Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Rabu, 30 Mei 2018

??

Engkau pikir siapa yang memulai dan mengakhiri semua hal dengan penilaian. Tuhanmu telah memberi contoh antara hal yang baik dan buruk, salah dan benar, haq dan bathil, surga dan neraka. Semua itu adalah ruang-ruang pilihan yang ambivalen, selalu ada, dan kontradiksi, bukan?

Pelajaran filsafat di ruang kelas tidak memberiku pemahanan yang bertahan lama tentang konsep teori ontologi, epistimologi, maupun axiologi. Dari keseluruhan cabang filsafat, barangkali hanyalah axiologi yang mampu mampir ke ruang ingatanku --sebentar--untuk menyadarkanku bahwa penilaianlah yang sering digunakan kebanyakan orang.

Hanya sedikit orang yang mempelajari tentang kenapa sesuatu biasa "ada" atau mereka biasa menyebutnya ontologi, ketimbang axiologi  itu sendiri. Maka, aku tidak lagi heran ketika kujumpai beberapa orang, yang dia terkadang adalah sahabat sendiri; lebih sering menilai daripada menggambarkan.

Orang-orang lebih sering menggunakan akal pikirannya untuk menilai daripada hati untuk menggambarkan. Engkau tahu? Misalnya, si-A mengatakan bahwa si-B adalah tipe orang yang pendiam, kaku, sulit diajak bicara. Menurutku itu adalah contoh bahwa seseorang telah gagal menggambarkan (sesuai realitas) sedangkan sebenarnya ia baru sampai ke pada tahap penilaian. Ia gagal dalam menceritakan orang yang ia maksud ke dalam lingkaran representasi sesungguhnya. Ini seperti ketika orang Jawa yang mengatakan orang Madura itu Kasar dan sebaliknya Orang Madura mengira orang Jawa itu lelet. menggambarkan tak semudah itu.


0 komentar:

Posting Komentar