Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Senin, 21 November 2016

CATATAN BUNG HATTA

Jumat, 11 November 2016

Tak Ada Beban Tanpa Pundak


by: Aden


Terasa menyesakkan semua yang telah terjadi

Apa yang ku banggakan kini tinggal cerita

Kau uji aku...

Sekilas aku rasa tak kuasa

Namun kusadari dan aku mengerti kuserahkan pada MU



Takkan aku bertanya mengapa harus terjadi

Karna aku yakini tak ada beban tanpa pundak

Kau uji aku karna ku bisa melewatinya

Ini yang terbaik bagi hidupku.. semua hanya ujian



Biarkan aku oh malam...

Menangis di sepanjang sholatku

Karna hanya Allah yang bisa membuatku tegar

Menjalani semua ini..



Biarkan aku oh malam...

Bersimbah rahmat dan ampunanNya

Badaipun pasti berlalu menguji imanku

Aku serahkan pada Illahi

Minggu, 28 Agustus 2016

Endonesa Negeri Para Perokok dan Neraka Pendamba Surga Dunia





Mengawali pagi dengan sejuk-segarnya udara aroma embun yang natural tanpa polusi, lalu mencoba meneduhkan diri di bawah rindangnya pepohonan yang membikin hawa sepoi-sepoi nan adem oleh angin, berikut mengakhirinya dengan menikmati sayup-sayup keheningan hidung menghirup-hembus ketenangan alam bersama segelas teh dan senja, rasanya hidup seperti demikian adalah laksana surga. Sayang, surga yang saya dambakan dan saya maksud tak benar-benar mewujud dalam realitasnya. Tak sadar saya telah tertidur dalam mimpi ....
 
Entah butuh berapa ratus purnama saya akan menanti ke-tidak-adil-an yang dibiasakan ini dihentikan. Saya bukanlah seorang perokok, sungguh. Bila saya bukan seorang perokok, bukan berarti saya adalah seorang yang bisa disebut si “anti rokok”. 

Dalam keseharian, saya bergerumul, berinteraksi, atau bersahabat dengan teman-teman saya yang notabene adalah perokok (berat). Di lingkungan saya, saya adalah minoritas yang tidak merokok. Saya tak pernah merasa ditindas atau didiskriminasi. 

Dari apa yang saya alami selama ini, sering judgement diskriminator jatuh pada orang yang tak merokok, alasannya konyol: kalau tak suka dengan asap rokok, jangan berteman dengan kami! Well sekarang siapa yang menindas dan siapa yang mendiskriminasi? Sejak kapan rokok menjadi kunci persahabatan antara kita?  Sehingga letak benang silaturahim ditentukan oleh rokok, sungguh, ini tidak adil. 


Saya senang dengan isu-isu mutakhir bertopik sok agamis, dengan menggandeng klausa toleransi- empati-kompromi atau kolaborasi. Sayang seribu kali sayang sama dengan sayang sekali, kenapa klausa toleransi-empatisme tidak tersentuh oleh babagan rokok. Padahal, bermula dari rokok, muncullah dua aliran yang selalu menjadi polemik kesyejahteraan keadilan endonesa: sang perokok dan yang nggak merokok. Betul kan? 


Di endonesa, para perokok mendapatkan tempat yang istimewa. Mereka diberi ruang-ruang khusus area smooking. Tapi, tahu sendirilah bagaimana watak manusia endonesa. Semakin dilarang semakin nekad melanggar. Walhasil kawasan bebas asap rokok menjadi tak termaknai sesuai harapan: asap rokok benar-benar bebas berhembus di setiap sudut ruang kawasan terbuka dan fasilitas umum. Syahdu sekali pemira... ada ibu-ibu hamil kena asap rokok, bukannya minggir malah dengan santainya ngajak ngobrol si ibu hamil. Mengaharukan.


Oh iya, endonesa adalah negeri yang tercipta sebagai istana para perokok, itu karena harga rokok yang bisa dibilang murahan. Jadi, maaf, jangan marah kalau saya bilang perokok itu murahan. Anggapan saya, bila rokok harganya naik sehingga mahal, maka dampaknya adalah akan terjadi kastanisasi  terhadap rokok. Rokok turut memberikan warna identitas pada kelas sosial. Kaum borjuislah yang bisa membeli rokok dengan harga mahal, sedang proletar terkini lebih memilih beli tembakau langsung dari petani dan melintingnya.

