Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Selasa, 28 Maret 2023

Tuhan Akhirnya Membalas Pesan-Pesanku

 

 


1/

Kamu yang selalu menanam prasangka ketika aku berjalan menuju surau sambil melantunkan syair-syair rindu untuk Tuhanku. Kepada Tuhan kamu katakan sesumpahan keberadaanku bukanlah bagian dari rencana-Mu. Kepada Tuhan aku mesti membela diri atas layaknya aku tetap ada di dalam renaca-rencana-Mu –sama seperti kamu katakan kepadaku berulang-ulang bahwa Tuhanmu tidak akan salah dalam menciptakanmu –meski aku bukanlah bagian dari nasib-nasib baik yang  direncanakan Tuhanku. Dan aku menerimanya; baik atau buruk. Tidak masalah.

2/

Kamu itu sudah tua, bukan anak kecil lagi. Bisakah kamu membedakan siapa aku dan siapa kamu? Biar orang berkata kamu sudah banyak makan banyak asam garam bukan berarti kamu menentukan jawaban atas pertanyaan: siapa aku? Bukan! Aku tetaplah aku. Dan kamu tetaplah kamu. Aku tidak akan pernah memaksamu untuk bisa menjadi “aku”. Aku selalu memaknai diriku adalah pintu yang membuka lebar-lebar menerima perbedaan antara aku, kamu, kita, dan mereka. Semuanya.

3/

Tuhanku akhirnya membalas pesan-pesanku yang aku kirimkan ketika pagi-pagi sekali sebelum semburat merah muncul di ufuk timur tiba. Tuhan hadir menjawab pertanyaanku di layar-layar kaca televisi, koran-koran pagi, majalah-majalah agama. Sekali lagi, Tuhan telah hadir sebagai kata-kata narasi yang  barangkali ingin agar aku selalu membaca narasi-Nya,  sekadar mafhum dan mau bersyukur kita bisa hidup di Indonesia. Iya, Indonesia, aku mengejanya ; in-do-ne-sia. Indonesia tempat syair-syair, warna-warna, rasa-rasa bisa bebas menjadi keindahan, bukan peperangan.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuhan Menulis Indonesia Sebagai Puisi

Orang-orang yang pergi ke pasar dan menyapa nenek bakul sayur-mayur adalah puisi. Orang-orang yang kemudian membeli sayurnya pula adalah puisi. Orang-orang yang kemudian memasak sayur itu dan dimakan bersama keluarga dan tetangganya adalah sekian puisi yang ditulis rapi. Sebenarnya, ada satu puisi yang benar-benar puisi, ditulis tanpa menggunakan tinta tanpa mengotori kertas; orang-orang yang membeli sayur pada nenek bakul sayur itu lalu memasaknya dan dimakan bersama keluarga juga tetangga, tanpa bertanya dan memandang tentang apa agama nenek bakul sayur itu, apa agama tetangganya, bagaimana wajah nenek bakul sayur itu juga bagaimana wajah tetangganya, dan bagaimana kondisi ekonomi keduanya.

Satu hal pasti, orang-orang yang saling berbagi dengan sesama adalah ketika Tuhan menulis Indonesia sebagai puisi.

TOLONG

 

Siang Seberang Istana

Oleh: Iwan Fals

Seorang anak kecil bertubuh dekil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan

Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja

Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata yang sudah terbiasa

Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaan yang ada

Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah diatas tubuh yang resah
Ribuan jerit didepan hidungmu (matamu)
Namun yang ku tahu tak terasa mengganggu

Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi sikecil siang tadi
Dia berdiri malas melangkahkan kaki
Diraihnya mimpi digenggam tak dilepaskan lagi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tolong (! & ?)
Oleh Ahmad Alfi

 

“Tolong, anakku lapar. Tolong, tiga hari katanya tak makan”
“Tolong, anakku sakit. Tolong, tiada biaya katanya untuk ke rumah sakit”
“Tolong, anakku belum tidur. Tolong jangan paksa usir tuk sekadar tidur”

Pada setiap insan manusia, kami percaya mereka punya iba.
kepada iba yang menjadi isi hati, kami percaya mereka punya rasa.
kepada rasa dari hati dan jiwa, kami percaya mereka itu manusia.

Pada bangunan megah nan mewah kami tersingkir-terusir.
Kepada lima ratus lantai yang berdiri sombong, kami minggir.
Kepada bangunan megah lima ratus lantai, keringat menjadi sebab kami bernama orang pinggir...

Sombong sekali bangunan itu. Aku percaya bangunan itu tak punya mata.
Sombong sekali gedung itu. Gedung rakus yang selalu makan dan tak pernah mengabiskannya.
Sombong sekali lantai-lantai berkeramik berlian itu, bergelar tikar merah bergelar derajat penghormatan.

Tolong, sekali lagi tolong dengarkan....
Ada Kaleng susu bekas berkarat menjadi teman untuk sekarat

Gedung penghormatan

 

 

SEORANG GADIS YANG ENTAH SIAPA TELAH AKU TUNGGU


 

 

Kamera cctv tidak pernah tidak untuk melihatku dari kejauhan. Kami saling bertemu dan melempar kata.

Tidak ada tawa yang gratis. Aku harus tersenyum. Menyenyumi diri sendiri

 

 

Solo, 14 Maret 2018   

MEMO

 

Memo untuk Mangkuyudan

Senja kembali datang.

Seperti biasa mentari kembali. Kembali ke peraduannya.

Satu-satu anak manusia mulai mengambil air suci. Lepas hadast – sucilah diri.

Satu-satu anak manusia berjalan ke surau. Pakai kopyah pakai sarung.

Datang untuk laksanakan seruan. Hidup bukan semata hanya gurauan.

