Memo untuk Mangkuyudan
Senja kembali datang.
Seperti biasa mentari kembali. Kembali ke peraduannya.
Satu-satu anak manusia mulai mengambil air suci. Lepas hadast – sucilah
diri.
Satu-satu anak manusia berjalan ke surau. Pakai kopyah pakai sarung.
Datang untuk laksanakan seruan. Hidup bukan semata hanya gurauan.
Namun juga pengabdian. Seperti
mentari pergi pertanda berganti hari.
Hidup adakalanya harus pergi. Ketika pengabdian tak cukup lagi.
Amal ibadah yang akan dihitung kembali
Mangkuyudan,2015
Pengemis-Kamis
Aku tak pernah absen untuk hari ini. Kaleng atau besek
kecil cukup menemaniku. Pun kantong bekas permen usang. Berjelaga seluruh
wajah dan tubuh. Adalah keistimewaanku. Aku ada bukan untuk dikasihani. Ada
untuk kau sedekahi, membuktikan kalau kau masih punya hati. Aku ada juga bukan untuk dicaci dan dimaki apalagi kau
hina. Aku (ada) dan kau hidup
berada-semua serba ada. Hidupmu semena-mena, acuh padaku yang merana. Kamis-
aku datang tiap kamis. Dan kau panggil aku pengemis. Tanpa kau sadari kau
membuat sekat padaku dengan hari kamis.
Puwosari, 2015
Tong (_)
Sampah, kau buang tak tentu arah
Kau serakah
Sampah, kau biarkan berserakan
Seakan-akan kau lumrah
Bilang terserah
Sampah. Apa bedanya dengan kau...
Mojosongo,
2014
Hilang
Setiap yg menjadi
perkenalan, memberikan perenungan.
Dan itu selalu. Tidak
pernah tidak. Dan ini yang kesekiankalinya,
Sang Maha, menentukan
apa yang menjadi akhir dari sebab.
Doa terus menjadi
alasan untuk meminta.
" Tiada kata yang
paling baik untuk diucapkan dihari ini selain " Pulang".
Semoga hari ini hari
yang baik untuk "Pulang". Kembali kerumah.
Terimakasih atas
kunjungannya pada jiwa-jiwa yang melambai padamu.
Permintaan maaf atas
hadirmu sudah dikabulkan.
Tenang...
Pertalian masih ada. Doa menjadi penyambung kata demi kata...
Selamat Pulang, Sampai
Jumpa kembali.
Semarang, 2 Oktober 2015
: Purnama Pertama
Waktu
itu punama malam minggu, riang gembira raut wajahmu.Satu-satu langkahmu
mengayun pelan kepadaku. Kau lukiskan pula senyum untukku.
Kau
ajak aku mampir ke pasar triwindu, sekadar membeli ini itu. Lalu kau berikan
aku azimat, sebuah pertanda cinta kepadaku. Satu untukku dan satu untukmu.
Sepasang pertanda juga pertalian bahwa kita jadi satu.
Samar
ingatanku apa yang kau katakan kali itu. Teringat satu-satu langkahmu berjalan
mundur tinggalkanku. Kau pun lenyap diantara dua pohon beringin yang membelah
purnama.
Kau
lemparkan bungkusan kertas berisi azimat milikmu. Kau tuliskan pun disitu bait
puisi Sjumandjaja untukku “ Ku akan kembali saat purnama pertama sebelum
gerhana. Untuk mempertanyakan kembali cintanya. Bukan untuknya, bukan untukmu,
bukan untuk siapa, tapi untukku karena aku mencintaimu”
Surakarta,
2015

0 komentar:
Posting Komentar