Sore...
"setiap insan memiliki caranya sendiri untuk bisa hidup dengan bahagia. Termasuk mawar yang mencoba melindungi diri dengan duri, berbahagia dengan warna"
Hujan ini membawa beberapa ihwal duniawi berpadu dengan batiniah lahiriah. Hujan, oleh beberapa umat manusia dicerna sebagai rahmat dan rejeki. Namun tak sedikit juga manusia yg merasa pekerjaanya terganggu oleh datangnya maka dianggaplah hujan: pembawa sial.
Tenang saja, itu hanya penjelasan uraian naluri nalariah dan hanya sebatas pandangan teoritis, tanpa perbandingan spekulatif subjektif pemandang hujan!
Di suatu malam sebelum hujan, aku sempat melihat wujud wajah itu. Tak asing, tapi begitu mengasingkan: menghadirkan kegelisahan dan menjauhkan rasa batin dari ragawi. Aku menghindar. Entah, itu mungkin karena respon sensor otak dan batin ini (terlalu) memekakan rasa. Jadi: aku pilih menghilang dari pandangan(mu) dan aku.
Kenaifan diri ini ketika teringat tokoh Hamka dalam buku-bukunya. Ranggawarsito dengan syairnya. Ibnu Batutah dengan pengalaman batiniahnya. Aku?
Ternyata: memang benar. Kau senang sekali menghidupkan rasa gembiramu. Bahagiamu. Kau sendiri ungkapkan gundah gelisah bahwa kau terlanjur sakit, dan kemudian mencoba baik-baik saja. Hei, soal ini aku memandang terlepas dari kehadiranku. Jika memang aku pernah hadir dalam hidupmu. Sekali lagi kau mencoba baik-baik saja, untuk bahagia. Tapi kau (masih) gagal untuk itu. Dan aku? Aku bahagia dengan itu, artinya keterasingan diri dari rasa "nganu" bukan aku saja. Tapi juga kau. Iya kau!
Sejenak aku teringat puisi dari karib saya. Ini menuliskan sajak hujan. Aku menghamba pada puisi itu. Karena dia (puisi itu) merepresentasikan aku yang dulu. Aku yang pernah mencoba membuka dan hadir dalam diam dan sepimu. Dan aku (masih) tak pernah berhasil mencobanya. Aku lebih sering terasing dalam keramaian batinmu. Banyak orang di sana. Seperti hujan ini. Puisi ini...

0 komentar:
Posting Komentar