Konkretnya, bila rokok benar-benar mahal, yang akan kita temui adalah hanya pejabat-pejabat atau konglomerat yang bisa kebal-kebul merokok. Sedangkan kelas buruh tentu akan kesulitan membeli rokok.
Lain hal apabila harga rokok masih begitu-begitu saja, dinamika yang terjadi adalah rokok bisa dibeli oleh siapapun. Entah ia kaya atau miskin, muda atau om-om, tua atau veteran, anak teka atau esde (masih ingatkan gambar meme anak yang meloporkan gurunya ke polisi dengan gambar bergaya merokok sok gagah!), tentu juga mahasiswa atau tante-tante. 

Persoalnnya Pemerintah dinilai telah kewalahan mengatasi regulasi bea cukai rokok untuk mempermahal harga rokok perbungkusnya nanti, ini berkaitan erat juga dengan para juragan tembakau di Indonesia.
Dugaan saya adalah wacana yang lebih senang disebut hoax ini memperlihatkan bahwa pemerintah akan dicap sebagai kapitalis, bahkan istilah overgeneralisasi atau Fallacy of Dramatic Instance atau lebay yang dilayangkan oleh Erdward S. Kennedy. Tabik! Atau jangan-jangan desas-desus bahwa ini adalah akal busuk pemerintah juga membuat enak-emak takut belanja bulanan dipotong suami buat beli rokok? Aduhai mama... tamatlah riwayatmu kini. Pucing-pucing pala mamak. 


Mengharukan sekali stigmatisasi dan pandangan seperti demikian.
Barangkali Pramis endonesa seolah kehilangan jati diri sebagai orang yang ngintelek. Tokoh-tokoh yang gemar merokok dan dijadikan cover buku seolah interpretasi dari tingkat keintelektualan seseorang. Padahal teman-teman saya nggak begitu pinter-pinter banget. Bahkan ada yang sok intelek kalau ngrokok afdolnya ditemani kopi. Duh Gusti paringono ekstasi macam GusMul, sejak kapan logika kopi dan rokok tertanam dalam benak otak orang endonesa.


Sekali lagi. Rokok lagi-lagi tak pernah memberikan kemerdekaannya pada konsep toleransi dan empati pada para orang yang tak merokok-- yang alergi pada asap ketidak-adilan.
Konteks asap menjadi sangat logis bagi yang mendambakan kenyamanan. Mereka bebas melakukan aktivitas seperti mengawali pagi dengan sejuk-segarnya udara aroma embun yang natural tanpa polusi, lalu mencoba meneduhkan diri di bawah rindangnya pepohonan yang membikin hawa sepoi-sepoi nan adem oleh angin, berikut mengakhirinya dengan menikmati sayup-sayup keheningan hidung menghirup-hembus ketenangan alam bersama segelas teh dan senja. Inilah surga, bukan neraka! Surga bagi pendamba surga hahaha...


Di sisi lain telah dibangun gerakan-gerakan olahraga dengan sponsor merk rokok ternama, belum lagi rupiah-rupiah yang dialokasikan untuk dana beasiswa. Sungguh bijaknya pabrik rokok endonesa. Slalu ada plus minusnya! Mau menentang kok sayang, mau mendukung kok tak sesuai nurani... haduhh
Sekali lagi, saya kian mumet untuk berapologi pada ketidakadilan. Tapi realitasnya rokok membuat paradigma keadilan yang nyata. Ya itu, lewat sponsor-sponsor dan beasiswanya itu.
Akhirul kalam... bagi perokok silakan nimbun sebanyak-banyaknya, siapa tahu wacana yang lebih senang disebut hoax ini akan segera dibahas di meja DePeeR dan Presyiden dan dibuat surat keputusan! Modyar genti koen...


Untuk yang antirokok atau nggak merokok jangan sok sehat banget, ngerokoknya nggak, tapi konsumsi makanan sampah (junkfood), udah gitu nggak pernah olahraga, padahal tercemar asap kendaraan udah pasti. Wkwkwk ada keluhan sila nge-tweet di Twitter dengan tagar #tolakhargarokok50ribu vs #dukunghargarokok50ribu .  Tagar ini sempat jadi trending topic , loh...
Selamat berwacana!

