Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Selasa, 28 Maret 2023

MEMO

 

Memo untuk Mangkuyudan

Senja kembali datang.

Seperti biasa mentari kembali. Kembali ke peraduannya.

Satu-satu anak manusia mulai mengambil air suci. Lepas hadast – sucilah diri.

Satu-satu anak manusia berjalan ke surau. Pakai kopyah pakai sarung.

Datang untuk laksanakan seruan. Hidup bukan semata hanya gurauan.

Namun juga pengabdian.  Seperti mentari pergi pertanda berganti hari.

Hidup adakalanya harus pergi. Ketika pengabdian tak cukup lagi.

Amal ibadah yang akan dihitung kembali

 

                                                                                                Mangkuyudan,2015

 

Pengemis-Kamis

Aku tak pernah absen untuk hari ini. Kaleng atau besek kecil cukup menemaniku. Pun kantong bekas permen usang. Berjelaga seluruh wajah dan tubuh. Adalah keistimewaanku. Aku ada bukan untuk dikasihani. Ada untuk kau sedekahi, membuktikan kalau kau masih punya hati. Aku ada juga  bukan untuk dicaci dan dimaki apalagi kau hina. Aku (ada) dan kau  hidup berada-semua serba ada. Hidupmu semena-mena, acuh padaku yang merana. Kamis- aku datang tiap kamis. Dan kau panggil aku pengemis. Tanpa kau sadari kau membuat sekat padaku dengan hari kamis.

 

                                                                                                Puwosari, 2015

 

Tong (_)

 

Sampah, kau buang tak tentu arah

Kau serakah

Sampah, kau biarkan berserakan

Seakan-akan kau lumrah

Bilang terserah

Sampah. Apa bedanya dengan kau...

 

                                                                        Mojosongo, 2014

 

 

 

Hilang

Setiap yg menjadi perkenalan, memberikan perenungan.

Dan itu selalu. Tidak pernah tidak. Dan ini yang kesekiankalinya,

Sang Maha, menentukan apa yang menjadi akhir dari sebab.

Doa terus menjadi alasan untuk meminta.

 

" Tiada kata yang paling baik untuk diucapkan dihari ini selain " Pulang".

Semoga hari ini hari yang baik untuk "Pulang". Kembali kerumah.

Terimakasih atas kunjungannya pada jiwa-jiwa yang melambai padamu.

Permintaan maaf atas hadirmu sudah dikabulkan.

Tenang...

Pertalian masih ada. Doa menjadi penyambung kata demi kata...

Selamat Pulang, Sampai Jumpa kembali.

 

Semarang, 2 Oktober 2015

 

: Purnama Pertama

Waktu itu punama malam minggu, riang gembira raut wajahmu.Satu-satu langkahmu mengayun pelan kepadaku. Kau lukiskan pula senyum untukku.

Kau ajak aku mampir ke pasar triwindu, sekadar membeli ini itu. Lalu kau berikan aku azimat, sebuah pertanda cinta kepadaku. Satu untukku dan satu untukmu. Sepasang pertanda juga pertalian bahwa kita jadi satu.

Samar ingatanku apa yang kau katakan kali itu. Teringat satu-satu langkahmu berjalan mundur tinggalkanku. Kau pun lenyap diantara dua pohon beringin yang membelah purnama.

Kau lemparkan bungkusan kertas berisi azimat milikmu. Kau tuliskan pun disitu bait puisi Sjumandjaja untukku “ Ku akan kembali saat purnama pertama sebelum gerhana. Untuk mempertanyakan kembali cintanya. Bukan untuknya, bukan untukmu, bukan untuk siapa, tapi untukku karena aku mencintaimu”

 

                                                                                                                        Surakarta, 2015

0 komentar:

Posting Komentar