Sayang, Ben Tak Sempat Mampir
ke PATABA
Oleh: Soesilo Toer
HARI Minggu,
13 Desember lalu, banyak tamu yang berkunjung ke Perpustakaan PATABA (Pramoedya
Ananta Toer Anak Semua Bangsa). Dari Jepara, Pati, Cepu, dan Bojonegoro. Tidak
biasa. Dan, tidak biasanya pula anak saya ikut nimbrung.
Sekitar
pukul tiga sore, tiba-tiba anak saya nyeletuk: ’’Ben Anderson meninggal.’’
Bukan main saya kaget karena hari-hari sebelumnya saya asyik membaca buku
Cantik itu Luka karangan Eka Kurniawan yang isinya didominasi cerita pembunuhan
dan cinta.
Ini mimpi atau
halusinasi buku yang membius tersebut. Sebab, anak saya menyebut nama ’’Ben’’,
sedangkan dirinya sendiri juga bernama Ben.
Dan, saya
lebih terkejut ketika dia menambah beritanya: ’’Di Batu, Malang.’’ Anak saya
kemudian menyuguhkan handphone- nya supaya saya baca tulisan di sana. Dan, saya
paham dan percaya. Berita lengkapnya, saya baca keesokan harinya di berbagai
koran yang saya beli.
Saya kenal
pribadi Ben Anderson sejak 1967 setamat Universitas Patrice Lumumba lewat
migran Yahudi-Rusia yang tinggal di Belanda, Wertheim. Ketika berangkat studi
ke Uni Soviet pada 1962 dan mampir ke rumah Pramoedya Ananta Toer untuk pamit,
kebetulan saya bertemu Alimin yang sedang tetirah di sana.
Pram pesan
supaya menghubungi Wertheim sambil menghadiahi saya jas bekas. Dari
Wertheim-lah (yang Pram anggap sebagai guru spiritualnya) saya dikenalkan pada
Ben Anderson dari Cornell, Ithaca, New York.
Hubungan
korespondensi itu menjadi lebih intens ketika saya selesai ’’PKL’’ selama dua
tahun di Institut Perekonomian Rakyat ’’Plekhanov’’, lalu melanjutkan studi ke
jenjang yang lebih tinggi.
Hal itu
sangat didukung, baik oleh Ben Anderson maupun Wertheim. Mereka mengirim
bahan-bahan tentang Indonesia terbitan Cornell University. Berkat bantuan
mereka berdua, saya selesai studi tepat waktu, bahkan lebih cepat setengah
tahun karena saya punya ijazah penerjemah.
Yang unik,
dalam surat Ben Anderson untuk saya, kadang-kadang diselipkan uang dolar
Amerika. Kadang USD 50, bahkan USD 100. Tidak tahu kenapa. Mungkin dia ingin
membantu karena saya adiknya Pram, sedang Ben Anderson mengagumi Pram.
Dikiranya saya kurang biaya. Sedangkan dia sudah profesor yang katanya
berpendapatan 10.000 dolar sebulan.
Mungkin Ben
Anderson itu ke- na sindrom tantrum seperti Pram maupun saya sendiri, yaitu mengubah
cita-cita menjadi lain dari keinginan. Dalam salah satu suratnya, dia bercerita
sebenarnya ingin jadi pelukis kondang seperti Van Gogh atau Da Vinci.
Tapi, dia
mengaku tak punya bakat. Ketika ubah jadi karikaturis pun, dia gagal karena ya…
itu tadi –tak punya bakat. Dalam kegalauan dirinya sendiri itulah kemudian
menemukan bidang penelitian dan aufklarung- nya sampai akhir hayatnya.
Dia banyak
menulis tentang Indonesia. Yang jelas, dia tak pernah mengeluh tentang
pekerjaan, apalagi tentang keluarganya. Siapa istrinya, berapa anaknya. Ketika
saya selesai studi dan mau pulang ke Indonesia, dia pun tak komentar.
Berbeda
dengan Wertheim. Dengan paspor baru, dia menganjurkan saya migrasi ke Belanda
dan akan dicarikan pekerjaan di Perpustakaan Amsterdam bersamanya.
Sejak
pulang, hubungan dengan teman-teman putus total. Ketika saya punya anak,
langsung saya ingat pada Wertheim dan Ben Anderson. Sesudah saya
timbang-timbang, nama Wertheim terlalu sulit. Maka, anak saya beri nama Ben.
Tapi,
Benedict itu nama asing. Padahal, saya suku Jawa. Jadi, anak saya namai
’’Benee’’ –artinya biar atau biarlah– dengan pelengkap ’’Santoso’’ karena waktu
kecil bapaknya hidup sengsara dan saya tak ingin kehidupan seperti itu terulang
buat anak saya.
Saya puas
mengenang Ben Anderson dengan memberi namanya pada anak saya. Segala bantuan
dan kebaikan hatinya tak ternilai buat saya. Karena itu, saya terhenyak dan
lari ke belakang untuk membuang ingus dan menghapus air mata ketika Ben bilang
Ben meninggal.
Cuma ada
satu yang membuat saya kecewa. Ketika bisa masuk ke Indonesia sesudah Orde Baru
runtuh, Ben Anderson pernah mampir ke Blora untuk melihat Kali Lusi, tapi tak
mampir ke PATABA.
Padahal,
kali itu mengalir dari selatan sampai barat di mana PATABA berdiri dan jaraknya
hanya sekitar 100 meter. Kalau mampir, akan saya paksa dia makan tahu lontong
–makanan khas Blora– sebagai simbol lingga dan yoni.
Beda dengan
Profesor Etien dari Prancis dan Profesor Koh Young Hoon dari Korea yang mampir
ke PATABA, saya traktir sate. Siapa tahu Ben Anderson menemukan ilham baru
dengan makanan tersebut.
Begitulah
penutup tulisan untuk menambah lengkap tentang sosok manusia Ben Anderson, yang
lahir di daratan China, jaya di Amerika, dan mengakhiri hidupnya di Nusantara.
Selamat jalan,
Bapak Ben. Jasamu terpatri dalam diri anak saya yang juga bernama Ben. (*)
Saya puas
mengenang Ben Anderson dengan memberi namanya pada anak saya. Segala bantuan
dan kebaikan hatinya tak ternilai buat saya. Karena itu, saya terhenyak dan
lari ke belakang untuk membuang ingus dan menghapus air mata ketika Ben bilang
Ben
meninggal.”
*Penulis,
pendiri PATABA
Dimuat di Jawa Pos 17 Desember 2015
Fpto diambil dari akun Facebook Benee Santoso sang anak penulis, https://www.facebook.com/profile.php?id=100009151535951