*kredit foto: sumber -http://dayat-latuconsina.blogspot.co.id/

Rabu, 10 Agustus 2016

Perjumpaan dengan Waktu: Kenangan dan Tujuan

Setiap denting waktu memiliki maknanya tersendiri. Waktu terus berjalan, namun enggan untuk berhenti sejenak, bahkan untuk mengulang atau kembali ke denting sepersekian waktu yang telah lalu, waktu tak sudi untuk itu.
Usia terus bertambah, dengan simbolisasi numerik manusia masih bisa mengelak antara masih “muda atau tua” secara masif. Namun umur? Tak ada yang bisa membohongi umur. Karenanya umur menjadi salah satu misteri seseorang untuk berkehidupan. Logika pasti menunjukan kredo bahwa usia dan umur adalah dua entitas penting yang selalu berkaitan dengan waktu. Ia selalu hadir dalam kesempatan-kesempatan seorang manusia menciptakan peluang-peluang capaian selanjutnya.
Menuliskan ihwal “waktu” nyatanya tak akan perah selesai. Kemudian aku menjadi paham bagaimana waktu sangat berpengaruh terhadap gerak peradaban manusia dengan lingkungannya. Peradaban akan selalu berkembang menuju arah kemajuan, dan lingkungan menjadi bukti atau hasil produksi (dari peradaban) itu sendiri.

Aku mengenal waktu sudah lama. Ia selalu menemani setiap pergerakanku untuk menjalani semua rutinitas kehidupanku. Dari “waktu” aku mengenal apa itu masa lalu dan apa itu masa depan. Dari “waktu” pula aku menemukan makna kenangan dan apa itu tujuan.
Waktu mengilhami manusia untuk terus mempertimbangkan segala aspek antara rasio keberuntungan-kebermanfaaatn dan kerugian. Sehingga dari apa yang telah manusia dapatkan dari kerja usaha seseorang waktu akan ikut berperan menjadi faktor keberhasilan atau kegagalan. Dalam hal ini manusia kemudian dikenal sebagai mahluk yang terbukti memiliki akal dan pikiran. Tentu karena manusia terus berpikir!

Ketika tangan sedang bersalaman, terasa ada yang berbeda. Tangan itu sudah tak semulus dan sehalus dulu. Telapak tangan yang kasar menyimpan rahasia-rahasia yang selama ini ia sembunyikan dariku. Seperti biasa, mencium tangannya adalah sebuah keharusan dalam bersalaman. Tangan Ibu seperti berbicara padaku tentang harapan-harapannya. Tangan Ibu juga seperti telah merelakan anaknya untuk memulai penghidupan ke tahap yang lebih subtanstif. Tangan itu memaafkan segala laku salah maupun khilaf dari anaknya ini.
Kerutan di wajah, di bawah pipi dan sekitar kelopak mata, menandakan begitu banyak kenangan-kengan yang telah Ia ciptakan bersama keluarganya, tentu juga anaknya. Belum lagi berhelai-helai rambut yang memutih satu per satu. Ibu sudah tak lagi muda. Ibu sudah memulai fase kehidupan sebagi seseorang yang menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-cucunya. Begitulah seorang Ibu yang juga menjadi seorang nenek.
Tahukah kau apakah yang tak akan pernah lepas dan selalu mengikuti? Ya, Tuhan menciptakan waktu agar manusia memahami apakah ia akan hidup secara berguna atau binasa dengan sia-sia.
Pelan tapi pasti, jika diri ini masih sering melakukan kecerobohan yang sangat tak berlogika, sulit dimaafkan waktu, mulai sekarang bagaimana diri ini kembali bersahabat dengan waktu. Bukankah diri ini kelak ingin juga berharmoni dengan cukup waktu bersama Ibu?
Waktu....
Kepada waktu: 03.51 WIB Surakarta


