Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Selasa, 28 Maret 2023

Tuhan Akhirnya Membalas Pesan-Pesanku

 

 


1/

Kamu yang selalu menanam prasangka ketika aku berjalan menuju surau sambil melantunkan syair-syair rindu untuk Tuhanku. Kepada Tuhan kamu katakan sesumpahan keberadaanku bukanlah bagian dari rencana-Mu. Kepada Tuhan aku mesti membela diri atas layaknya aku tetap ada di dalam renaca-rencana-Mu –sama seperti kamu katakan kepadaku berulang-ulang bahwa Tuhanmu tidak akan salah dalam menciptakanmu –meski aku bukanlah bagian dari nasib-nasib baik yang  direncanakan Tuhanku. Dan aku menerimanya; baik atau buruk. Tidak masalah.

2/

Kamu itu sudah tua, bukan anak kecil lagi. Bisakah kamu membedakan siapa aku dan siapa kamu? Biar orang berkata kamu sudah banyak makan banyak asam garam bukan berarti kamu menentukan jawaban atas pertanyaan: siapa aku? Bukan! Aku tetaplah aku. Dan kamu tetaplah kamu. Aku tidak akan pernah memaksamu untuk bisa menjadi “aku”. Aku selalu memaknai diriku adalah pintu yang membuka lebar-lebar menerima perbedaan antara aku, kamu, kita, dan mereka. Semuanya.

3/

Tuhanku akhirnya membalas pesan-pesanku yang aku kirimkan ketika pagi-pagi sekali sebelum semburat merah muncul di ufuk timur tiba. Tuhan hadir menjawab pertanyaanku di layar-layar kaca televisi, koran-koran pagi, majalah-majalah agama. Sekali lagi, Tuhan telah hadir sebagai kata-kata narasi yang  barangkali ingin agar aku selalu membaca narasi-Nya,  sekadar mafhum dan mau bersyukur kita bisa hidup di Indonesia. Iya, Indonesia, aku mengejanya ; in-do-ne-sia. Indonesia tempat syair-syair, warna-warna, rasa-rasa bisa bebas menjadi keindahan, bukan peperangan.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuhan Menulis Indonesia Sebagai Puisi

Orang-orang yang pergi ke pasar dan menyapa nenek bakul sayur-mayur adalah puisi. Orang-orang yang kemudian membeli sayurnya pula adalah puisi. Orang-orang yang kemudian memasak sayur itu dan dimakan bersama keluarga dan tetangganya adalah sekian puisi yang ditulis rapi. Sebenarnya, ada satu puisi yang benar-benar puisi, ditulis tanpa menggunakan tinta tanpa mengotori kertas; orang-orang yang membeli sayur pada nenek bakul sayur itu lalu memasaknya dan dimakan bersama keluarga juga tetangga, tanpa bertanya dan memandang tentang apa agama nenek bakul sayur itu, apa agama tetangganya, bagaimana wajah nenek bakul sayur itu juga bagaimana wajah tetangganya, dan bagaimana kondisi ekonomi keduanya.

Satu hal pasti, orang-orang yang saling berbagi dengan sesama adalah ketika Tuhan menulis Indonesia sebagai puisi.

TOLONG

 

Siang Seberang Istana

Oleh: Iwan Fals

Seorang anak kecil bertubuh dekil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan

Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja

Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata yang sudah terbiasa

Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaan yang ada

Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah diatas tubuh yang resah
Ribuan jerit didepan hidungmu (matamu)
Namun yang ku tahu tak terasa mengganggu

Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi sikecil siang tadi
Dia berdiri malas melangkahkan kaki
Diraihnya mimpi digenggam tak dilepaskan lagi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tolong (! & ?)
Oleh Ahmad Alfi

 

“Tolong, anakku lapar. Tolong, tiga hari katanya tak makan”
“Tolong, anakku sakit. Tolong, tiada biaya katanya untuk ke rumah sakit”
“Tolong, anakku belum tidur. Tolong jangan paksa usir tuk sekadar tidur”

Pada setiap insan manusia, kami percaya mereka punya iba.
kepada iba yang menjadi isi hati, kami percaya mereka punya rasa.
kepada rasa dari hati dan jiwa, kami percaya mereka itu manusia.

