Bocah itu semasa kecilnya dipanggil “Rudy”, lengkapnya Rudy Habibie hingga sampai berubah menjadi Bacharudin Jusuf Habibie.
Kita semua mafhum kalau Eyang Habibie memiliki kecerdasan di atas
rata-rata intelektual masyarakat Indonesia. Saya dan anda mesti begitu
kagum padanya! Mesti. Karena apa? dalam film itu saya sering menemukan
tiga ihwal “terpenting” yang menjadi bagian cerita film tersebut, yakni
menyoal religiusitas, literasi, dan asmara yang terbingkai dalam
intelektulaitas.
PERTAMA, intro dari film dibuka dengan kisah
genting Rudy dan kakaknya yang tengah bermain di alam bebas, namun
tiba-tiba datang pesawat-pesawat penjajah yang menjatuhkan bom hingga
meluluhlantakan semua rumah-rumah yang ada disekitarnya. Ibu Rudy
mengerti akan keadaan darurat seperti itu segera lari dari rumah untuk
menyelamatkan diri dari serangan udara penjajah. Keluarga baik Ibu
maupun Ayah Rudy tak sempat menyelamatkan satu benda pun. Hingga di
tengah perjalanan antara lari-larian warga lain yang sibuk untuk
menyelamatkan diri, di jalan, Rudy menanyakan pada Ibunya terkait
barang-barang yang diselamatkan (dibawa) Ibunya. Ibu Rudy menjawab, tak
ada satu barang pun yang diselamatkan.
Rudy tanpa pikir panjang langsung berlari memutar arah kembali pulang ke rumah untuk menyelamatkan barang yang dianggapnya penting. Tahukah barang apakah itu? Barang penting yang dimaksud adalah mainan kecil pesawat terbang dan satu buku! (karena tak mampu membawa semua buku-bukunya) Sejak kecil ia sudah candu dengan buku, barang yang selalu ia bawa adalah buku. Di sini terlihat jelas bagaimana literasi dalam hidup Habibie telah tertanam sebagaimana buku adalah jantung hidupnya.
Rudy tanpa pikir panjang langsung berlari memutar arah kembali pulang ke rumah untuk menyelamatkan barang yang dianggapnya penting. Tahukah barang apakah itu? Barang penting yang dimaksud adalah mainan kecil pesawat terbang dan satu buku! (karena tak mampu membawa semua buku-bukunya) Sejak kecil ia sudah candu dengan buku, barang yang selalu ia bawa adalah buku. Di sini terlihat jelas bagaimana literasi dalam hidup Habibie telah tertanam sebagaimana buku adalah jantung hidupnya.
Lain
hal, Habibie yang mendapat kesempatan menjadi mahasiswa di Jerman juga
senang membaca buku, buku yang dibaca pun adalah buku sastra Jerman.
Habibie mengakui bahwa bahasa tersulit adalah bahasa Jerman. Namun itu
tak menghalangi niatnya untuk bertekad belajar bahasa Jerman. Membaca
dan kelancaran berbahasa teryata memiliki pengaruh besar bagi diri untuk
berintelektual, sungguh!
KEDUA, Habibie hidup di perantauan
sangat begitu memperhatikan pentingnya peran Tuhan dalam perjalanan
hidupnya. Tiap kali senang maupun susah, yang diingat adalah Allah. Ia
salat dan bersujud untuk Allah. Suatu hari ia salat di bawah tangga
karena di kampus itu tak ada masjid, dan ternyata ada mahasiswa jerman
yang mengetahuinya sedang sujud, karena penasaran maka bule jerman itu
bertanya pada Habibie tentang yang sedang dilakukannya. Barangkali
sebagian dari kita jika disodorkan pertanyaan seperti itu maka jawabnya
adalah dalil-dalil ayat perspektif perintah agama. Tidak dengan Habibie,
Habibie menjawab pertanyaan bule tersebut dengan jawaban pendekatan
ilmiah, jawabanya adalah: Semua umat muslim berdoa dengan bersujud,
dengan sujud peredaran darah akan turun ke otak. Begitulah jawaban
Habibie. Sungguh tak akan mungkin jika orang bule yang tak paham agama
diberikan jawaban doktrinasi ayat kitab suci.
Habibie sangat
responsive pada kebutuhan religiusitasnya. Mengingat bertahun-tahun
mahasiswa muslim yang ada dikampusnya belajar, namun tak ada satu pun
Masjid/Musholla tempatnya untuk beribadah. Habibie berinisiatif membuat
petisi pembangunan masjid atas nama mahasiswa muslim. Begitu. Contoh
toleransi yang diperlihatkan adalah karena tak ada masjid, maka Habibie
pun berdoa di Gereja. Di gereja, Habibie juga bertemu Rama Y.B.
Mangunwijaya yang kita kenal dengan karya buku fenomenalnya:
Burung-burung manyar. Dari situ saya baru tahu kalau Habibie dan Rama
Mangun hidup se-zaman. Artinya, religiusitas tau tingkat religius
seseorang adalah modal bagi diri untuk bergerak menjalani hidup.
