Siang Seberang Istana
Oleh: Iwan Fals
Seorang anak kecil bertubuh dekil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan
Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja
Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata yang sudah terbiasa
Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaan yang ada
Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah diatas tubuh yang resah
Ribuan jerit didepan hidungmu (matamu)
Namun yang ku tahu tak terasa mengganggu
Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi sikecil siang tadi
Dia berdiri malas melangkahkan kaki
Diraihnya mimpi digenggam tak dilepaskan lagi
Tolong (! & ?)
Oleh Ahmad Alfi
“Tolong, anakku lapar. Tolong, tiga
hari katanya tak makan”
“Tolong, anakku sakit. Tolong, tiada biaya katanya untuk ke rumah sakit”
“Tolong, anakku belum tidur. Tolong jangan paksa usir tuk sekadar tidur”
Pada setiap insan manusia, kami
percaya mereka punya iba.
kepada iba yang menjadi isi hati, kami percaya mereka punya rasa.
kepada rasa dari hati dan jiwa, kami percaya mereka itu manusia.
Pada bangunan megah nan mewah kami
tersingkir-terusir.
Kepada lima ratus lantai yang berdiri sombong, kami minggir.
Kepada bangunan megah lima ratus lantai, keringat menjadi sebab kami
bernama orang pinggir...
Sombong sekali bangunan itu. Aku
percaya bangunan itu tak punya mata.
Sombong sekali gedung itu. Gedung rakus yang selalu makan dan tak pernah
mengabiskannya.
Sombong sekali lantai-lantai berkeramik berlian itu, bergelar tikar merah
bergelar derajat penghormatan.
Tolong, sekali lagi tolong
dengarkan....
Ada Kaleng susu bekas berkarat menjadi teman untuk sekarat
Gedung penghormatan

0 komentar:
Posting Komentar