Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Rabu, 20 Januari 2016

Hujan dan 20 Januari.

Sore...

"setiap insan memiliki caranya sendiri untuk bisa hidup dengan bahagia. Termasuk mawar yang mencoba melindungi diri dengan duri, berbahagia dengan warna"

Hujan ini membawa beberapa ihwal duniawi berpadu dengan batiniah lahiriah.  Hujan, oleh beberapa umat manusia dicerna sebagai rahmat dan rejeki. Namun tak sedikit juga manusia yg merasa pekerjaanya terganggu oleh datangnya maka dianggaplah hujan: pembawa sial.

Tenang saja, itu hanya penjelasan uraian naluri nalariah dan hanya sebatas pandangan teoritis, tanpa perbandingan spekulatif subjektif pemandang hujan!

Di suatu malam sebelum hujan, aku sempat melihat wujud wajah itu. Tak asing, tapi begitu mengasingkan: menghadirkan kegelisahan dan menjauhkan rasa batin dari ragawi. Aku menghindar. Entah, itu mungkin karena respon sensor otak dan batin ini (terlalu) memekakan rasa. Jadi: aku pilih menghilang dari pandangan(mu) dan aku.

Kenaifan diri ini ketika teringat tokoh Hamka dalam buku-bukunya. Ranggawarsito dengan syairnya. Ibnu Batutah dengan pengalaman batiniahnya. Aku?

Ternyata: memang benar. Kau senang sekali menghidupkan rasa gembiramu. Bahagiamu. Kau sendiri ungkapkan gundah gelisah bahwa kau terlanjur sakit, dan kemudian mencoba baik-baik saja. Hei, soal ini aku memandang terlepas dari kehadiranku. Jika memang aku pernah hadir dalam hidupmu.  Sekali lagi kau mencoba baik-baik saja, untuk bahagia. Tapi kau (masih) gagal untuk itu. Dan aku? Aku bahagia dengan itu, artinya keterasingan diri dari rasa "nganu" bukan aku saja. Tapi juga kau. Iya kau! 
Sejenak aku teringat puisi dari karib saya. Ini menuliskan sajak hujan. Aku menghamba pada puisi itu. Karena dia (puisi itu) merepresentasikan aku yang dulu. Aku yang pernah mencoba membuka dan hadir dalam diam dan sepimu. Dan aku (masih) tak pernah berhasil mencobanya. Aku lebih sering terasing dalam keramaian batinmu. Banyak orang di sana. Seperti hujan ini. Puisi ini...

Jumat, 01 Januari 2016

Tahun Baru: Resolusi Buku!

(Se)buah Muqoddimah


"Scripta Manent Verba Volant"
(apa yang diucapkan akan berlalu, namun ihwal yang tertulis akan abadi)
 ***
"poken words fly away, written words remain"
(Kata-kata yang terucap terbang bersama angin, namun kata-kata yang tertulis tetap)
 ***
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)
***
"cogito ergo sum"
 (aku berpikir karena itu aku ada-Rene Descartes)
 ***
"scribo ergo sum"
 (aku menghasilkan tulisan karena itu aku ada- Robert Scholes)
***

 “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
(Imam Ali bin Abi Thalib, R.A.)
***
"Membaca Buku-Buku yang baik, berarti memberi makanan rohani yang baik"
(Buya Hamka)
***
"Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku"
(Bung Hatta)
 ***
"Ubah takdir dengan membaca dan menulis, buktikan ada kah orang-orang besar yang dilahirkan tanpa dengan membaca dan menulis"
(Suparta Brata) 
______________________________________________________________ 
Apa kabar?
semakin tua kah? 2016...

