Keluar dari zona “nyaman”,
pernahkah mencobanya? Jika belum cobalah. Barangakali akan kau temui banyak hal
yang belum pernah kau rasakan. Kehidupan nyaman-semua serba ada- hanya akan
membuatmu manja. Kau akan dininabobokan gemerlap dunia, hedonis!
Dunia memang kejam. Setujukah dengan
itu? Jika iya, kau sependapat denganku. Dunia sejatinya memanglah kejam. Jika
kau mengatakan dunia tidak kejam, mungkin kau belum merasakan kekejaman dunia.
Masihkah kau berada di zona
nyaman? Tahukah itu? Coba amati, masihkah kau tidur nyenyak di sepertiga malam
terakhir?
Kau akan belajar kejamnya duni
atas sebuah keputusan. Meninggalkan zona nyaman dan rela berada di zona sulit
untuk beberapa saat. Tidak lama, cuma butuh kesabaran. Iya, kesabaran. Untuk
mendapatkan hasil yang membuat dirimu mencapai tujuan dari sebuah cita-cita
hidup! Itu baru zona nyaman yang hakiki, bukan berada dititik nyaman karena ada
kesempatan pada kenyamanan yang membuat kau terlena dengan impianmu.
Suatu ketika temanku melemparkan
pertanyaan aneh kepadaku, “apa beda impian dan cita-cita” , aku pikir
sama saja. Kemudian dia mencoba menguraikan penjelasanya kepadaku.
Cita-cita. Semua orang pernah
memiliki cita-cita itu. Ketika kecil mau jadi ini jadi itu. Ah, ingin seperti
ini itu-melihat sesuatu yang membuat hati terobsepsi untuk menjadi seperti yang
dilihatnya. Namun, ah lahi-lagi kata “namun” menjadi tonggak penyangga antara
cita-cita dengan kenyataan. Tak sedikit manusia yang tak dapat mewujudkan apa
yang menjadi cita-citanya sewaktu kecil atau bahkan dewasa. Oh, iya aku lupa
bahwa cita-cita bisa berubah. Entahlah, cita-citaku sewaktu TK, SD, SMP sampai
SMA semuanya berbeda, berubah sesuai konteks kehidupanku. Bagaimana dengan kau?
Lalu bagaimana dengan impian?
Temanku mendefinisikan impian sebagai tujuan hidup yang tak pernah berubah
sesuai konteks kehidupannya. Impian itu tidak muncul ketika masih kecil. Namun,
impian itu akan muncul ketika kau sudah dewasa- mengerti hakikat hidup, hakikat
manusia, hakikat sebuah pengabdian- begitu kata temanku.
Impian dan cita-cita bisa jadi
sama, ketika keduanya punya tujuan yang jelas. Bukan hanya sekedar untuk
“menjadi” namun lebih dari itu, bagaimana untuk hidup menjadi “berarti”.
Cita-cita boleh saja tak terwujud, namun impian? Impian harus tetap ada. Harus
ada.
Terkadang ketika ada motivasi
atau semacam kekuatan dalam diri hilang barangkali ini yang disebut putus asa?
Merasa tak kuat. Tak tahan. Ingin mengakhiri semua yang telah dimulai. Ah,
sependek inikah pergulatan hidup, sebodoh itukah pemikiran otak manusia berpikir?
Semula sebelum semua ini aku
tempuh, bisa saja aku bekerja di sebuah lembaga swasta, dengan gaji bulanan dan
uang tunjangan, bisa beli ini dan itu. Hidup nyaman (untuk beberapa saat) telah
ada didepan mata. Tetapi aku mengambil keputusan lain, aku memutuskan untuk kuliah.
Pertimbanganku hidup nyaman untuk beberapa saat itu bukanlah aku.
Sore kali ini adalah senja
ketiga. Aku merasa beberapa alur kisah hidupku sangatlah menarik untuk
dijadikan suatu roman. Aku malas sekali mengulas masa laluku. Masa kecilku. Bagaimana
kehidupanku dengan keluarga. Bagimana hubunganku dengan orang tuaku, bapak yang
telah menafkahiku. Seringkali kekgagalan suatu keluarga menjadi ancaman batinku.
Menangis? Terlalu cengeng untuk
mengurai airmata! Tetapi demikianlah nyatanya. Batinku kerap menangis,
perpecahan suatu rumah tangga selalu menghantuiku. Hubungan cinta yang terjadi
karena keterpaksaan dan tipu muslihat menjadi akar semua itu. Dan AKU lah kunci
bertahannya jalinan keluarga. Demi aku, orang yang melahirkanku bertahan
untukku, aku masih butuh keluarga katanya. Apa yang bisa diharapkan untuk anak
seperti aku ini? Sudahlah aku hanya mengenang sedikit saja dari masa kelamku.
Tentunya aku masih punya masa
depan cerah bukan? Hidup mandiri adalah pilihanku, kuliah dengan uang pas-pasan
adalah keputusanku. Tuhan telah memberikan satu langkah untukku agar bisa
kuliah. Tinggal bagaimana aku menjalani kuliahku, tinggal bagaimana aku bisa
bertahan dengan keterbatasan yang berjalan beriringan disetiap kebutuhan
berlebih bersandar kepadaku. Sabar. Ya, aku bisa sabar. Sudah banyak aku
berhutang uang maupun jasa kepada teman. Beruntungnya aku masih punya teman.
Aku harap
untuk kalian yang membaca tulisanku ini, aku minta kalian bersyukur atas
kehidupan yang kalian jalani. Setidaknya kehidupan kalian lebih beruntung
daripada aku. Ingat, jangan lupa syukur. Ucapkan terimakasih kepada Sang Maha. Jangan
pernah menyerah setiap ujian menyapa menerpa. Salam, pengarung kehidupan!

2 komentar:
Sabar,semangat, syukur, slalu merasa lebih beruntung dari yang lain agar tak ada keluh kesah yang lagi berarti dalam hati
Terimakasi telah mengingatkan, menyadarkan ku kembali bahwa dunia ini memang fana, kutunggu uraian tulisan indahmu lagi 😉
Terima Kasih telah membaca curhatan ini. hahah.
aku akan berusaha bersyukur dan sabar.
Posting Komentar