Malam dan malam. Seorang lelaki pergi dari rumah menuju taman belakang. Menemui angin. Menyapa daun yang diterpa cahaya bulan. Lalu duduk di bangku menunggu balasan pesan. Tidak pernah ada kata benci untuk menunggu. Hanya, barangkali, bosan dengan ketidakpastian itu.
Di kereta, aku melihat seorang perempuan sendiri memeluk buku. Terpulas oleh mimpi yang menyandarkan kepalanya ke dinding jendela kereta; mata terpejam dan mimpi berterbangan. Di pemberhentian kedua ia bangun, ia tersenyum, tersadar, bahwa kereta ini tidak akan tepat waktu. Ya, tidak tepat waktu. Cinta memang tidak pernah tepat waktu. Kadang, beberapa hal bersifat tidak tepat waktu hanya untuk menemui cinta
Oh, Ya. Bunga-bunga indah itu pernah menjadi benih-benih yang ditanam dan dirawat. Kamu?


0 komentar:
Posting Komentar