Rabu, 13 Juli 2016

Sayang, Ben Tak Sempat Mampir ke PATABA



Sayang, Ben Tak Sempat Mampir ke PATABA

 Oleh: Soesilo Toer

HARI Minggu, 13 Desember lalu, banyak tamu yang berkunjung ke Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa). Dari Jepara, Pati, Cepu, dan Bojonegoro. Tidak biasa. Dan, tidak biasanya pula anak saya ikut nimbrung.
Sekitar pukul tiga sore, tiba-tiba anak saya nyeletuk: ’’Ben Anderson meninggal.’’ Bukan main saya kaget karena hari-hari sebelumnya saya asyik membaca buku Cantik itu Luka karangan Eka Kurniawan yang isinya didominasi cerita pembunuhan dan cinta.
Ini mimpi atau halusinasi buku yang membius tersebut. Sebab, anak saya menyebut nama ’’Ben’’, sedangkan dirinya sendiri juga bernama Ben.
Dan, saya lebih terkejut ketika dia menambah beritanya: ’’Di Batu, Malang.’’ Anak saya kemudian menyuguhkan handphone- nya supaya saya baca tulisan di sana. Dan, saya paham dan percaya. Berita lengkapnya, saya baca keesokan harinya di berbagai koran yang saya beli.
Saya kenal pribadi Ben Anderson sejak 1967 setamat Universitas Patrice Lumumba lewat migran Yahudi-Rusia yang tinggal di Belanda, Wertheim. Ketika berangkat studi ke Uni Soviet pada 1962 dan mampir ke rumah Pramoedya Ananta Toer untuk pamit, kebetulan saya bertemu Alimin yang sedang tetirah di sana.
Pram pesan supaya menghubungi Wertheim sambil menghadiahi saya jas bekas. Dari Wertheim-lah (yang Pram anggap sebagai guru spiritualnya) saya dikenalkan pada Ben Anderson dari Cornell, Ithaca, New York.
Hubungan korespondensi itu menjadi lebih intens ketika saya selesai ’’PKL’’ selama dua tahun di Institut Perekonomian Rakyat ’’Plekhanov’’, lalu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Hal itu sangat didukung, baik oleh Ben Anderson maupun Wertheim. Mereka mengirim bahan-bahan tentang Indonesia terbitan Cornell University. Berkat bantuan mereka berdua, saya selesai studi tepat waktu, bahkan lebih cepat setengah tahun karena saya punya ijazah penerjemah.
Yang unik, dalam surat Ben Anderson untuk saya, kadang-kadang diselipkan uang dolar Amerika. Kadang USD 50, bahkan USD 100. Tidak tahu kenapa. Mungkin dia ingin membantu karena saya adiknya Pram, sedang Ben Anderson mengagumi Pram. Dikiranya saya kurang biaya. Sedangkan dia sudah profesor yang katanya berpendapatan 10.000 dolar sebulan.
Mungkin Ben Anderson itu ke- na sindrom tantrum seperti Pram maupun saya sendiri, yaitu mengubah cita-cita menjadi lain dari keinginan. Dalam salah satu suratnya, dia bercerita sebenarnya ingin jadi pelukis kondang seperti Van Gogh atau Da Vinci.
Tapi, dia mengaku tak punya bakat. Ketika ubah jadi karikaturis pun, dia gagal karena ya… itu tadi –tak punya bakat. Dalam kegalauan dirinya sendiri itulah kemudian menemukan bidang penelitian dan aufklarung- nya sampai akhir hayatnya.
Dia banyak menulis tentang Indonesia. Yang jelas, dia tak pernah mengeluh tentang pekerjaan, apalagi tentang keluarganya. Siapa istrinya, berapa anaknya. Ketika saya selesai studi dan mau pulang ke Indonesia, dia pun tak komentar.
Berbeda dengan Wertheim. Dengan paspor baru, dia menganjurkan saya migrasi ke Belanda dan akan dicarikan pekerjaan di Perpustakaan Amsterdam bersamanya.
Sejak pulang, hubungan dengan teman-teman putus total. Ketika saya punya anak, langsung saya ingat pada Wertheim dan Ben Anderson. Sesudah saya timbang-timbang, nama Wertheim terlalu sulit. Maka, anak saya beri nama Ben.
Tapi, Benedict itu nama asing. Padahal, saya suku Jawa. Jadi, anak saya namai ’’Benee’’ –artinya biar atau biarlah– dengan pelengkap ’’Santoso’’ karena waktu kecil bapaknya hidup sengsara dan saya tak ingin kehidupan seperti itu terulang buat anak saya.
Saya puas mengenang Ben Anderson dengan memberi namanya pada anak saya. Segala bantuan dan kebaikan hatinya tak ternilai buat saya. Karena itu, saya terhenyak dan lari ke belakang untuk membuang ingus dan menghapus air mata ketika Ben bilang Ben meninggal.
Cuma ada satu yang membuat saya kecewa. Ketika bisa masuk ke Indonesia sesudah Orde Baru runtuh, Ben Anderson pernah mampir ke Blora untuk melihat Kali Lusi, tapi tak mampir ke PATABA.
Padahal, kali itu mengalir dari selatan sampai barat di mana PATABA berdiri dan jaraknya hanya sekitar 100 meter. Kalau mampir, akan saya paksa dia makan tahu lontong –makanan khas Blora– sebagai simbol lingga dan yoni.
Beda dengan Profesor Etien dari Prancis dan Profesor Koh Young Hoon dari Korea yang mampir ke PATABA, saya traktir sate. Siapa tahu Ben Anderson menemukan ilham baru dengan makanan tersebut.
Begitulah penutup tulisan untuk menambah lengkap tentang sosok manusia Ben Anderson, yang lahir di daratan China, jaya di Amerika, dan mengakhiri hidupnya di Nusantara.
Selamat jalan, Bapak Ben. Jasamu terpatri dalam diri anak saya yang juga bernama Ben. (*)
Saya puas mengenang Ben Anderson dengan memberi namanya pada anak saya. Segala bantuan dan kebaikan hatinya tak ternilai buat saya. Karena itu, saya terhenyak dan lari ke belakang untuk membuang ingus dan menghapus air mata ketika Ben bilang Ben
meninggal.”
*Penulis, pendiri PATABA
Dimuat di Jawa Pos 17 Desember  2015



