Pemuda Indonesia. Masing-masing dari kita pasti pernah merasakan jatuh cinta. Hahaha. Ya, jatuh cinta era abad 20 berbeda dengan abad 21. Jatuh cinta jaman sekarang berbeda dengan jaman 90-an . Abad 20 cinta masih dianggap sebagai hal yang sakral , kisah cinta saat itu dihiasi dengan ritual-ritual adat. Janji-janji cinta saat itu adalah sebagai doa. Berbeda dengan sekarang cinta saat ini lebih terlihat sebagai nafsu dan tontonan, kisah cinta saat ini dipenuhi dengan kepalsuan. Janji-janji cinta yang semula adalah doa sekarang hanya berupa kata. Tiada yang mengamini-memperihatinkan. Wahai Pemuda Indonesia kita harus semangat dalam berkehidupan. Jangan sampai cuma karena perempuan, Indonesia akan hancur karenamu...pemuda Indonesia kita bicara tentang Cinta dan Indonesia secara rasional dan ilmiah. Cinta, setiap orang punya cinta. Kenapa punya ? Setiap orang berhak akan cinta. Hati tanpa cinta bukanlah apa-apa. Tiada hal yang dapat dibanggakan. Seorang wanita seharusnya bisa menjadi penyemangat bagimu. Sandaran arah dan tujuanmu. Melengkapi dan menemani pengabdian hidup untuk beribadah kepada Sang Maha, untuk mencapai titik kebahagian cinta di dunia juga di akhirat. Milikilah cinta, cinta bukan semata engkau memiliki. Cinta bukan sekadar menyayangi. Apalah artinya cinta kalau kau tak melakukan sesuatu. Abadikan cintamu. Sejahterakan cintamu. Aku yakin, bagi kita yang memiliki cinta dalam hidupnya akan tenang bersamanya. Hei.
Hidup tak sekadar patah hati kawan. Bagi kalian pejuang cinta. Tetaplah konsisten dan terus berkomitmen, kita percaya bahwa jodoh tiada yang tahu kecuali Tuhan, tetapi bukan berarti seenaknya sendiri menciptakan sebuah cinta lalu mengobralnya, tidak sebodoh itu.
Jagalah cinta yang telah kalian miliki. Pelihara iman dan cinta yang telah tumbuh dan berkembang di hati kalian. Sejatinya hidup adalah tentang cinta dan pengabdian. Sesederhana itu. Lupakan gundahmu. Titipkan cinta yang telah engkau buat kepada Sang Maha. Berharap Sang Maha akan mengembalikannya kepada alamat yang tepat. Intinya. Kalian pejuang harus tetap kuat. Kuat. Dan kuat. Hingga kalian mencapai titik kebahagiaan yang abadi...
Sabtu, 26 September 2015
Perjalanan Mencari Jawaban
Kamis, 03 September 2015
Kuliah Tak Gentar
Alhamdulillah. Segala syukur harus selalu kita haturkan kepada Sang Maha. Memperjuangkan masa depan tidak lah sulit namun juga tidak semudah yang kau bayangkan. Banyak hambat dan rintang disana-sininya. Sepertiku, memperjuangkan diri untuk bisa kuliah. Orang tua pun awalnya sudah setuju untuk menyekolahkanku , dengan catatan aku harus mengambil prodi yang tidak aku sukai *PGSD/PGMI simple pemikiran orang tua, lulus jadi guru. Bagiku , entah pemikiranku benar atau tidak. Yang terpenting aku berkeyakinan , kalau kita mengerjakan sesuatu hal yang tidak kita sukai . Maka akhirnya di tengah-tengah akan merasa kesulitan. Karena apa ? Karena kita tidak ikhlas menjalaninya. Dan kabarnya Alhamdulillah aku pun gagal dalam ujian tulis masuk prodi PGMI .
Secercah harapan pun muncul. Prodi Baru pun di buka. Prodi yang mana aku sangat membanggakanya. Ya, betul. Tadris (pendidikan) Bahasa Indonesia. Aku pun menganggap kegagalanku dalam ujian tulis pertama membawa hikmahnya tersindiri. Aku berada di jalan yang ku anggap benar. "TBI". Memang dari awal sebenarnya diriku enjoy dengan Bahasa Indonesia. Berkaitan dengan sastra, membaca, menulis dan Jurnalistik. Aku berterimakasih kepada orang² terdekatku yang telah men suport ku. Bapak yang sulit dimengerti. Ibuk yang perkataanya dapat seorang anak luluh hatinya. Ibuk yang kuat . Ibuk yang hebat. Juga embah. Embah Yi dan Embah Kung. Aku harus pandai menjaga perasaan mereka yang sudah tua dimakan umur. Aku juga akan selalu ingat akan jasa-jasa kalian kepadaku. Aku tak kan lupa itu. Sekarang , dengan aku menjadi mahasiswa . Doakan anakmu,cucumu. Dapat mengabdi pada negeri ini. Ilmu yang di dapat berguna. Membanggakanmu. Membanggakan kalian. Ya Allah , Panjangkanlah umur bapak dan ibuk . Berikanlah umur yang barokah. Lancarkanlah rizeki mereka. Dan tetaplah di hati mereka Ya Allah. Rahmatilah ya Allah. Aamiin Aamiin...
