Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Rabu, 13 Juli 2016

Sayang, Ben Tak Sempat Mampir ke PATABA



Sayang, Ben Tak Sempat Mampir ke PATABA

 Oleh: Soesilo Toer

HARI Minggu, 13 Desember lalu, banyak tamu yang berkunjung ke Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa). Dari Jepara, Pati, Cepu, dan Bojonegoro. Tidak biasa. Dan, tidak biasanya pula anak saya ikut nimbrung.
Sekitar pukul tiga sore, tiba-tiba anak saya nyeletuk: ’’Ben Anderson meninggal.’’ Bukan main saya kaget karena hari-hari sebelumnya saya asyik membaca buku Cantik itu Luka karangan Eka Kurniawan yang isinya didominasi cerita pembunuhan dan cinta.
Ini mimpi atau halusinasi buku yang membius tersebut. Sebab, anak saya menyebut nama ’’Ben’’, sedangkan dirinya sendiri juga bernama Ben.
Dan, saya lebih terkejut ketika dia menambah beritanya: ’’Di Batu, Malang.’’ Anak saya kemudian menyuguhkan handphone- nya supaya saya baca tulisan di sana. Dan, saya paham dan percaya. Berita lengkapnya, saya baca keesokan harinya di berbagai koran yang saya beli.
Saya kenal pribadi Ben Anderson sejak 1967 setamat Universitas Patrice Lumumba lewat migran Yahudi-Rusia yang tinggal di Belanda, Wertheim. Ketika berangkat studi ke Uni Soviet pada 1962 dan mampir ke rumah Pramoedya Ananta Toer untuk pamit, kebetulan saya bertemu Alimin yang sedang tetirah di sana.
Pram pesan supaya menghubungi Wertheim sambil menghadiahi saya jas bekas. Dari Wertheim-lah (yang Pram anggap sebagai guru spiritualnya) saya dikenalkan pada Ben Anderson dari Cornell, Ithaca, New York.
Hubungan korespondensi itu menjadi lebih intens ketika saya selesai ’’PKL’’ selama dua tahun di Institut Perekonomian Rakyat ’’Plekhanov’’, lalu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Hal itu sangat didukung, baik oleh Ben Anderson maupun Wertheim. Mereka mengirim bahan-bahan tentang Indonesia terbitan Cornell University. Berkat bantuan mereka berdua, saya selesai studi tepat waktu, bahkan lebih cepat setengah tahun karena saya punya ijazah penerjemah.
Yang unik, dalam surat Ben Anderson untuk saya, kadang-kadang diselipkan uang dolar Amerika. Kadang USD 50, bahkan USD 100. Tidak tahu kenapa. Mungkin dia ingin membantu karena saya adiknya Pram, sedang Ben Anderson mengagumi Pram. Dikiranya saya kurang biaya. Sedangkan dia sudah profesor yang katanya berpendapatan 10.000 dolar sebulan.
Mungkin Ben Anderson itu ke- na sindrom tantrum seperti Pram maupun saya sendiri, yaitu mengubah cita-cita menjadi lain dari keinginan. Dalam salah satu suratnya, dia bercerita sebenarnya ingin jadi pelukis kondang seperti Van Gogh atau Da Vinci.
Tapi, dia mengaku tak punya bakat. Ketika ubah jadi karikaturis pun, dia gagal karena ya… itu tadi –tak punya bakat. Dalam kegalauan dirinya sendiri itulah kemudian menemukan bidang penelitian dan aufklarung- nya sampai akhir hayatnya.
Dia banyak menulis tentang Indonesia. Yang jelas, dia tak pernah mengeluh tentang pekerjaan, apalagi tentang keluarganya. Siapa istrinya, berapa anaknya. Ketika saya selesai studi dan mau pulang ke Indonesia, dia pun tak komentar.
Berbeda dengan Wertheim. Dengan paspor baru, dia menganjurkan saya migrasi ke Belanda dan akan dicarikan pekerjaan di Perpustakaan Amsterdam bersamanya.
Sejak pulang, hubungan dengan teman-teman putus total. Ketika saya punya anak, langsung saya ingat pada Wertheim dan Ben Anderson. Sesudah saya timbang-timbang, nama Wertheim terlalu sulit. Maka, anak saya beri nama Ben.
Tapi, Benedict itu nama asing. Padahal, saya suku Jawa. Jadi, anak saya namai ’’Benee’’ –artinya biar atau biarlah– dengan pelengkap ’’Santoso’’ karena waktu kecil bapaknya hidup sengsara dan saya tak ingin kehidupan seperti itu terulang buat anak saya.
Saya puas mengenang Ben Anderson dengan memberi namanya pada anak saya. Segala bantuan dan kebaikan hatinya tak ternilai buat saya. Karena itu, saya terhenyak dan lari ke belakang untuk membuang ingus dan menghapus air mata ketika Ben bilang Ben meninggal.
Cuma ada satu yang membuat saya kecewa. Ketika bisa masuk ke Indonesia sesudah Orde Baru runtuh, Ben Anderson pernah mampir ke Blora untuk melihat Kali Lusi, tapi tak mampir ke PATABA.
Padahal, kali itu mengalir dari selatan sampai barat di mana PATABA berdiri dan jaraknya hanya sekitar 100 meter. Kalau mampir, akan saya paksa dia makan tahu lontong –makanan khas Blora– sebagai simbol lingga dan yoni.
Beda dengan Profesor Etien dari Prancis dan Profesor Koh Young Hoon dari Korea yang mampir ke PATABA, saya traktir sate. Siapa tahu Ben Anderson menemukan ilham baru dengan makanan tersebut.
Begitulah penutup tulisan untuk menambah lengkap tentang sosok manusia Ben Anderson, yang lahir di daratan China, jaya di Amerika, dan mengakhiri hidupnya di Nusantara.
Selamat jalan, Bapak Ben. Jasamu terpatri dalam diri anak saya yang juga bernama Ben. (*)
Saya puas mengenang Ben Anderson dengan memberi namanya pada anak saya. Segala bantuan dan kebaikan hatinya tak ternilai buat saya. Karena itu, saya terhenyak dan lari ke belakang untuk membuang ingus dan menghapus air mata ketika Ben bilang Ben
meninggal.”
*Penulis, pendiri PATABA
Dimuat di Jawa Pos 17 Desember  2015