 Fpto diambil dari akun Facebook Benee Santoso sang anak penulis, https://www.facebook.com/profile.php?id=100009151535951

Minggu, 03 Juli 2016

Cakra khan " Mencari Cinta Sejati " Ost Rudy Habibie

Hembusan angin meniup wajah alam
Mataku tak berkedip menatap langit
Terlalu luas tak bertepi pandang
Bisakah aku menyentuh awan

Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Engkau bukanlah sebuah kesalahan
Tak pernah aku menyesal mengenalmu
Tapi biarkanlah aku terbang bebas
Mencari cinta sejati

Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

RUDY HABIBIE

RUDY HABIBIE


Bocah itu semasa kecilnya dipanggil “Rudy”, lengkapnya Rudy Habibie hingga sampai berubah menjadi Bacharudin Jusuf Habibie. 

Kita semua mafhum kalau Eyang Habibie memiliki kecerdasan di atas rata-rata intelektual masyarakat Indonesia. Saya dan anda mesti begitu kagum padanya! Mesti. Karena apa? dalam film itu saya sering menemukan tiga ihwal “terpenting” yang menjadi bagian cerita film tersebut, yakni menyoal religiusitas, literasi, dan asmara yang terbingkai dalam intelektulaitas.
PERTAMA, intro dari film dibuka dengan kisah genting Rudy dan kakaknya yang tengah bermain di alam bebas, namun tiba-tiba datang pesawat-pesawat penjajah yang menjatuhkan bom hingga meluluhlantakan semua rumah-rumah yang ada disekitarnya. Ibu Rudy mengerti akan keadaan darurat seperti itu segera lari dari rumah untuk menyelamatkan diri dari serangan udara penjajah. Keluarga baik Ibu maupun Ayah Rudy tak sempat menyelamatkan satu benda pun. Hingga di tengah perjalanan antara lari-larian warga lain yang sibuk untuk menyelamatkan diri, di jalan, Rudy menanyakan pada Ibunya terkait barang-barang yang diselamatkan (dibawa) Ibunya. Ibu Rudy menjawab, tak ada satu barang pun yang diselamatkan.
Rudy tanpa pikir panjang langsung berlari memutar arah kembali pulang ke rumah untuk menyelamatkan barang yang dianggapnya penting. Tahukah barang apakah itu? Barang penting yang dimaksud adalah mainan kecil pesawat terbang dan satu buku! (karena tak mampu membawa semua buku-bukunya) Sejak kecil ia sudah candu dengan buku, barang yang selalu ia bawa adalah buku. Di sini terlihat jelas bagaimana literasi dalam hidup Habibie telah tertanam sebagaimana buku adalah jantung hidupnya.
Lain hal, Habibie yang mendapat kesempatan menjadi mahasiswa di Jerman juga senang membaca buku, buku yang dibaca pun adalah buku sastra Jerman. Habibie mengakui bahwa bahasa tersulit adalah bahasa Jerman. Namun itu tak menghalangi niatnya untuk bertekad belajar bahasa Jerman. Membaca dan kelancaran berbahasa teryata memiliki pengaruh besar bagi diri untuk berintelektual, sungguh!
KEDUA, Habibie hidup di perantauan sangat begitu memperhatikan pentingnya peran Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Tiap kali senang maupun susah, yang diingat adalah Allah. Ia salat dan bersujud untuk Allah. Suatu hari ia salat di bawah tangga karena di kampus itu tak ada masjid, dan ternyata ada mahasiswa jerman yang mengetahuinya sedang sujud, karena penasaran maka bule jerman itu bertanya pada Habibie tentang yang sedang dilakukannya. Barangkali sebagian dari kita jika disodorkan pertanyaan seperti itu maka jawabnya adalah dalil-dalil ayat perspektif perintah agama. Tidak dengan Habibie, Habibie menjawab pertanyaan bule tersebut dengan jawaban pendekatan ilmiah, jawabanya adalah: Semua umat muslim berdoa dengan bersujud, dengan sujud peredaran darah akan turun ke otak. Begitulah jawaban Habibie. Sungguh tak akan mungkin jika orang bule yang tak paham agama diberikan jawaban doktrinasi ayat kitab suci.
Habibie sangat responsive pada kebutuhan religiusitasnya. Mengingat bertahun-tahun mahasiswa muslim yang ada dikampusnya belajar, namun tak ada satu pun Masjid/Musholla tempatnya untuk beribadah. Habibie berinisiatif membuat petisi pembangunan masjid atas nama mahasiswa muslim. Begitu. Contoh toleransi yang diperlihatkan adalah karena tak ada masjid, maka Habibie pun berdoa di Gereja. Di gereja, Habibie juga bertemu Rama Y.B. Mangunwijaya yang kita kenal dengan karya buku fenomenalnya: Burung-burung manyar. Dari situ saya baru tahu kalau Habibie dan Rama Mangun hidup se-zaman. Artinya, religiusitas tau tingkat religius seseorang adalah modal bagi diri untuk bergerak menjalani hidup.
KETIGA, menyoal “asmara” Habibie menjadi ruang tak terbacakan oleh makna cinta. Artinya kisah asmara Habibie begitu luas dan dalam. Tak semudah dan tak se-menye-menye balada cinta mudawan-mudawati masa kini. Asmara Habibie-Ainun sangat langka, bandingannya 1: 1000 di Indonesia! Menyedihkan. .
Sebenarnya film “Rudy Habibie” ini lebih pantas disebut sebagai film presekuel. Maksudnya, film ini semestinya harus ditonton dulu sebelum film “Habibie – Ainun”. Latar belakang cerita yang mengarah pada throwback kisah sebelum memulai hidup dengan Hasri Ainun.
Di Jerman, Habibie menghadapi kisah cinta segitiga. Putri Solo yang sama-sama kuliah menyukai Habibie namun Habibie sendiri lebih menyukai ILLona seorang gadis Jerman yang ia temui di suatu acara. Habibie dan ILLona sama-sama mempunyai visi-misi hidup yang sama. Mereka sama-sama ingin hidup tak terbatasi oleh dunia, menjadi manusia merdeka lagi paripurna.
Sayang, takdir tetaplah takdir. ILLona mengerti bahwa Habibie berasal dari golongan taat agama (priyayi), sedangkan ILLona sendiri bukan muslimah. Walaupun ILLona mau pindah ke Indonesia dan menjadi Muslimah namun itu tak menjadikan cukup pengorbanan ILLona bisa diterima oleh Habibie. Karena bagi Habibie, pengorbanan yang sesungguhnya adalah mencintai Indonesia. Entah Soal Asmara Habibie sangat besar konfliknya. Asmara tak melulu pada cinta wanita namun juga Negara. Itu Habibie. Tonton langsung fimnya saja, deh. Poin pentingnya Habibie mencari cinta sejati tidak dengan kemudahan dan asal mengamini takdir dan mengaku aku padamu, milikmu, cintamu, dan sebagainya… Habibie lebih prinsipil dalam mendefinisikan Cinta. 


