Dinding-dinding terasa dingin.
Lebih dingin dari ucapan dan senyum yang terlukis di wajahmu. Lantai-lantai tak
kalah licin, menjebak setiap kaki dan kalimat yang belum sempat terucap. Ada
apa denganmu? Melihatmu mencoba izin undur diri dari panggung sandiwaramu
sendiri. Apa kamu (sejak awal ) tidak menyadari bahwa kita telah berada di
ruang raung kepalsuan (yang kamu buat)? Kamu adalah catatan yang belum, atau
bahkan tidak akan kutulis di buku biruku. Menelan ludah sendirinya dan kamu tatap
kebohongan dalam-dalam pada dirimu.
Kamu tak akan kehilangan apa-apa,
sebab kita belum menanam apa-apa. Hari-hari berjalan lebih cepat dari biasanya.
Masih ada anak-anak yang sering bertanya kenapa Senin ke Minggu begitu lama,
tapi Minggu ke Senin begitu dekat sekali. Begitulah mereka menanyakan
ketidakmungkinan yang pasti. Mereka lebih sering menjalani hari-hari dengan
bermain petak umpet dengan sadar. Ya, mereka memainkannya dengan kejujuran.
Kamu kebohongan.
Aku sebut ini adalah puisi yang
hilang. Dan akhirnya berhasil ketemukan. Ia menyelinap di antara jari-jemarimu
yang lentik. Mewujud dalam kehalusan perkatan dan bias tatapmu. Hilang itu
menyenangkan, hanya kamu. Segera saja kuakui, ada satu hal yang terlewat darimu
dan diriku…
…
Solo, 11 Februari 2018

0 komentar:
Posting Komentar