 Fpto diambil dari akun Facebook Benee Santoso sang anak penulis, https://www.facebook.com/profile.php?id=100009151535951

Minggu, 03 Juli 2016

Cakra khan " Mencari Cinta Sejati " Ost Rudy Habibie

Hembusan angin meniup wajah alam
Mataku tak berkedip menatap langit
Terlalu luas tak bertepi pandang
Bisakah aku menyentuh awan

Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Engkau bukanlah sebuah kesalahan
Tak pernah aku menyesal mengenalmu
Tapi biarkanlah aku terbang bebas
Mencari cinta sejati

Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganku
Senyumku melepaskan kau pergi

RUDY HABIBIE

RUDY HABIBIE


Bocah itu semasa kecilnya dipanggil “Rudy”, lengkapnya Rudy Habibie hingga sampai berubah menjadi Bacharudin Jusuf Habibie. 

Kita semua mafhum kalau Eyang Habibie memiliki kecerdasan di atas rata-rata intelektual masyarakat Indonesia. Saya dan anda mesti begitu kagum padanya! Mesti. Karena apa? dalam film itu saya sering menemukan tiga ihwal “terpenting” yang menjadi bagian cerita film tersebut, yakni menyoal religiusitas, literasi, dan asmara yang terbingkai dalam intelektulaitas.
PERTAMA, intro dari film dibuka dengan kisah genting Rudy dan kakaknya yang tengah bermain di alam bebas, namun tiba-tiba datang pesawat-pesawat penjajah yang menjatuhkan bom hingga meluluhlantakan semua rumah-rumah yang ada disekitarnya. Ibu Rudy mengerti akan keadaan darurat seperti itu segera lari dari rumah untuk menyelamatkan diri dari serangan udara penjajah. Keluarga baik Ibu maupun Ayah Rudy tak sempat menyelamatkan satu benda pun. Hingga di tengah perjalanan antara lari-larian warga lain yang sibuk untuk menyelamatkan diri, di jalan, Rudy menanyakan pada Ibunya terkait barang-barang yang diselamatkan (dibawa) Ibunya. Ibu Rudy menjawab, tak ada satu barang pun yang diselamatkan.
Rudy tanpa pikir panjang langsung berlari memutar arah kembali pulang ke rumah untuk menyelamatkan barang yang dianggapnya penting. Tahukah barang apakah itu? Barang penting yang dimaksud adalah mainan kecil pesawat terbang dan satu buku! (karena tak mampu membawa semua buku-bukunya) Sejak kecil ia sudah candu dengan buku, barang yang selalu ia bawa adalah buku. Di sini terlihat jelas bagaimana literasi dalam hidup Habibie telah tertanam sebagaimana buku adalah jantung hidupnya.
Lain hal, Habibie yang mendapat kesempatan menjadi mahasiswa di Jerman juga senang membaca buku, buku yang dibaca pun adalah buku sastra Jerman. Habibie mengakui bahwa bahasa tersulit adalah bahasa Jerman. Namun itu tak menghalangi niatnya untuk bertekad belajar bahasa Jerman. Membaca dan kelancaran berbahasa teryata memiliki pengaruh besar bagi diri untuk berintelektual, sungguh!
