1/
Kamu yang selalu
menanam prasangka ketika aku berjalan menuju surau sambil melantunkan
syair-syair rindu untuk Tuhanku. Kepada Tuhan kamu katakan sesumpahan
keberadaanku bukanlah bagian dari rencana-Mu. Kepada Tuhan aku mesti
membela diri atas layaknya aku tetap ada di dalam renaca-rencana-Mu –sama
seperti kamu katakan kepadaku berulang-ulang bahwa Tuhanmu tidak akan salah
dalam menciptakanmu –meski aku bukanlah bagian dari nasib-nasib baik yang direncanakan Tuhanku. Dan aku menerimanya;
baik atau buruk. Tidak masalah.
2/
Kamu itu sudah tua,
bukan anak kecil lagi. Bisakah kamu membedakan siapa aku dan siapa kamu? Biar
orang berkata kamu sudah banyak makan banyak asam garam bukan berarti kamu
menentukan jawaban atas pertanyaan: siapa aku? Bukan! Aku tetaplah aku. Dan
kamu tetaplah kamu. Aku tidak akan pernah memaksamu untuk bisa menjadi “aku”. Aku
selalu memaknai diriku adalah pintu yang membuka lebar-lebar menerima perbedaan
antara aku, kamu, kita, dan mereka. Semuanya.
3/
Tuhanku akhirnya
membalas pesan-pesanku yang aku kirimkan ketika pagi-pagi sekali sebelum
semburat merah muncul di ufuk timur tiba. Tuhan hadir menjawab pertanyaanku di
layar-layar kaca televisi, koran-koran pagi, majalah-majalah agama. Sekali
lagi, Tuhan telah hadir sebagai kata-kata narasi yang barangkali ingin agar aku selalu membaca
narasi-Nya, sekadar mafhum dan
mau bersyukur kita bisa hidup di Indonesia. Iya, Indonesia, aku mengejanya ;
in-do-ne-sia. Indonesia tempat syair-syair, warna-warna, rasa-rasa bisa bebas
menjadi keindahan, bukan peperangan.
Tuhan
Menulis Indonesia Sebagai Puisi
Orang-orang yang
pergi ke pasar dan menyapa nenek bakul sayur-mayur adalah puisi. Orang-orang
yang kemudian membeli sayurnya pula adalah puisi. Orang-orang yang kemudian
memasak sayur itu dan dimakan bersama keluarga dan tetangganya adalah sekian
puisi yang ditulis rapi. Sebenarnya, ada satu puisi yang benar-benar puisi,
ditulis tanpa menggunakan tinta tanpa mengotori kertas; orang-orang yang
membeli sayur pada nenek bakul sayur itu lalu memasaknya dan dimakan bersama
keluarga juga tetangga, tanpa bertanya dan memandang tentang apa agama nenek
bakul sayur itu, apa agama tetangganya, bagaimana wajah nenek bakul sayur itu
juga bagaimana wajah tetangganya, dan bagaimana kondisi ekonomi keduanya.
Satu hal pasti,
orang-orang yang saling berbagi dengan sesama adalah ketika Tuhan menulis
Indonesia sebagai puisi.



