Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Rabu, 10 Agustus 2016

Perjumpaan dengan Waktu: Kenangan dan Tujuan

Setiap denting waktu memiliki maknanya tersendiri. Waktu terus berjalan, namun enggan untuk berhenti sejenak, bahkan untuk mengulang atau kembali ke denting sepersekian waktu yang telah lalu, waktu tak sudi untuk itu.
Usia terus bertambah, dengan simbolisasi numerik manusia masih bisa mengelak antara masih “muda atau tua” secara masif. Namun umur? Tak ada yang bisa membohongi umur. Karenanya umur menjadi salah satu misteri seseorang untuk berkehidupan. Logika pasti menunjukan kredo bahwa usia dan umur adalah dua entitas penting yang selalu berkaitan dengan waktu. Ia selalu hadir dalam kesempatan-kesempatan seorang manusia menciptakan peluang-peluang capaian selanjutnya.
Menuliskan ihwal “waktu” nyatanya tak akan perah selesai. Kemudian aku menjadi paham bagaimana waktu sangat berpengaruh terhadap gerak peradaban manusia dengan lingkungannya. Peradaban akan selalu berkembang menuju arah kemajuan, dan lingkungan menjadi bukti atau hasil produksi (dari peradaban) itu sendiri.

Aku mengenal waktu sudah lama. Ia selalu menemani setiap pergerakanku untuk menjalani semua rutinitas kehidupanku. Dari “waktu” aku mengenal apa itu masa lalu dan apa itu masa depan. Dari “waktu” pula aku menemukan makna kenangan dan apa itu tujuan.
Waktu mengilhami manusia untuk terus mempertimbangkan segala aspek antara rasio keberuntungan-kebermanfaaatn dan kerugian. Sehingga dari apa yang telah manusia dapatkan dari kerja usaha seseorang waktu akan ikut berperan menjadi faktor keberhasilan atau kegagalan. Dalam hal ini manusia kemudian dikenal sebagai mahluk yang terbukti memiliki akal dan pikiran. Tentu karena manusia terus berpikir!

Ketika tangan sedang bersalaman, terasa ada yang berbeda. Tangan itu sudah tak semulus dan sehalus dulu. Telapak tangan yang kasar menyimpan rahasia-rahasia yang selama ini ia sembunyikan dariku. Seperti biasa, mencium tangannya adalah sebuah keharusan dalam bersalaman. Tangan Ibu seperti berbicara padaku tentang harapan-harapannya. Tangan Ibu juga seperti telah merelakan anaknya untuk memulai penghidupan ke tahap yang lebih subtanstif. Tangan itu memaafkan segala laku salah maupun khilaf dari anaknya ini.
Kerutan di wajah, di bawah pipi dan sekitar kelopak mata, menandakan begitu banyak kenangan-kengan yang telah Ia ciptakan bersama keluarganya, tentu juga anaknya. Belum lagi berhelai-helai rambut yang memutih satu per satu. Ibu sudah tak lagi muda. Ibu sudah memulai fase kehidupan sebagi seseorang yang menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-cucunya. Begitulah seorang Ibu yang juga menjadi seorang nenek.
Tahukah kau apakah yang tak akan pernah lepas dan selalu mengikuti? Ya, Tuhan menciptakan waktu agar manusia memahami apakah ia akan hidup secara berguna atau binasa dengan sia-sia.
Pelan tapi pasti, jika diri ini masih sering melakukan kecerobohan yang sangat tak berlogika, sulit dimaafkan waktu, mulai sekarang bagaimana diri ini kembali bersahabat dengan waktu. Bukankah diri ini kelak ingin juga berharmoni dengan cukup waktu bersama Ibu?
Waktu....
Kepada waktu: 03.51 WIB Surakarta


0 komentar:

Posting Komentar