KEDUA, Habibie hidup di perantauan sangat begitu memperhatikan pentingnya peran Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Tiap kali senang maupun susah, yang diingat adalah Allah. Ia salat dan bersujud untuk Allah. Suatu hari ia salat di bawah tangga karena di kampus itu tak ada masjid, dan ternyata ada mahasiswa jerman yang mengetahuinya sedang sujud, karena penasaran maka bule jerman itu bertanya pada Habibie tentang yang sedang dilakukannya. Barangkali sebagian dari kita jika disodorkan pertanyaan seperti itu maka jawabnya adalah dalil-dalil ayat perspektif perintah agama. Tidak dengan Habibie, Habibie menjawab pertanyaan bule tersebut dengan jawaban pendekatan ilmiah, jawabanya adalah: Semua umat muslim berdoa dengan bersujud, dengan sujud peredaran darah akan turun ke otak. Begitulah jawaban Habibie. Sungguh tak akan mungkin jika orang bule yang tak paham agama diberikan jawaban doktrinasi ayat kitab suci.
Habibie sangat responsive pada kebutuhan religiusitasnya. Mengingat bertahun-tahun mahasiswa muslim yang ada dikampusnya belajar, namun tak ada satu pun Masjid/Musholla tempatnya untuk beribadah. Habibie berinisiatif membuat petisi pembangunan masjid atas nama mahasiswa muslim. Begitu. Contoh toleransi yang diperlihatkan adalah karena tak ada masjid, maka Habibie pun berdoa di Gereja. Di gereja, Habibie juga bertemu Rama Y.B. Mangunwijaya yang kita kenal dengan karya buku fenomenalnya: Burung-burung manyar. Dari situ saya baru tahu kalau Habibie dan Rama Mangun hidup se-zaman. Artinya, religiusitas tau tingkat religius seseorang adalah modal bagi diri untuk bergerak menjalani hidup.
KETIGA, menyoal “asmara” Habibie menjadi ruang tak terbacakan oleh makna cinta. Artinya kisah asmara Habibie begitu luas dan dalam. Tak semudah dan tak se-menye-menye balada cinta mudawan-mudawati masa kini. Asmara Habibie-Ainun sangat langka, bandingannya 1: 1000 di Indonesia! Menyedihkan. .
Sebenarnya film “Rudy Habibie” ini lebih pantas disebut sebagai film presekuel. Maksudnya, film ini semestinya harus ditonton dulu sebelum film “Habibie – Ainun”. Latar belakang cerita yang mengarah pada throwback kisah sebelum memulai hidup dengan Hasri Ainun.
Di Jerman, Habibie menghadapi kisah cinta segitiga. Putri Solo yang sama-sama kuliah menyukai Habibie namun Habibie sendiri lebih menyukai ILLona seorang gadis Jerman yang ia temui di suatu acara. Habibie dan ILLona sama-sama mempunyai visi-misi hidup yang sama. Mereka sama-sama ingin hidup tak terbatasi oleh dunia, menjadi manusia merdeka lagi paripurna.
Sayang, takdir tetaplah takdir. ILLona mengerti bahwa Habibie berasal dari golongan taat agama (priyayi), sedangkan ILLona sendiri bukan muslimah. Walaupun ILLona mau pindah ke Indonesia dan menjadi Muslimah namun itu tak menjadikan cukup pengorbanan ILLona bisa diterima oleh Habibie. Karena bagi Habibie, pengorbanan yang sesungguhnya adalah mencintai Indonesia. Entah Soal Asmara Habibie sangat besar konfliknya. Asmara tak melulu pada cinta wanita namun juga Negara. Itu Habibie. Tonton langsung fimnya saja, deh. Poin pentingnya Habibie mencari cinta sejati tidak dengan kemudahan dan asal mengamini takdir dan mengaku aku padamu, milikmu, cintamu, dan sebagainya… Habibie lebih prinsipil dalam mendefinisikan Cinta. 


