Tim Peace Leader SFCG Solo bersama mahasiswa IAIN Surakarta
Mahasiswa
sebagai agen perubahan. Membawa misis besar dalam peradaban. Wawasan serta
pengetahuan seakan menjadi ujung tombak tolok ukur peradaban masa depan.
Hakikatnya, peradaban dibangun dari pengetahuan dan pengamalan. Mahasiswa
mempunyai tanggungjawab pada perubahan dan tuntutan zaman. Yang didalamnya
mencakup cita-cita dan tujuan bangsa.
Di dalam
perkuliahan, mahasiswa dituntut aktif dan kritis terhadap perngetahuan.
Berpikir dan mengembangkan pengetahuan, membuat yang belum ada menjadi ada.
Berbeda dengan siswa, kalau saja siswa di kelas di bebankan kepada tanggung jawab belajar. Maka mahasiswa
bertanggung jawab pada tugas maha belajar, sungguh betapa beratnya beban
belajar seorang mahasiswa. Mahasiswa dikenal mempunyai prinsip tri darma yaitu,
pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Oleh karenanya mahasiswa harus
mengaktualisasikan diri dalam masa perkuliahan.
Mahasiswa
dengan segudang prestasi seringkali disebut dengan akademisi. Pun menjadi
target setiap mahasiswa. Indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,5 keatas.
Aktif bertanya, aktif berdikusi, namun nol dalam sosial oraganisasi. Seorang
mahasiswa yang seperti ini dikatakan berorientasi kepada pembelajarannya saja
(Study Oriented).
Mayoritas
mahasiswa berasumsi bahwa menjadi aktifis menyebabkan prestasi menurun, nilai
rendah dan telat lulus. Karena hanya disibukan dengan masalah organisasi.
Sebenarnya masalah ini cukup praktis. Artinya permasalahan dan solusi bersumber
dari diri sendiri. Misal, seseorang aktifis prestasi menurun karena jadwal
bertabrakan, ini dikarenakan kewalahan dalam mengatur waktu, jadi solusinya adalah
bagaimana diri sendiri pandai mengatur dan membagi waktu.
Aktifis.
Begitu kita menyebutnya, maka yang terbayang dalam benak kita adalah demo,
bentrok dengan aparat, rapat mingguan, dan sering telat maupun titip absen pada
teman. Sedemikian itu hanyalah beberapa stigma positif maupun negatif bagi yang
belum mengenal betul akan jalan hidup seorang aktifis.
Seseorang yang
hanya bergerumul dan fokus pada masalah organisasinya. Juga tidaklah baik,
karena apa ? ia akan mengabaikan sisi tanggungjawabnya sebagai mahasiswa
sebagai seorang pemikir dan berpendidikan. Ya, walaupun dalam organisasi
seseorang akan belajar softskill atau keterampilan diri, itu tidaklah
cukup, perlu di imbangi dengan pengetahuan dan wawasan. Seseorang yang seperti
ini kita masukan dalam golongan orientasi organisasi ( Organisation Oriented),
yang dalam perjalanan hidupnya hanya fokus dan aktif dalam organisasi.
Penting dan
perlu kita perhatikan, disini kita bisa membandingakan karakter seseorang yang
tergolong study oriented dengan organisation oriented. Dalam dunia
perkerjaan, kita ambil contoh sederhananya. Semisal, si-A yang termasuk
berkarakter study oriented melamar ke sebuah perusahaan ternama dan
selektif dalam menerima pegawai, menyodorkan berkas lamaran di sertai segudang
lampiran prestasi akademik yang di pilih. Bersamaan dengan itu, datanglah si-B
yang melamar pekerjaan dengan menyodorkan berkas lamaran dengan melampirkan
riwayat organisasi yang pernah di jalani. Disini, perusahaan akan lebih memilih
dan memilah pelamar yang akan di rekrut berdasarkan riwayat organisasinya.
Kemudian datang juga pelamar si-C dengan menyodorkan berkas lamaran dengan
melampirkan riwayat prestasi akademik yang pernah di raih dan juga riwayat
organisasi yang pernah di jalani. Setelah itu, perusahaan kembali berpikir dua
kali. Dan mantaplah perusahaan memilih pelamar si-C sebagai pegawainya. Dapat
kita ambil faedahnya bahwa seseorang yang berjiwa akademis dan aktifis lebih
disukai di dunia pekerjaan.
Dalam zaman
globalisasi yang semakin maju dan menuntut perubahan, maka seseorang yang
berkarakter akademis dan aktifis sangat dibutuhkan. Karena selain mempunyai basic
skill yakni softskill juga mempunya order thinking hardskill. Sehingga
dalam menyambut globalisasi dan perubahan, tidak akan terjadi kepincangan
pengetahuan dan siap menyambut globalisasi. (Ahmad Alfi)

0 komentar:
Posting Komentar