatan Akhir Senja




 



Keluar dari zona “nyaman”, pernahkah mencobanya? Jika belum cobalah. Barangakali akan kau temui banyak hal yang belum pernah kau rasakan. Kehidupan nyaman-semua serba ada- hanya akan membuatmu manja. Kau akan dininabobokan gemerlap dunia, hedonis!
Dunia memang kejam. Setujukah dengan itu? Jika iya, kau sependapat denganku. Dunia sejatinya memanglah kejam. Jika kau mengatakan dunia tidak kejam, mungkin kau belum merasakan kekejaman dunia.
Masihkah kau berada di zona nyaman? Tahukah itu? Coba amati, masihkah kau tidur nyenyak di sepertiga malam terakhir?
Kau akan belajar kejamnya duni atas sebuah keputusan. Meninggalkan zona nyaman dan rela berada di zona sulit untuk beberapa saat. Tidak lama, cuma butuh kesabaran. Iya, kesabaran. Untuk mendapatkan hasil yang membuat dirimu mencapai tujuan dari sebuah cita-cita hidup! Itu baru zona nyaman yang hakiki, bukan berada dititik nyaman karena ada kesempatan pada kenyamanan yang membuat kau terlena dengan impianmu.
Suatu ketika temanku melemparkan pertanyaan aneh kepadaku, “apa beda impian dan cita-cita” , aku pikir sama saja. Kemudian dia mencoba menguraikan penjelasanya kepadaku.
Cita-cita. Semua orang pernah memiliki cita-cita itu. Ketika kecil mau jadi ini jadi itu. Ah, ingin seperti ini itu-melihat sesuatu yang membuat hati terobsepsi untuk menjadi seperti yang dilihatnya. Namun, ah lahi-lagi kata “namun” menjadi tonggak penyangga antara cita-cita dengan kenyataan. Tak sedikit manusia yang tak dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya sewaktu kecil atau bahkan dewasa. Oh, iya aku lupa bahwa cita-cita bisa berubah. Entahlah, cita-citaku sewaktu TK, SD, SMP sampai SMA semuanya berbeda, berubah sesuai konteks kehidupanku. Bagaimana dengan kau?
Lalu bagaimana dengan impian? Temanku mendefinisikan impian sebagai tujuan hidup yang tak pernah berubah sesuai konteks kehidupannya. Impian itu tidak muncul ketika masih kecil. Namun, impian itu akan muncul ketika kau sudah dewasa- mengerti hakikat hidup, hakikat manusia, hakikat sebuah pengabdian- begitu kata temanku.
Impian dan cita-cita bisa jadi sama, ketika keduanya punya tujuan yang jelas. Bukan hanya sekedar untuk “menjadi” namun lebih dari itu, bagaimana untuk hidup menjadi “berarti”. Cita-cita boleh saja tak terwujud, namun impian? Impian harus tetap ada. Harus ada.
Terkadang ketika ada motivasi atau semacam kekuatan dalam diri hilang barangkali ini yang disebut putus asa? Merasa tak kuat. Tak tahan. Ingin mengakhiri semua yang telah dimulai. Ah, sependek inikah pergulatan hidup, sebodoh itukah pemikiran otak manusia berpikir?
Semula sebelum semua ini aku tempuh, bisa saja aku bekerja di sebuah lembaga swasta, dengan gaji bulanan dan uang tunjangan, bisa beli ini dan itu. Hidup nyaman (untuk beberapa saat) telah ada didepan mata. Tetapi aku mengambil keputusan lain, aku memutuskan untuk kuliah. Pertimbanganku hidup nyaman untuk beberapa saat itu bukanlah aku. 
 
Sore kali ini adalah senja ketiga. Aku merasa beberapa alur kisah hidupku sangatlah menarik untuk dijadikan suatu roman. Aku malas sekali mengulas masa laluku. Masa kecilku. Bagaimana kehidupanku dengan keluarga. Bagimana hubunganku dengan orang tuaku, bapak yang telah menafkahiku. Seringkali kekgagalan suatu keluarga menjadi ancaman batinku.
Menangis? Terlalu cengeng untuk mengurai airmata! Tetapi demikianlah nyatanya. Batinku kerap menangis, perpecahan suatu rumah tangga selalu menghantuiku. Hubungan cinta yang terjadi karena keterpaksaan dan tipu muslihat menjadi akar semua itu. Dan AKU lah kunci bertahannya jalinan keluarga. Demi aku, orang yang melahirkanku bertahan untukku, aku masih butuh keluarga katanya. Apa yang bisa diharapkan untuk anak seperti aku ini? Sudahlah aku hanya mengenang sedikit saja dari masa kelamku.
Tentunya aku masih punya masa depan cerah bukan? Hidup mandiri adalah pilihanku, kuliah dengan uang pas-pasan adalah keputusanku. Tuhan telah memberikan satu langkah untukku agar bisa kuliah. Tinggal bagaimana aku menjalani kuliahku, tinggal bagaimana aku bisa bertahan dengan keterbatasan yang berjalan beriringan disetiap kebutuhan berlebih bersandar kepadaku. Sabar. Ya, aku bisa sabar. Sudah banyak aku berhutang uang maupun jasa kepada teman. Beruntungnya aku masih punya teman.
Aku harap untuk kalian yang membaca tulisanku ini, aku minta kalian bersyukur atas kehidupan yang kalian jalani. Setidaknya kehidupan kalian lebih beruntung daripada aku. Ingat, jangan lupa syukur. Ucapkan terimakasih kepada Sang Maha. Jangan pernah menyerah setiap ujian menyapa menerpa. Salam, pengarung kehidupan!