Pada bangunan megah nan mewah kami tersingkir-terusir.
Kepada lima ratus lantai yang berdiri sombong, kami minggir.
Kepada bangunan megah lima ratus lantai, keringat menjadi sebab kami bernama orang pinggir...

Sombong sekali bangunan itu. Aku percaya bangunan itu tak punya mata.
Sombong sekali gedung itu. Gedung rakus yang selalu makan dan tak pernah mengabiskannya.
Sombong sekali lantai-lantai berkeramik berlian itu, bergelar tikar merah bergelar derajat penghormatan.

Tolong, sekali lagi tolong dengarkan....
Ada Kaleng susu bekas berkarat menjadi teman untuk sekarat

Gedung penghormatan

 

 

SEORANG GADIS YANG ENTAH SIAPA TELAH AKU TUNGGU


 

 

Kamera cctv tidak pernah tidak untuk melihatku dari kejauhan. Kami saling bertemu dan melempar kata.

Tidak ada tawa yang gratis. Aku harus tersenyum. Menyenyumi diri sendiri

 

 

Solo, 14 Maret 2018   

MEMO

 

Memo untuk Mangkuyudan

Senja kembali datang.

Seperti biasa mentari kembali. Kembali ke peraduannya.

Satu-satu anak manusia mulai mengambil air suci. Lepas hadast – sucilah diri.

Satu-satu anak manusia berjalan ke surau. Pakai kopyah pakai sarung.

Datang untuk laksanakan seruan. Hidup bukan semata hanya gurauan.

Namun juga pengabdian.  Seperti mentari pergi pertanda berganti hari.

Hidup adakalanya harus pergi. Ketika pengabdian tak cukup lagi.

Amal ibadah yang akan dihitung kembali

 

                                                                                                Mangkuyudan,2015

 

Pengemis-Kamis

Aku tak pernah absen untuk hari ini. Kaleng atau besek kecil cukup menemaniku. Pun kantong bekas permen usang. Berjelaga seluruh wajah dan tubuh. Adalah keistimewaanku. Aku ada bukan untuk dikasihani. Ada untuk kau sedekahi, membuktikan kalau kau masih punya hati. Aku ada juga  bukan untuk dicaci dan dimaki apalagi kau hina. Aku (ada) dan kau  hidup berada-semua serba ada. Hidupmu semena-mena, acuh padaku yang merana. Kamis- aku datang tiap kamis. Dan kau panggil aku pengemis. Tanpa kau sadari kau membuat sekat padaku dengan hari kamis.

 

                                                                                                Puwosari, 2015

 

Tong (_)

 

Sampah, kau buang tak tentu arah

Kau serakah

Sampah, kau biarkan berserakan

Seakan-akan kau lumrah

Bilang terserah

Sampah. Apa bedanya dengan kau...

 

                                                                        Mojosongo, 2014

 

 

 

Hilang

Setiap yg menjadi perkenalan, memberikan perenungan.

Dan itu selalu. Tidak pernah tidak. Dan ini yang kesekiankalinya,

Sang Maha, menentukan apa yang menjadi akhir dari sebab.

Doa terus menjadi alasan untuk meminta.

 

" Tiada kata yang paling baik untuk diucapkan dihari ini selain " Pulang".

Semoga hari ini hari yang baik untuk "Pulang". Kembali kerumah.

Terimakasih atas kunjungannya pada jiwa-jiwa yang melambai padamu.

Permintaan maaf atas hadirmu sudah dikabulkan.

Tenang...

Pertalian masih ada. Doa menjadi penyambung kata demi kata...

Selamat Pulang, Sampai Jumpa kembali.

 

Semarang, 2 Oktober 2015

 

: Purnama Pertama

Waktu itu punama malam minggu, riang gembira raut wajahmu.Satu-satu langkahmu mengayun pelan kepadaku. Kau lukiskan pula senyum untukku.

Kau ajak aku mampir ke pasar triwindu, sekadar membeli ini itu. Lalu kau berikan aku azimat, sebuah pertanda cinta kepadaku. Satu untukku dan satu untukmu. Sepasang pertanda juga pertalian bahwa kita jadi satu.

