Malam dan malam. Seorang lelaki pergi dari rumah menuju taman belakang. Menemui angin. Menyapa daun yang diterpa cahaya bulan. Lalu duduk di bangku menunggu balasan pesan. Tidak pernah ada kata benci untuk menunggu. Hanya, barangkali, bosan dengan ketidakpastian itu.
Di kereta, aku melihat seorang perempuan sendiri memeluk buku. Terpulas oleh mimpi yang menyandarkan kepalanya ke dinding jendela kereta; mata terpejam dan mimpi berterbangan. Di pemberhentian kedua ia bangun, ia tersenyum, tersadar, bahwa kereta ini tidak akan tepat waktu. Ya, tidak tepat waktu. Cinta memang tidak pernah tepat waktu. Kadang, beberapa hal bersifat tidak tepat waktu hanya untuk menemui cinta
Oh, Ya. Bunga-bunga indah itu pernah menjadi benih-benih yang ditanam dan dirawat. Kamu?
Rabu, 25 April 2018
Minggu, 15 April 2018
“Mengapa Pujangga-pujangga itu Begitu Mahir Merangkai Cerita Tentang Cinta yang Mereka Anggap Seolah Cinta Adalah Dewa Kehidupan yang Nyata.”
Sahabat.
Ini kali pertama aku memanggilmu sahabat, lain tidak. Aku belajar tentang arti cinta dari pujangga, maka aku pun belajar bagaimana bersahabat juga dari pujangga.
Ini kali pertama aku memanggilmu sahabat, lain tidak. Aku belajar tentang arti cinta dari pujangga, maka aku pun belajar bagaimana bersahabat juga dari pujangga.
Kau masih saja menyisakan cerita dalam sejarah hidup. Yang tertuliskan
dalam syair dan bait-bait puisi. Kau abadi di sana, tapi tidak di sini (di puisiku).
Kenapa tak kau tanyakan saja kepada para pujangga-pujangga yang mendewakan
cinta. Biar tahu, biar paham. Mengapa pujangga-pujangga yang kau maksud itu
merangkai cerita cinta mereka seapik mungkin.
Suara hati seorang kekasih tak sama dengan suara hati malaikat yang punya
surga. Apakah aku harus menghamba kepada cinta?
Ketahuilah sahabat, mereka para pujangga telah tersiksa dengan nestapa rasa. Mereka
ditelantarkan oleh cinta, terombang-ambing dalam rasa siksa. Itulah mengapa
sebabnya mereka mendongeng. Membangun cintanya lewat cerita. Karena dunia tak
berpihak padanya.
Tapi.... ada hal yang perlu diingat. “Cinta” bagi pujangga adalah gambaran kehidupan. Untuk apa mereka hidup, selain menghamba pada Tuhan dan menjalin cinta lalu membangun impian istana kehidupan dalam dunia kehidupan. Aku pun begitu, aku manusia dan kau juga manusia. Sama-sama punya rasa, sama-sama punya cinta. Tapi kita punya keinginan yang berbeda, aku harus melihat kau membangun cinta yang kau impikan dan kau mendoakan agar aku membuat syair-syair cinta seindah mungkin-menyenangkan diriku sendiri-menumbuhkan cinta kembali.
Tapi.... ada hal yang perlu diingat. “Cinta” bagi pujangga adalah gambaran kehidupan. Untuk apa mereka hidup, selain menghamba pada Tuhan dan menjalin cinta lalu membangun impian istana kehidupan dalam dunia kehidupan. Aku pun begitu, aku manusia dan kau juga manusia. Sama-sama punya rasa, sama-sama punya cinta. Tapi kita punya keinginan yang berbeda, aku harus melihat kau membangun cinta yang kau impikan dan kau mendoakan agar aku membuat syair-syair cinta seindah mungkin-menyenangkan diriku sendiri-menumbuhkan cinta kembali.
Aku harap kau mulai paham dengan hal ini. Jaga dirimu baik-baik. Jaga cinta
yang telah tumbuh kembang bersemi, bunga-bunga putih gunung turut mengikuti
harum bau masa depanmu. Jaga kepribadian anggun dirimu, senyum yang merekah
lagi tawa yang memecah gundah. Sahabat.....
Tentang Sore dan Masa Lalu.
Sudah lama pelangi tak muncul kembali. Aku pun rindu dengan hal itu. Namun sayang,
pelangi tak selamanya ada. Tak setiap saat menghias langit.
Aku pun berterimakasih padamu yang telah mengisi masa mudaku. Kau pula yang
mengajarkan akau bagaimana bercinta (menjadi cinta).
Ah, Aku yang selalu berharap kepada yang terpaksa. Aku mohon maaf, aku
hanyalah pengabdi syair yang menjunjung bagaimana cerita cinta itu ada.
Setidaknya kita telah berkenalan dengan rasa, yang menyisakan luka duka pun tawa.
Sampah.....
Setidaknya kita telah berkenalan dengan rasa, yang menyisakan luka duka pun tawa.
Sampah.....


