Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Minggu, 15 April 2018

“Mengapa Pujangga-pujangga itu Begitu Mahir Merangkai Cerita Tentang Cinta yang Mereka Anggap Seolah Cinta Adalah Dewa Kehidupan yang Nyata.”



Sahabat. 

Ini kali pertama aku memanggilmu sahabat, lain tidak. Aku belajar tentang arti cinta dari pujangga, maka aku pun belajar bagaimana bersahabat juga dari pujangga.
Kau masih saja menyisakan cerita dalam sejarah hidup. Yang tertuliskan dalam syair dan bait-bait puisi. Kau abadi di sana, tapi tidak di sini (di puisiku).
Kenapa tak kau tanyakan saja kepada para pujangga-pujangga yang mendewakan cinta. Biar tahu, biar paham. Mengapa pujangga-pujangga yang kau maksud itu merangkai cerita cinta mereka seapik mungkin.
Suara hati seorang kekasih tak sama dengan suara hati malaikat yang punya surga. Apakah aku harus menghamba kepada cinta?

Ketahuilah sahabat, mereka para pujangga telah tersiksa dengan nestapa rasa. Mereka ditelantarkan oleh cinta, terombang-ambing dalam rasa siksa. Itulah mengapa sebabnya mereka mendongeng. Membangun cintanya lewat cerita. Karena dunia tak berpihak padanya. 


Tapi.... ada hal yang perlu diingat. “Cinta” bagi pujangga adalah gambaran kehidupan. Untuk apa mereka hidup, selain menghamba pada Tuhan dan menjalin cinta lalu membangun impian istana kehidupan dalam dunia kehidupan. Aku pun begitu, aku manusia dan kau juga manusia. Sama-sama punya rasa, sama-sama punya cinta. Tapi kita punya keinginan yang berbeda, aku harus melihat kau membangun cinta yang kau impikan dan kau mendoakan agar aku membuat syair-syair cinta seindah mungkin-menyenangkan diriku sendiri-menumbuhkan cinta kembali.

Aku harap kau mulai paham dengan hal ini. Jaga dirimu baik-baik. Jaga cinta yang telah tumbuh kembang bersemi, bunga-bunga putih gunung turut mengikuti harum bau masa depanmu. Jaga kepribadian anggun dirimu, senyum yang merekah lagi tawa yang memecah gundah. Sahabat.....

Tentang Sore dan Masa Lalu.
Sudah lama pelangi tak muncul kembali. Aku pun rindu dengan hal itu. Namun sayang, pelangi tak selamanya ada. Tak setiap saat menghias langit.
Aku pun berterimakasih padamu yang telah mengisi masa mudaku. Kau pula yang mengajarkan akau bagaimana bercinta (menjadi cinta). 
Ah, Aku yang selalu berharap kepada yang terpaksa. Aku mohon maaf, aku hanyalah pengabdi syair yang menjunjung bagaimana cerita cinta itu ada.

Setidaknya kita telah berkenalan dengan rasa, yang menyisakan luka duka pun tawa. 


Sampah.....

0 komentar:

Posting Komentar