Samar ingatanku apa yang kau katakan kali itu. Teringat satu-satu langkahmu berjalan mundur tinggalkanku. Kau pun lenyap diantara dua pohon beringin yang membelah purnama.

Kau lemparkan bungkusan kertas berisi azimat milikmu. Kau tuliskan pun disitu bait puisi Sjumandjaja untukku “ Ku akan kembali saat purnama pertama sebelum gerhana. Untuk mempertanyakan kembali cintanya. Bukan untuknya, bukan untukmu, bukan untuk siapa, tapi untukku karena aku mencintaimu”

 

                                                                                                                        Surakarta, 2015

Beranda Cerita


Separuh diriku adalah kelelahan di sore hari. Separuhnya lagi adalah yang membangunkanku dari mata  terpejam di semburat mentari.

Kini, bukan diriku lagi yang menanam tanpa pupuk bunga-bunga gagal kembang. Beberapa di antaranya hanya bertunas malu. Tunas gagal yang tak pernah akan percaya pada tubuh tumbunya.

Manusia-manusia sepertiku akan hanya menjadi hama bagi kerinduan. Bunga-bunga tak kembang. Burung-burung hanya bersangkar. Dan kupu-kupu merasa hidup adalah ketidakadilan.

Kini, bukan diriku lagi yang menanam tanpa pupuk kebahagiaan. Aku muncul dari pintu yang ada dan baru. 

 

24/5/2019

 

 

Aku Sebut Ini Adalah Puisi Yang Hilang

 

Dinding-dinding terasa dingin. Lebih dingin dari ucapan dan senyum yang terlukis di wajahmu. Lantai-lantai tak kalah licin, menjebak setiap kaki dan kalimat yang belum sempat terucap. Ada apa denganmu? Melihatmu mencoba izin undur diri dari panggung sandiwaramu sendiri. Apa kamu (sejak awal ) tidak menyadari bahwa kita telah berada di ruang raung kepalsuan (yang kamu buat)? Kamu adalah catatan yang belum, atau bahkan tidak akan kutulis di buku biruku.  Menelan ludah sendirinya dan kamu tatap kebohongan dalam-dalam pada dirimu.

Kamu tak akan kehilangan apa-apa, sebab kita belum menanam apa-apa. Hari-hari berjalan lebih cepat dari biasanya. Masih ada anak-anak yang sering bertanya kenapa Senin ke Minggu begitu lama, tapi Minggu ke Senin begitu dekat sekali. Begitulah mereka menanyakan ketidakmungkinan yang pasti. Mereka lebih sering menjalani hari-hari dengan bermain petak umpet dengan sadar. Ya, mereka memainkannya dengan kejujuran. Kamu kebohongan.

Aku sebut ini adalah puisi yang hilang. Dan akhirnya berhasil ketemukan. Ia menyelinap di antara jari-jemarimu yang lentik. Mewujud dalam kehalusan perkatan dan bias tatapmu. Hilang itu menyenangkan, hanya kamu. Segera saja kuakui, ada satu hal yang terlewat darimu dan diriku…

 

Solo, 11 Februari 2018   

Rabu, 30 Mei 2018

??

Engkau pikir siapa yang memulai dan mengakhiri semua hal dengan penilaian. Tuhanmu telah memberi contoh antara hal yang baik dan buruk, salah dan benar, haq dan bathil, surga dan neraka. Semua itu adalah ruang-ruang pilihan yang ambivalen, selalu ada, dan kontradiksi, bukan?

Pelajaran filsafat di ruang kelas tidak memberiku pemahanan yang bertahan lama tentang konsep teori ontologi, epistimologi, maupun axiologi. Dari keseluruhan cabang filsafat, barangkali hanyalah axiologi yang mampu mampir ke ruang ingatanku --sebentar--untuk menyadarkanku bahwa penilaianlah yang sering digunakan kebanyakan orang.

Hanya sedikit orang yang mempelajari tentang kenapa sesuatu biasa "ada" atau mereka biasa menyebutnya ontologi, ketimbang axiologi  itu sendiri. Maka, aku tidak lagi heran ketika kujumpai beberapa orang, yang dia terkadang adalah sahabat sendiri; lebih sering menilai daripada menggambarkan.