Namun juga pengabdian.  Seperti mentari pergi pertanda berganti hari.

Hidup adakalanya harus pergi. Ketika pengabdian tak cukup lagi.

Amal ibadah yang akan dihitung kembali

 

                                                                                                Mangkuyudan,2015

 

Pengemis-Kamis

Aku tak pernah absen untuk hari ini. Kaleng atau besek kecil cukup menemaniku. Pun kantong bekas permen usang. Berjelaga seluruh wajah dan tubuh. Adalah keistimewaanku. Aku ada bukan untuk dikasihani. Ada untuk kau sedekahi, membuktikan kalau kau masih punya hati. Aku ada juga  bukan untuk dicaci dan dimaki apalagi kau hina. Aku (ada) dan kau  hidup berada-semua serba ada. Hidupmu semena-mena, acuh padaku yang merana. Kamis- aku datang tiap kamis. Dan kau panggil aku pengemis. Tanpa kau sadari kau membuat sekat padaku dengan hari kamis.

 

                                                                                                Puwosari, 2015

 

Tong (_)

 

Sampah, kau buang tak tentu arah

Kau serakah

Sampah, kau biarkan berserakan

Seakan-akan kau lumrah

Bilang terserah

Sampah. Apa bedanya dengan kau...

 

                                                                        Mojosongo, 2014

 

 

 

Hilang

Setiap yg menjadi perkenalan, memberikan perenungan.

Dan itu selalu. Tidak pernah tidak. Dan ini yang kesekiankalinya,

Sang Maha, menentukan apa yang menjadi akhir dari sebab.

Doa terus menjadi alasan untuk meminta.

 

" Tiada kata yang paling baik untuk diucapkan dihari ini selain " Pulang".

Semoga hari ini hari yang baik untuk "Pulang". Kembali kerumah.

Terimakasih atas kunjungannya pada jiwa-jiwa yang melambai padamu.

Permintaan maaf atas hadirmu sudah dikabulkan.

Tenang...

Pertalian masih ada. Doa menjadi penyambung kata demi kata...

Selamat Pulang, Sampai Jumpa kembali.

 

Semarang, 2 Oktober 2015

 

: Purnama Pertama

Waktu itu punama malam minggu, riang gembira raut wajahmu.Satu-satu langkahmu mengayun pelan kepadaku. Kau lukiskan pula senyum untukku.

Kau ajak aku mampir ke pasar triwindu, sekadar membeli ini itu. Lalu kau berikan aku azimat, sebuah pertanda cinta kepadaku. Satu untukku dan satu untukmu. Sepasang pertanda juga pertalian bahwa kita jadi satu.

Samar ingatanku apa yang kau katakan kali itu. Teringat satu-satu langkahmu berjalan mundur tinggalkanku. Kau pun lenyap diantara dua pohon beringin yang membelah purnama.

Kau lemparkan bungkusan kertas berisi azimat milikmu. Kau tuliskan pun disitu bait puisi Sjumandjaja untukku “ Ku akan kembali saat purnama pertama sebelum gerhana. Untuk mempertanyakan kembali cintanya. Bukan untuknya, bukan untukmu, bukan untuk siapa, tapi untukku karena aku mencintaimu”

 

                                                                                                                        Surakarta, 2015

Beranda Cerita


Separuh diriku adalah kelelahan di sore hari. Separuhnya lagi adalah yang membangunkanku dari mata  terpejam di semburat mentari.

Kini, bukan diriku lagi yang menanam tanpa pupuk bunga-bunga gagal kembang. Beberapa di antaranya hanya bertunas malu. Tunas gagal yang tak pernah akan percaya pada tubuh tumbunya.

Manusia-manusia sepertiku akan hanya menjadi hama bagi kerinduan. Bunga-bunga tak kembang. Burung-burung hanya bersangkar. Dan kupu-kupu merasa hidup adalah ketidakadilan.

Kini, bukan diriku lagi yang menanam tanpa pupuk kebahagiaan. Aku muncul dari pintu yang ada dan baru. 

 

24/5/2019

 

 

Aku Sebut Ini Adalah Puisi Yang Hilang

 

Dinding-dinding terasa dingin. Lebih dingin dari ucapan dan senyum yang terlukis di wajahmu. Lantai-lantai tak kalah licin, menjebak setiap kaki dan kalimat yang belum sempat terucap. Ada apa denganmu? Melihatmu mencoba izin undur diri dari panggung sandiwaramu sendiri. Apa kamu (sejak awal ) tidak menyadari bahwa kita telah berada di ruang raung kepalsuan (yang kamu buat)? Kamu adalah catatan yang belum, atau bahkan tidak akan kutulis di buku biruku.  Menelan ludah sendirinya dan kamu tatap kebohongan dalam-dalam pada dirimu.

Kamu tak akan kehilangan apa-apa, sebab kita belum menanam apa-apa. Hari-hari berjalan lebih cepat dari biasanya. Masih ada anak-anak yang sering bertanya kenapa Senin ke Minggu begitu lama, tapi Minggu ke Senin begitu dekat sekali. Begitulah mereka menanyakan ketidakmungkinan yang pasti. Mereka lebih sering menjalani hari-hari dengan bermain petak umpet dengan sadar. Ya, mereka memainkannya dengan kejujuran. Kamu kebohongan.

Aku sebut ini adalah puisi yang hilang. Dan akhirnya berhasil ketemukan. Ia menyelinap di antara jari-jemarimu yang lentik. Mewujud dalam kehalusan perkatan dan bias tatapmu. Hilang itu menyenangkan, hanya kamu. Segera saja kuakui, ada satu hal yang terlewat darimu dan diriku…

 

Solo, 11 Februari 2018