Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Sabtu, 07 November 2015

Mempertanyakan Mahasiswa Akademis dan Aktifis?





 Tim Peace Leader SFCG Solo bersama mahasiswa IAIN Surakarta

 Mahasiswa sebagai agen perubahan. Membawa misis besar dalam peradaban. Wawasan serta pengetahuan seakan menjadi ujung tombak tolok ukur peradaban masa depan. Hakikatnya, peradaban dibangun dari pengetahuan dan pengamalan. Mahasiswa mempunyai tanggungjawab pada perubahan dan tuntutan zaman. Yang didalamnya mencakup cita-cita dan tujuan bangsa.
Di dalam perkuliahan, mahasiswa dituntut aktif dan kritis terhadap perngetahuan. Berpikir dan mengembangkan pengetahuan, membuat yang belum ada menjadi ada. Berbeda dengan siswa, kalau saja siswa di kelas di bebankan kepada  tanggung jawab belajar. Maka mahasiswa bertanggung jawab pada tugas maha belajar, sungguh betapa beratnya beban belajar seorang mahasiswa. Mahasiswa dikenal mempunyai prinsip tri darma yaitu, pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Oleh karenanya mahasiswa harus mengaktualisasikan diri dalam masa perkuliahan. 
Mahasiswa dengan segudang prestasi seringkali disebut dengan akademisi. Pun menjadi target setiap mahasiswa. Indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,5 keatas. Aktif bertanya, aktif berdikusi, namun nol dalam sosial oraganisasi. Seorang mahasiswa yang seperti ini dikatakan berorientasi kepada pembelajarannya saja (Study Oriented).
Mayoritas mahasiswa berasumsi bahwa menjadi aktifis menyebabkan prestasi menurun, nilai rendah dan telat lulus. Karena hanya disibukan dengan masalah organisasi. Sebenarnya masalah ini cukup praktis. Artinya permasalahan dan solusi bersumber dari diri sendiri. Misal, seseorang aktifis prestasi menurun karena jadwal bertabrakan, ini dikarenakan kewalahan  dalam mengatur waktu, jadi solusinya adalah bagaimana diri sendiri pandai mengatur dan membagi waktu.
Aktifis. Begitu kita menyebutnya, maka yang terbayang dalam benak kita adalah demo, bentrok dengan aparat, rapat mingguan, dan sering telat maupun titip absen pada teman. Sedemikian itu hanyalah beberapa stigma positif maupun negatif bagi yang belum mengenal betul akan jalan hidup seorang aktifis.
Seseorang yang hanya bergerumul dan fokus pada masalah organisasinya. Juga tidaklah baik, karena apa ? ia akan mengabaikan sisi tanggungjawabnya sebagai mahasiswa sebagai seorang pemikir dan berpendidikan. Ya, walaupun dalam organisasi seseorang akan belajar softskill atau keterampilan diri, itu tidaklah cukup, perlu di imbangi dengan pengetahuan dan wawasan. Seseorang yang seperti ini kita masukan dalam golongan orientasi organisasi ( Organisation Oriented), yang dalam perjalanan hidupnya hanya fokus dan aktif dalam organisasi.
Penting dan perlu kita perhatikan, disini kita bisa membandingakan karakter seseorang yang tergolong study oriented dengan organisation oriented. Dalam dunia perkerjaan, kita ambil contoh sederhananya. Semisal, si-A yang termasuk berkarakter study oriented melamar ke sebuah perusahaan ternama dan selektif dalam menerima pegawai, menyodorkan berkas lamaran di sertai segudang lampiran prestasi akademik yang di pilih. Bersamaan dengan itu, datanglah si-B yang melamar pekerjaan dengan menyodorkan berkas lamaran dengan melampirkan riwayat organisasi yang pernah di jalani. Disini, perusahaan akan lebih memilih dan memilah pelamar yang akan di rekrut berdasarkan riwayat organisasinya. Kemudian datang juga pelamar si-C dengan menyodorkan berkas lamaran dengan melampirkan riwayat prestasi akademik yang pernah di raih dan juga riwayat organisasi yang pernah di jalani. Setelah itu, perusahaan kembali berpikir dua kali. Dan mantaplah perusahaan memilih pelamar si-C sebagai pegawainya. Dapat kita ambil faedahnya bahwa seseorang yang berjiwa akademis dan aktifis lebih disukai di dunia pekerjaan.
Dalam zaman globalisasi yang semakin maju dan menuntut perubahan, maka seseorang yang berkarakter akademis dan aktifis sangat dibutuhkan. Karena selain mempunyai basic skill yakni softskill juga mempunya order thinking hardskill. Sehingga dalam menyambut globalisasi dan perubahan, tidak akan terjadi kepincangan pengetahuan dan siap menyambut globalisasi. (Ahmad Alfi)

0 komentar:

Posting Komentar