Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Kamis, 27 Februari 2014

dariku puisiku untukmu ke kamu semuanya



Rupaku

Aku miskin
Tapi tak harap jadi kaya
Aku kecil hati
Tapi takut besar hati
Takut sombong mungkin
Biarlah rusa berlari
Sejauh dan sekencang mungkin
Disini penyu berjalan rintih
Tertinggal namun pasti
Mengiralah mereka paling sempurna
Namun aku cukup bersyukur
Mungkin diriku akan tetap
Tetap miskin kecil hati apa adanya
Mungkin itu aku
Bukan dirimu
Ahmad Alfi

Paradisaea minor, puisi di buletin jejak oleh FSB bekasi

Paradisaea minor

Kibasan sayap
Membuat efek pelangi di langit-langit
Asrikan hati bagi siapa saja yang melihat
Paduan warna kuning dan oranye padamu
Hasilkan kerlip cahaya bak emas
Terbang tinggi menuju langit ke tujuh
Bidadariku tinggal debu
Biodiversitas ini sungguh indah
Paradisaea minor senang atas biodiversitas
Bawa indahmu
Ketempat yang lebih indah
Cenderawasihku

Puisi Senyum tangis Hutan Blora / buletin jejak, FSB bekasi



Senyum tangis Hutan Blora

         Dulu
Langkahku menyapa semak belukar
Di pinggir tanah bebatuan
Menyusuri jalan setapak alas Jati
Sinar terang menerobos lewati
Celah rimbunan dedaunan Jati
Merayu kicauan burung derkuku menari-nari
Menatap rumput hijau berembun di bawahnya
Angin sepoi alas rimba jati terlihat bergoyang
Memberi senyum sejuk pada semua mata
Memperindah semua yang ada
Kini
Semua semak belukar tak mampu
Pura-pura jadi tembok terkuat oleh tangan-tangan jahil
Tiada jalan masuk untuk kaki melangkah penjarah kayu
Pohon jati gugurkan daunya di penghujan
Tangan jahil menggores tajam memotong batangnya
Tiada lagi kicauan dan tarian Derkuku
Hujan hanya jadi bencana
Ibarat Tangis hutan gundul
Esok
Kau akan lebat memperteduh kami
Dari terik dan derasnya hujan
Rimba Raya Rimba Raya
Senyum tangisanmu (Hutan Blora)


Puisi "Harapan Tinta Hitam Padamu (IBU)" / majalah gradasi bulan juni


Harapan Tinta Hitam
Padamu (IBU)

                                                                                                                                           
Lewat tinta hitam tak berdosa ini
Ku sampaikan padamu (IBU)
Tentang Angan-harapan Ananda Dewasa nanti
Tentang terimakasih beribu-ribu untukmu (IBU)
Tentang tangisan maaf diriku
Atas tindakan yang mungkin tak perlu
Kemudian jadi abu
Rengekan Kecil kan mandiri
Mencari materi jiwa sendiri
Bukankah akar wangi telah mewangi dengan sendirinya ?
apakah aku sebatang tebu ? yang terasa memahit
Semua itu bukan aku
Aku besar karnamu (IBU) yang mengajariku
Apa itu bijaksana ?
Apa itu kerja keras ?
Apa itu kasih sayang ?
(IBU) Kau buaatkan jalan lurus
Di antara jurang misteri
Yang tak pasti
Bersyukur ku terlahir dari Bidadari sepertimu
Namun Syukurku
Tertutupi oleh Sikapku yang tak menentu
Hingga buatmu marah
Ibu  maafkan segala kesalahan Ananda
Do’akan Ananda seputih salju Ibu
 Bukan Kemudian jadi abu
Mungkin mawar putih ini pantas untukmu Ibu
Sebagai tanda terimakasih
Hati yang Asih

Puisi di Majalah Gradasi semarang, Bulan Juni



Pemuda Indonesia
Bacalah Pesanku
                                                                                                                                          
Sepanjang mata memandang
Semua milik kita
Sejauh kaki melangkah
Jejak adalah kekuasaan
Kami anak muda
Selamatkan aset bangsa
Tinggal di bumi pertiwi
Beribu pulau adalah fakta
Bukan kami sombong
Atau tipuan belaka
Laut jadi pengisi perut
Pribadinya hilang di dasar laut
Tenggelam di samudra bangsaku
Melabuh ke pinggir hutan
Lalu kami berjumpa dengan mereka
Dan mereka titipkan salam dan pesan untuk kita

                “Ambilah gadingku, aku lebih ikhlas, ketimbang kau ambil hutanku,aku kawanku kan marah tak berumah”
                “Aku rela buluku di cabuti dan kau buat hiasan perapian ataupun sesukamu. Asal jangan kau cabut hutanku, aku disini hanya bisa menangis kedinginan”
Hembuskan nafas mengangguk
Lanjutkan perjalanan  Sepanjang mata memandang
sejauh kaki melangkah
Ini adalah kita,mereka dan aku
Mengucap janji soempah pemoeda
Dikala senja
Hormat pada SANG MERAH PUTIH
Tanah air INDONESIA yang ku banggakan