Setiap denting waktu memiliki maknanya tersendiri. Waktu terus
berjalan, namun enggan untuk berhenti sejenak, bahkan untuk mengulang atau
kembali ke denting sepersekian waktu yang telah lalu, waktu tak sudi untuk itu.
Usia terus bertambah, dengan simbolisasi numerik manusia masih
bisa mengelak antara masih “muda atau tua” secara masif. Namun umur? Tak ada
yang bisa membohongi umur. Karenanya umur menjadi salah satu misteri seseorang
untuk berkehidupan. Logika pasti menunjukan kredo bahwa usia dan umur adalah
dua entitas penting yang selalu berkaitan dengan waktu. Ia selalu hadir dalam
kesempatan-kesempatan seorang manusia menciptakan peluang-peluang capaian
selanjutnya.
Menuliskan ihwal “waktu” nyatanya tak
akan perah selesai. Kemudian aku menjadi paham bagaimana waktu sangat berpengaruh
terhadap gerak peradaban manusia dengan lingkungannya. Peradaban akan selalu
berkembang menuju arah kemajuan, dan lingkungan menjadi bukti atau hasil produksi
(dari peradaban) itu sendiri.
Aku mengenal waktu sudah lama. Ia selalu menemani setiap
pergerakanku untuk menjalani semua rutinitas kehidupanku. Dari “waktu” aku mengenal
apa itu masa lalu dan apa itu masa depan. Dari “waktu” pula aku menemukan makna
kenangan dan apa itu tujuan.
Waktu mengilhami manusia untuk terus
mempertimbangkan segala aspek antara rasio keberuntungan-kebermanfaaatn dan
kerugian. Sehingga dari apa yang telah manusia dapatkan dari kerja usaha
seseorang waktu akan ikut berperan menjadi faktor keberhasilan atau kegagalan. Dalam
hal ini manusia kemudian dikenal sebagai mahluk yang terbukti memiliki akal dan
pikiran. Tentu karena manusia terus berpikir!
Ketika tangan sedang bersalaman, terasa ada yang berbeda. Tangan
itu sudah tak semulus dan sehalus dulu. Telapak tangan yang kasar menyimpan
rahasia-rahasia yang selama ini ia sembunyikan dariku. Seperti biasa, mencium
tangannya adalah sebuah keharusan dalam bersalaman. Tangan Ibu seperti
berbicara padaku tentang harapan-harapannya. Tangan Ibu juga seperti telah
merelakan anaknya untuk memulai penghidupan ke tahap yang lebih subtanstif. Tangan
itu memaafkan segala laku salah maupun khilaf dari anaknya ini.
Kerutan di wajah, di bawah pipi dan
sekitar kelopak mata, menandakan begitu banyak kenangan-kengan yang telah Ia
ciptakan bersama keluarganya, tentu juga anaknya. Belum lagi berhelai-helai
rambut yang memutih satu per satu. Ibu sudah tak lagi muda. Ibu sudah memulai
fase kehidupan sebagi seseorang yang menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada
anak-cucunya. Begitulah seorang Ibu yang juga menjadi seorang nenek.
Tahukah kau apakah yang tak akan pernah lepas dan selalu
mengikuti? Ya, Tuhan menciptakan waktu agar manusia memahami apakah ia akan
hidup secara berguna atau binasa dengan sia-sia.
Pelan tapi pasti, jika diri ini masih sering melakukan
kecerobohan yang sangat tak berlogika, sulit dimaafkan waktu, mulai sekarang
bagaimana diri ini kembali bersahabat dengan waktu. Bukankah diri ini kelak
ingin juga berharmoni dengan cukup waktu bersama Ibu?
Waktu....
Kepada waktu: 03.51 WIB Surakarta

0 komentar:
Posting Komentar