Selain ketiga entitas penting yang mengisi jalan cerita tersebut, saya ceritakan juga adegan penting dan beberapa quote yang menyebabkan karunia Tuhan berupa tetes air mata sempat minitik.

 - Adalah ketika Habibie menggantikan ayahnya menjadi imam salat yang tiba-tiba meninggal saat sujud (salat). Ayahnya yang sujud terlalu lama kemudian habibi melihat ayahnya sudah tak sadarkan diri dari sujud langsung mengambil posisi menjadi imam bagi kakak, adik, dan ibunya. Sungguh, keberanian yang luar biasa, mengingat habibie waktu itu masih kecil. Huhuhu
- Adalah ketika Habibie menuliskan puisi berjudul Sumpahku, sebagi nazar bahwa ia akan mengabdi bagi negeri jika ia diberikan kesempatan untuk sembuh dari penyakit TBC Tulang, dan kemudian melanjutkan program doctoral (S3)nya…
- Adalah ketika di ending cerita, Habibie menunjukan integritas sebagai warga Negara yang disiplin tanggungjawab. Habibie terpilih sebagai ketua PPI (suatu organisasi seluruh pelajar mahasiswa Indonesia di Eropa. Habibie mengagendakan “Seminar Pembangunan” untuk mempersiapkan SDM pasca proklamasi ke depan. Dalam hal itu ia jatuh bangun berpolemik dengan kedutaan KBRI yang mengancam dicabutnya paspor mahasiswa beasiswa milik teman-temannya di organisasi (Habibie ke Jerman pakai paspor sendiri karena bukan beasiswa dinas dari Negara). Walhasil sekian mengalami guncangan ancaman karena dianggap menganggu pemerintahan, seminar bisa diagendakan.,
- Yang terakhir adalah pesan dari ayahnya sbelum meninggal yang saya anggap sebagi filsofi terdalam dari film ini. Inilah pesan itu: Jadilah diri seperti mata air yang mengalir, mata air jika baik akan membuat sekelilingnya baik, bila kotor maka sekililingnya juga kotor. Namun untuk menjadi orang baik seperti layaknya mata air, kita harus ingat bahwa mata air ada karena sebab tanah yang bergeronjalan dan telah melewati proses sulit hingga muncul mata air itu sendiri. Artinya untuk menjadi orang baik yang bisa memberikan manfaat bagi sekitarnya, maka perlulah kita melewati masa-masa sulit dalam menjalani hidup. Begitu.
Pada film tersebut Habibie sempat memanggil kita sebagai anak masa depan, Habibie lantas mendefinisikan kita sebagai anak bangsa. Sekarang, Anak bangsa! Sudah berbudayakah kalian hari ini? Jangan biarkan ide-ide membeku, segera wujudkan dengan karya! :V :v
Lebih jelasnya silakan tonton film ini sebagai penginsafan dan motivasi Lebaran anda! :) :D