Selain ketiga entitas penting yang mengisi jalan cerita tersebut, saya ceritakan juga adegan penting dan beberapa quote yang menyebabkan karunia Tuhan berupa tetes air mata sempat minitik.

 - Adalah ketika Habibie menggantikan ayahnya menjadi imam salat yang tiba-tiba meninggal saat sujud (salat). Ayahnya yang sujud terlalu lama kemudian habibi melihat ayahnya sudah tak sadarkan diri dari sujud langsung mengambil posisi menjadi imam bagi kakak, adik, dan ibunya. Sungguh, keberanian yang luar biasa, mengingat habibie waktu itu masih kecil. Huhuhu
- Adalah ketika Habibie menuliskan puisi berjudul Sumpahku, sebagi nazar bahwa ia akan mengabdi bagi negeri jika ia diberikan kesempatan untuk sembuh dari penyakit TBC Tulang, dan kemudian melanjutkan program doctoral (S3)nya…
- Adalah ketika di ending cerita, Habibie menunjukan integritas sebagai warga Negara yang disiplin tanggungjawab. Habibie terpilih sebagai ketua PPI (suatu organisasi seluruh pelajar mahasiswa Indonesia di Eropa. Habibie mengagendakan “Seminar Pembangunan” untuk mempersiapkan SDM pasca proklamasi ke depan. Dalam hal itu ia jatuh bangun berpolemik dengan kedutaan KBRI yang mengancam dicabutnya paspor mahasiswa beasiswa milik teman-temannya di organisasi (Habibie ke Jerman pakai paspor sendiri karena bukan beasiswa dinas dari Negara). Walhasil sekian mengalami guncangan ancaman karena dianggap menganggu pemerintahan, seminar bisa diagendakan.,
- Yang terakhir adalah pesan dari ayahnya sbelum meninggal yang saya anggap sebagi filsofi terdalam dari film ini. Inilah pesan itu: Jadilah diri seperti mata air yang mengalir, mata air jika baik akan membuat sekelilingnya baik, bila kotor maka sekililingnya juga kotor. Namun untuk menjadi orang baik seperti layaknya mata air, kita harus ingat bahwa mata air ada karena sebab tanah yang bergeronjalan dan telah melewati proses sulit hingga muncul mata air itu sendiri. Artinya untuk menjadi orang baik yang bisa memberikan manfaat bagi sekitarnya, maka perlulah kita melewati masa-masa sulit dalam menjalani hidup. Begitu.
Pada film tersebut Habibie sempat memanggil kita sebagai anak masa depan, Habibie lantas mendefinisikan kita sebagai anak bangsa. Sekarang, Anak bangsa! Sudah berbudayakah kalian hari ini? Jangan biarkan ide-ide membeku, segera wujudkan dengan karya! :V :v
Lebih jelasnya silakan tonton film ini sebagai penginsafan dan motivasi Lebaran anda! :) :D