Orang-orang lebih sering menggunakan akal pikirannya untuk menilai daripada hati untuk menggambarkan. Engkau tahu? Misalnya, si-A mengatakan bahwa si-B adalah tipe orang yang pendiam, kaku, sulit diajak bicara. Menurutku itu adalah contoh bahwa seseorang telah gagal menggambarkan (sesuai realitas) sedangkan sebenarnya ia baru sampai ke pada tahap penilaian. Ia gagal dalam menceritakan orang yang ia maksud ke dalam lingkaran representasi sesungguhnya. Ini seperti ketika orang Jawa yang mengatakan orang Madura itu Kasar dan sebaliknya Orang Madura mengira orang Jawa itu lelet. menggambarkan tak semudah itu.


Rabu, 25 April 2018

SEPERTI BENIH YANG KAMU TANAM, IA PERLU DIRAWAT DAN DISIRAM

Malam dan malam. Seorang lelaki pergi dari rumah menuju taman belakang. Menemui angin. Menyapa daun yang diterpa cahaya bulan. Lalu duduk di bangku menunggu balasan pesan. Tidak pernah ada kata benci untuk menunggu. Hanya, barangkali, bosan dengan ketidakpastian itu.


Di kereta, aku melihat seorang perempuan sendiri memeluk buku. Terpulas oleh mimpi yang menyandarkan kepalanya ke dinding jendela kereta; mata terpejam dan mimpi berterbangan. Di pemberhentian kedua ia bangun, ia tersenyum, tersadar, bahwa kereta ini tidak akan tepat waktu. Ya, tidak tepat waktu. Cinta memang tidak pernah tepat waktu. Kadang, beberapa hal bersifat tidak tepat waktu hanya untuk menemui cinta

Oh, Ya. Bunga-bunga indah itu pernah menjadi benih-benih yang ditanam dan dirawat. Kamu?


Minggu, 15 April 2018

“Mengapa Pujangga-pujangga itu Begitu Mahir Merangkai Cerita Tentang Cinta yang Mereka Anggap Seolah Cinta Adalah Dewa Kehidupan yang Nyata.”



Sahabat. 

Ini kali pertama aku memanggilmu sahabat, lain tidak. Aku belajar tentang arti cinta dari pujangga, maka aku pun belajar bagaimana bersahabat juga dari pujangga.
Kau masih saja menyisakan cerita dalam sejarah hidup. Yang tertuliskan dalam syair dan bait-bait puisi. Kau abadi di sana, tapi tidak di sini (di puisiku).
Kenapa tak kau tanyakan saja kepada para pujangga-pujangga yang mendewakan cinta. Biar tahu, biar paham. Mengapa pujangga-pujangga yang kau maksud itu merangkai cerita cinta mereka seapik mungkin.
Suara hati seorang kekasih tak sama dengan suara hati malaikat yang punya surga. Apakah aku harus menghamba kepada cinta?

Ketahuilah sahabat, mereka para pujangga telah tersiksa dengan nestapa rasa. Mereka ditelantarkan oleh cinta, terombang-ambing dalam rasa siksa. Itulah mengapa sebabnya mereka mendongeng. Membangun cintanya lewat cerita. Karena dunia tak berpihak padanya. 


Tapi.... ada hal yang perlu diingat. “Cinta” bagi pujangga adalah gambaran kehidupan. Untuk apa mereka hidup, selain menghamba pada Tuhan dan menjalin cinta lalu membangun impian istana kehidupan dalam dunia kehidupan. Aku pun begitu, aku manusia dan kau juga manusia. Sama-sama punya rasa, sama-sama punya cinta. Tapi kita punya keinginan yang berbeda, aku harus melihat kau membangun cinta yang kau impikan dan kau mendoakan agar aku membuat syair-syair cinta seindah mungkin-menyenangkan diriku sendiri-menumbuhkan cinta kembali.

Aku harap kau mulai paham dengan hal ini. Jaga dirimu baik-baik. Jaga cinta yang telah tumbuh kembang bersemi, bunga-bunga putih gunung turut mengikuti harum bau masa depanmu. Jaga kepribadian anggun dirimu, senyum yang merekah lagi tawa yang memecah gundah. Sahabat.....