Rabu, 20 Januari 2016

Hujan dan 20 Januari.

Sore...

"setiap insan memiliki caranya sendiri untuk bisa hidup dengan bahagia. Termasuk mawar yang mencoba melindungi diri dengan duri, berbahagia dengan warna"

Hujan ini membawa beberapa ihwal duniawi berpadu dengan batiniah lahiriah.  Hujan, oleh beberapa umat manusia dicerna sebagai rahmat dan rejeki. Namun tak sedikit juga manusia yg merasa pekerjaanya terganggu oleh datangnya maka dianggaplah hujan: pembawa sial.

Tenang saja, itu hanya penjelasan uraian naluri nalariah dan hanya sebatas pandangan teoritis, tanpa perbandingan spekulatif subjektif pemandang hujan!

Di suatu malam sebelum hujan, aku sempat melihat wujud wajah itu. Tak asing, tapi begitu mengasingkan: menghadirkan kegelisahan dan menjauhkan rasa batin dari ragawi. Aku menghindar. Entah, itu mungkin karena respon sensor otak dan batin ini (terlalu) memekakan rasa. Jadi: aku pilih menghilang dari pandangan(mu) dan aku.

Kenaifan diri ini ketika teringat tokoh Hamka dalam buku-bukunya. Ranggawarsito dengan syairnya. Ibnu Batutah dengan pengalaman batiniahnya. Aku?

Ternyata: memang benar. Kau senang sekali menghidupkan rasa gembiramu. Bahagiamu. Kau sendiri ungkapkan gundah gelisah bahwa kau terlanjur sakit, dan kemudian mencoba baik-baik saja. Hei, soal ini aku memandang terlepas dari kehadiranku. Jika memang aku pernah hadir dalam hidupmu.  Sekali lagi kau mencoba baik-baik saja, untuk bahagia. Tapi kau (masih) gagal untuk itu. Dan aku? Aku bahagia dengan itu, artinya keterasingan diri dari rasa "nganu" bukan aku saja. Tapi juga kau. Iya kau! 
Sejenak aku teringat puisi dari karib saya. Ini menuliskan sajak hujan. Aku menghamba pada puisi itu. Karena dia (puisi itu) merepresentasikan aku yang dulu. Aku yang pernah mencoba membuka dan hadir dalam diam dan sepimu. Dan aku (masih) tak pernah berhasil mencobanya. Aku lebih sering terasing dalam keramaian batinmu. Banyak orang di sana. Seperti hujan ini. Puisi ini...

Jumat, 01 Januari 2016

Tahun Baru: Resolusi Buku!

(Se)buah Muqoddimah


"Scripta Manent Verba Volant"
(apa yang diucapkan akan berlalu, namun ihwal yang tertulis akan abadi)
 ***
"poken words fly away, written words remain"
(Kata-kata yang terucap terbang bersama angin, namun kata-kata yang tertulis tetap)
 ***
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)
***
"cogito ergo sum"
 (aku berpikir karena itu aku ada-Rene Descartes)
 ***
"scribo ergo sum"
 (aku menghasilkan tulisan karena itu aku ada- Robert Scholes)
***

 “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
(Imam Ali bin Abi Thalib, R.A.)
***
"Membaca Buku-Buku yang baik, berarti memberi makanan rohani yang baik"
(Buya Hamka)
***
"Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku"
(Bung Hatta)
 ***
"Ubah takdir dengan membaca dan menulis, buktikan ada kah orang-orang besar yang dilahirkan tanpa dengan membaca dan menulis"
(Suparta Brata) 
______________________________________________________________ 
Apa kabar?
semakin tua kah? 2016...