KETIGA, menyoal “asmara” Habibie menjadi ruang tak terbacakan oleh
makna cinta. Artinya kisah asmara Habibie begitu luas dan dalam. Tak
semudah dan tak se-menye-menye balada cinta mudawan-mudawati masa kini.
Asmara Habibie-Ainun sangat langka, bandingannya 1: 1000 di Indonesia!
Menyedihkan. .
Sebenarnya film “Rudy Habibie” ini lebih pantas
disebut sebagai film presekuel. Maksudnya, film ini semestinya harus
ditonton dulu sebelum film “Habibie – Ainun”. Latar belakang cerita yang
mengarah pada throwback kisah sebelum memulai hidup dengan Hasri Ainun.
Di Jerman, Habibie menghadapi kisah cinta segitiga. Putri Solo
yang sama-sama kuliah menyukai Habibie namun Habibie sendiri lebih
menyukai ILLona seorang gadis Jerman yang ia temui di suatu acara.
Habibie dan ILLona sama-sama mempunyai visi-misi hidup yang sama. Mereka
sama-sama ingin hidup tak terbatasi oleh dunia, menjadi manusia merdeka
lagi paripurna.
Sayang, takdir tetaplah takdir. ILLona mengerti
bahwa Habibie berasal dari golongan taat agama (priyayi), sedangkan
ILLona sendiri bukan muslimah. Walaupun ILLona mau pindah ke Indonesia
dan menjadi Muslimah namun itu tak menjadikan cukup pengorbanan ILLona
bisa diterima oleh Habibie. Karena bagi Habibie, pengorbanan yang
sesungguhnya adalah mencintai Indonesia. Entah Soal Asmara Habibie
sangat besar konfliknya. Asmara tak melulu pada cinta wanita namun juga
Negara. Itu Habibie. Tonton langsung fimnya saja, deh. Poin pentingnya
Habibie mencari cinta sejati tidak dengan kemudahan dan asal mengamini
takdir dan mengaku aku padamu, milikmu, cintamu, dan sebagainya…
Habibie lebih prinsipil dalam mendefinisikan Cinta.
Selain
ketiga entitas penting yang mengisi jalan cerita tersebut, saya
ceritakan juga adegan penting dan beberapa quote yang menyebabkan
karunia Tuhan berupa tetes air mata sempat minitik.
- Adalah
ketika Habibie menggantikan ayahnya menjadi imam salat yang tiba-tiba
meninggal saat sujud (salat). Ayahnya yang sujud terlalu lama kemudian
habibi melihat ayahnya sudah tak sadarkan diri dari sujud langsung
mengambil posisi menjadi imam bagi kakak, adik, dan ibunya. Sungguh,
keberanian yang luar biasa, mengingat habibie waktu itu masih kecil.
Huhuhu
- Adalah ketika Habibie menuliskan puisi berjudul
Sumpahku, sebagi nazar bahwa ia akan mengabdi bagi negeri jika ia
diberikan kesempatan untuk sembuh dari penyakit TBC Tulang, dan kemudian
melanjutkan program doctoral (S3)nya…
- Adalah ketika di ending
cerita, Habibie menunjukan integritas sebagai warga Negara yang disiplin
tanggungjawab. Habibie terpilih sebagai ketua PPI (suatu organisasi
seluruh pelajar mahasiswa Indonesia di Eropa. Habibie mengagendakan
“Seminar Pembangunan” untuk mempersiapkan SDM pasca proklamasi ke depan.
Dalam hal itu ia jatuh bangun berpolemik dengan kedutaan KBRI yang
mengancam dicabutnya paspor mahasiswa beasiswa milik teman-temannya di
organisasi (Habibie ke Jerman pakai paspor sendiri karena bukan beasiswa
dinas dari Negara). Walhasil sekian mengalami guncangan ancaman karena
dianggap menganggu pemerintahan, seminar bisa diagendakan.,
-
Yang terakhir adalah pesan dari ayahnya sbelum meninggal yang saya
anggap sebagi filsofi terdalam dari film ini. Inilah pesan itu: Jadilah
diri seperti mata air yang mengalir, mata air jika baik akan membuat
sekelilingnya baik, bila kotor maka sekililingnya juga kotor. Namun
untuk menjadi orang baik seperti layaknya mata air, kita harus ingat
bahwa mata air ada karena sebab tanah yang bergeronjalan dan telah
melewati proses sulit hingga muncul mata air itu sendiri. Artinya untuk
menjadi orang baik yang bisa memberikan manfaat bagi sekitarnya, maka
perlulah kita melewati masa-masa sulit dalam menjalani hidup. Begitu.
Pada film tersebut Habibie sempat memanggil kita sebagai anak masa
depan, Habibie lantas mendefinisikan kita sebagai anak bangsa. Sekarang,
Anak bangsa! Sudah berbudayakah kalian hari ini? Jangan biarkan ide-ide
membeku, segera wujudkan dengan karya! :V :v
Lebih jelasnya silakan tonton film ini sebagai penginsafan dan motivasi Lebaran anda! :) :D


0 komentar:
Posting Komentar