Tentang Sore dan Masa Lalu.
Sudah lama pelangi tak muncul kembali. Aku pun rindu dengan hal itu. Namun sayang, pelangi tak selamanya ada. Tak setiap saat menghias langit.
Aku pun berterimakasih padamu yang telah mengisi masa mudaku. Kau pula yang mengajarkan akau bagaimana bercinta (menjadi cinta). 
Ah, Aku yang selalu berharap kepada yang terpaksa. Aku mohon maaf, aku hanyalah pengabdi syair yang menjunjung bagaimana cerita cinta itu ada.

Setidaknya kita telah berkenalan dengan rasa, yang menyisakan luka duka pun tawa. 


Sampah.....

Minggu, 11 Februari 2018

TANDA SETIA PADA PAGI

Selamat pagi…
Pagi ini tak ada lembaran-lembaran rindu yang tertulis. Sebab, kita sedang sama-sama menatap layar gawai mengamati bagaimana dunia ini berjalan, berkembang, dan memoles dirinya.

Pagi ini tak ada kopi yang mendinginkan isi kepala. Pagi ini tak ada secangkir teh yang menjernihkan anganku. Kita melangkah menengok ke jendela sebentar lalu hilang. Setiap nafas yang terhembus adalah kenikmatan ruhani, bersamamu.
Selamat pagi… rutinitas pagi menyambut pagimu. Aku harap ini bukanlah apa-apa yang sedang ditanam. Sampai akhirnya kita sadar tak pernah kehilangan apapun yang sebenarnya tidak aku tanam.

Burung berkicau, tanda setia pada pagi

Puisi tak menyalamatkan apapun selain kata-kata. Kamu masih saja bertanya apa saja pertanda dan penanda.  Syair. Burung-burung terbang untuk pergi dan kembali.. Ku harap setia pada pagi itu tak sulit.


Gerimis Pagi, Solo, 12 Februari 2018

Jumat, 09 Februari 2018

Sabar dan Jalani!

Kau tahu, aku dilahirkan tidak dengan kemudahan. Aku tumbuh pun membersamai kesulitan-kesulitan di hidupku. Meskipun begitu, bukan berarti aku akan hidup dengan seluruh kesulitan -selamanya. Tidak. Bukan. Aku hidup dengan kemurahan yang diberikan Tuhanku, Allah. Allah menjamin kebahagiaan hambanya, ciptaannya, aku.

Allah Maha Bahagia. Tentu aku akan mendapatkan jatah kebahagiaanku sendiri. Pun semua orang miliki jatah bahagianya masing-masing. Tapi, bahagia tidak bisa didapat begitu saja. Kau tahu, kita ini hidup di dunia. Di mana di setiap kata sifat memiliki kebalikannya. Ada suka ada benci. Ada manis ada pahit. Ada cahaya ada kegelapan. Dan masih banyak lagi kata-kata di dunia ini yang memiliki kebalikan. Termasuk bahagia. Barangkali, atau mestinya, kau bisa bahagia jika kau pernah merasakan sedih. Iya, suatu perasaan di hatimu yang  membuatnya gelisah, tidak nyaman, pikiran kacau, belum lagi saraf matamu dan hatimu yang terhubung melalui perasaan membuatmu kadangkala meneteskan air mata.

Maksudku, kau akan bahagia jika kau pernah mengalami kesulitan-kesulitan. Dan kau tahu? Kesulitan itu hanya bisa ditaklukan oleh dua hal; sabar dan dijalani. Ya, kadang kita merasa apa yang sedang terjadi sama sekali tidak berpijak pada kehendak kita. Situasi dan kondisi memutar balik keinginan. Tidak ada keberpihakan di sana. Sewaktu kita lahir, apakah Tuhan memberi bekal kita di dunia?  Jawabnya adalah iya. Tuhan memberkati kita dengan akal yang kita miliki. Tuhan menaruh berbagai rasa dan semangat di hati. Kadang aku berpikir apa bedanya hati dan akal. Saat kita sedih, saat kita bahagia, perasaan-perasaan tempatnya tidak bisa kita ketahui, tapi bisa dirasakan.