Ngobrolin tentang tahun baru 2016.  Barangkali kalian punya tradisi tersendiri untuk merayakannya. Termasuk aku. Tahun baru kali ini, aku memasuki tahun kedua diriku ber-cap “Mahasiswa”. Ada sedikit rasa aman disitu. Sedikit kataku. Karena masih banyak tanggungan daripada ketenangan untuk bersantai. Kalau saja teman-teman bisa berkumpul dengan sanak saudara. Aku tidak. Aku lebih menyendiri dari keramaian. Karena aku memang terbiasa hidup dengan kesepian. Sepi aku sendiri, begitu kata Dian S. Dalam puisinya. Haha
Maaf, Aku terlalu banyak meracau. Aku terbiasa meracau. Ngomong sendiri dan tidak penting. Itu lah karenanya aku menulis. Karena apa? Mereka yang menggugat apa yang aku katakan disini  adalah tulisan. Mereka atau bahkan kalian yang menggugat tulisan ku, sebaiknya gugatlah dengan tulisan. Biar adil. Hadehh, aku meracau lagi.
Sebenarnya aku ingin bicara ini: Resolusi Tahun Baru. Buku!

Beberapa bulan yang lalu. November, mungkin. Aku merampungkan bacaanku karangan Muhidin M. Dahlan dengan judul “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta”.
Aku menemukan banyak kalimat-kalimat persuasif yang menyadarkan kalbu dan akalku. Aku seperti dibangunan dari tidur panjangku mengenai dunia buku. Ya, aku telah dininabobokan gemerlap dunia hedonis- kalau di dunia ini masih ada buku.
Tahun Baru?
Apa yang kalian pikirkan dengannya?
Lihat kembang api, mercon, begadang, nonton pilem, liat tipi? Pendapatku, kesemua itu merupakan hal absurd. Tahu kan artinya “absurd”. Kalau tak tahu, coba deh buka kamus besar bahasa Indonesia.
Bukan munafik, sih. Kalau aku juga lihat kembang api saat jam 00.00 yang menandai pergantian tahun. Dari 2015 ke 2016. Tapi, menurutku itu tak menandai adanya perubahan yang mendasar dengan kehidupanku sebagai mahasiswa!
Aku berpikir bagaimana dengan “aku”. Jika orang-orang di sekitarku mulai membuat target-target di 2016. Kemudian cara untuk mencapainya, yang mereka sebut dengan “resolusi 2016”. Bagaimana dengan aku?
Oke kalau begitu, mari kita buat resolusi 2016. Yang aku namai “Resolusi Buku”
: adalah...
1.      Baca buku sebanyak-banyaknya, karena aku sadar semakin ke sini-2016. Aku semakin sadar sesadar-sadarnya kalau aku belum banyak membaca buku. Itu aku tahu karena aku belum banyak mengetahui hal-hal yang orang lain tahu. Kemudian, jika aku berkunjung ke Perpustakaan. Aku baru membaca buku 1/1000-nya. Masih banyak buku yang belum aku baca.
2.      Kalau aku sudah sembuh dari rabun membaca dan menulis. Aku juga harus punya bukunya. Apa, iya aku harus pinjam buku terus-terusan. Tidak kan?
3.      Target, beli buku. Kalau hidup sedang se-kere-kere-nya. Mau tidak mau. Bisa tidak bisa. Aku harus beli buku, minimal 2 buku lah dalam satu bulan.  (aja eman tuku buku)
4.      Menulis! Aku belum terlalu bisa menulis. Lihat saja, belum ada tulisanku yang dimuat di media. Bagiku menulis dan dimuat media adalah kebanggan tersendiri. Bukan karena bisa pamer. Tidak, sekali pun tidak. Karena bagiku, dengan menulis dan dimuat artinya, aku menulis untuk orang lain. Bukan untuk diri sendiri.
Demikian, karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggal saat aku menulis ini. Maka aku post sekalian saja. Dan aku buat tulisan ini sebagai tulisan bersambung. Masih ada lanjutanya. Tunggu sebentar ya...

 

#to-be-continue ... :D
Selamat ber-tanggal- 1
Selamat Ber-Januari- :D
Selamat Djajan Boekoe, selamat Djajan Ilmoe... haha