Ngobrolin tentang tahun baru 2016.  Barangkali kalian punya tradisi tersendiri untuk merayakannya. Termasuk aku. Tahun baru kali ini, aku memasuki tahun kedua diriku ber-cap “Mahasiswa”. Ada sedikit rasa aman disitu. Sedikit kataku. Karena masih banyak tanggungan daripada ketenangan untuk bersantai. Kalau saja teman-teman bisa berkumpul dengan sanak saudara. Aku tidak. Aku lebih menyendiri dari keramaian. Karena aku memang terbiasa hidup dengan kesepian. Sepi aku sendiri, begitu kata Dian S. Dalam puisinya. Haha
Maaf, Aku terlalu banyak meracau. Aku terbiasa meracau. Ngomong sendiri dan tidak penting. Itu lah karenanya aku menulis. Karena apa? Mereka yang menggugat apa yang aku katakan disini  adalah tulisan. Mereka atau bahkan kalian yang menggugat tulisan ku, sebaiknya gugatlah dengan tulisan. Biar adil. Hadehh, aku meracau lagi.
Sebenarnya aku ingin bicara ini: Resolusi Tahun Baru. Buku!

Beberapa bulan yang lalu. November, mungkin. Aku merampungkan bacaanku karangan Muhidin M. Dahlan dengan judul “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta”.
Aku menemukan banyak kalimat-kalimat persuasif yang menyadarkan kalbu dan akalku. Aku seperti dibangunan dari tidur panjangku mengenai dunia buku. Ya, aku telah dininabobokan gemerlap dunia hedonis- kalau di dunia ini masih ada buku.
Tahun Baru?
Apa yang kalian pikirkan dengannya?
Lihat kembang api, mercon, begadang, nonton pilem, liat tipi? Pendapatku, kesemua itu merupakan hal absurd. Tahu kan artinya “absurd”. Kalau tak tahu, coba deh buka kamus besar bahasa Indonesia.
Bukan munafik, sih. Kalau aku juga lihat kembang api saat jam 00.00 yang menandai pergantian tahun. Dari 2015 ke 2016. Tapi, menurutku itu tak menandai adanya perubahan yang mendasar dengan kehidupanku sebagai mahasiswa!
Aku berpikir bagaimana dengan “aku”. Jika orang-orang di sekitarku mulai membuat target-target di 2016. Kemudian cara untuk mencapainya, yang mereka sebut dengan “resolusi 2016”. Bagaimana dengan aku?
Oke kalau begitu, mari kita buat resolusi 2016. Yang aku namai “Resolusi Buku”
: adalah...
1.      Baca buku sebanyak-banyaknya, karena aku sadar semakin ke sini-2016. Aku semakin sadar sesadar-sadarnya kalau aku belum banyak membaca buku. Itu aku tahu karena aku belum banyak mengetahui hal-hal yang orang lain tahu. Kemudian, jika aku berkunjung ke Perpustakaan. Aku baru membaca buku 1/1000-nya. Masih banyak buku yang belum aku baca.
2.      Kalau aku sudah sembuh dari rabun membaca dan menulis. Aku juga harus punya bukunya. Apa, iya aku harus pinjam buku terus-terusan. Tidak kan?
3.      Target, beli buku. Kalau hidup sedang se-kere-kere-nya. Mau tidak mau. Bisa tidak bisa. Aku harus beli buku, minimal 2 buku lah dalam satu bulan.  (aja eman tuku buku)
4.      Menulis! Aku belum terlalu bisa menulis. Lihat saja, belum ada tulisanku yang dimuat di media. Bagiku menulis dan dimuat media adalah kebanggan tersendiri. Bukan karena bisa pamer. Tidak, sekali pun tidak. Karena bagiku, dengan menulis dan dimuat artinya, aku menulis untuk orang lain. Bukan untuk diri sendiri.
Demikian, karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggal saat aku menulis ini. Maka aku post sekalian saja. Dan aku buat tulisan ini sebagai tulisan bersambung. Masih ada lanjutanya. Tunggu sebentar ya...

 

#to-be-continue ... :D
Selamat ber-tanggal- 1
Selamat Ber-Januari- :D
Selamat Djajan Boekoe, selamat Djajan Ilmoe... haha