Ahh.. bingung ku menjelaskannya. Jadi maksudku bekal yang diberi Tuhan itu adalah kekuatan besar. Cuma kesalahan kita adalah memisah kekuatan itu. Kita perlu menyatukan hati dan akal; agar kita kuat...


Alfiahmad, Solo, 6 Februari 2018.

Minggu, 04 Februari 2018

SETIAP ANAK TERLAHIR UNTUK MEMULAI, ORANG TUA TERUS BERJALAN UNTUK MENGAKHIRI, DAN KITA YANG KEBINGUNGAN UNTUK DIAM ATAU MELANJUTKAN

Ini adalah semester baru. Semester enam. Di semester ini aku hanya mendapat jatah dua hari untuk berangkat ke kampus. Aku mendapat banyak hari-hari untuk waktu luang, kosong, nirkegiatan. Tapi, bukan berarti aku menganggur. Bukan. Aku hanya menyebut ini dengan istilah "jatah istirahat". Ya, kau tahu, semester lima kemarin adalah semester ternggilani yang ku jalani. Banyak kegiatan hanya di kampus dan sisanya di pondok. Aku merasa menyesal ada kata "sisa" di sana. Sebab tanggungjawab yang mestinya menjadi prioritas malah menjadi kata "sisa". Sungguh, itu tidak baik, tapi itu juga bukan keinginanku. Semester lima benar-benar menghabiskan waktu dan pikiranku. Proyek drama di jurusan, penelitian yang gagal, makalah-makalah, belum urusan event-event di pondok. Dari semua itu aku sebenarnya sangat senang dengan kegiatan pondok. Cukup mengibur-lalaikanku dari tugas-tugas perkuliahan. 

Semester enam barangkali akan mengubah (sedikit) pola berkehidupanku. Banyak waktu yang berpotensi menjadi bibit-bibit bermalas-malasan. Aku tahu itu. Aku sendiri sangat mudah oleh itu. Biasanya, jika aku sudah betrmalas-malasan pilihannya hanya satu : kombinasi antara kasur, gawai, beberapa film, buku puisi, dan seperangkat makanan minuman adalah keniscayaan. Hiduplah orang malas...

Seperti itu jangan dicontoh. Aku menulis ini hanya karena aku ingin ada catatan bahwa aku tidak benar-benar sebagai pribadi yang rajin-rajin sekali. Sama. Kita semua adalah manusia yang sebagian hatinya di huni balas dendam iblis kepada Adam. Maka dari itu kalau ada orang yang menilaiku dengan mudah hanya sehari-sekali-seperkedipan-sepenglihatan-sehembusan itu artinya orang itu tidak bernar-benar menilai. Ia melewatkan validitas data yang ada. Sebenarnya ia gagal menilai. Jadi, jangan mudah menilai. 

Semester satu, dua, tiga, empat, dan lima memiliki puncak keriwetan masing-masing... semua itu menjadi memoar bagiku. Bertemu kawan macam-macam model, seri, dan tipe. Bertemu dosen yang tak kalah variasinya, sampai di sini aku mulai paham : tiap dosen punya metodologi penelitian versi dosen itu sendiri.

Sampai suatu ketika aku tersadarkan oleh lamunanku. Ingatan-ingatan datang secara tiba-tiba. bapak dan Ibu adalah ingatan yang datang. Menghampiriku. Saat itu memang aku sedang lalai. aku seperti hilang. Ya, hilang : lupa: tidak ingat: bebas: kebingungan.

Mereka hadir dalam bayang-bayang Ibu memasak di dapur, mengantar katering ke rumah sakit, Bapak menjelma keringat-keringat dan peluh kesusahan menuju belantara dunia. Sedang aku? berdiri menatap mentari berusaha tenggelam dan aku masih tetap berdiri ketika sayup azan mengumandang. Di situ aku baru tersadar...

Kita terlahir untuk memulai. Orang tua berjalan untuk menuju akhir. Tapi kadangkala kita kebingungan atas apa yang telah kita mulai. Sebenarnya, kita butuh terlahir kembali!