Unordered List

Perfect World Online Spear Thingy
Belajar menjadi seorang Ayah dari sekarang, karena tidak ada sekolah Ayah di dunia ini!

Selasa, 04 Maret 2014

Puisi di antologi bersama "solo dalam puisi" (pawon)



Gadis Solo dan (puisi) surokarto

Jujur, baru setengah windu aku disini. Berdiam diri di tepi bantaran kali memanjang berderu selurus-arus. Aku bilang “baru” sebab aku masih ingin berlama-lama disini. Setelah lelah perjalanan naik-turun, berdesak-desakan, kutatap awan cinta. Kau sambut aku tepat di depanmu, menatapku, melapangkan pelukanmu setiba diriku. Tirtonadi-bengawan solo
| Baru setengah windu aku disini, berdiam diri lalu pergi. Setelah lelah meratapi air ditepian  kali. Walaupun “baru”, namun aku masih ingin berlama-lama disini. Menjemputmu (lagi) . menemanimu (lagi) ke pasar kembang, sebab rupiah-rupiah ini tak pantas kuberikan kecuali harus ku tukar dipasar kembang . sebab aku ingin mengajakmu ke balekambang dengan kembang rupa merah ,mawar.
| Setengah windu lagi, aku masih disini. Sebab aku masih ingin lagi bersamamu, menyusuri slamet riyadi dan tak ingin ke tirtonadi. Tempat dimana perjumpaan dan perpisahan kerap ku lalui , di tirtonadi. Aku hanya ingin disini, di purwosari, naik kereta ber-uap yang slalu ku tunggui klaksonnya. Sebab aku disitulah kita saling berani memadu kasih tanpa mengasihi  tanpa hiraukan bunyi klakson yang mencoba menghalangi.
| Setengah windu telah lewat, genap se-windu sudah aku bersamamu. Jangan  coba kau terka mana “Paragon” dan mana “Aston”. Sebab semua itu bayang-bayang. Dan kan ku jawab “keraton” . tempat cinta kita bersemi. Indah sekali. Kini dan dulu berbeda. Juga dengan cinta kita. Antara solo dan Surakarta. Aku cinta solo tapi juga cinta Surokarto antara potret tradisional solo dan bayang-bayang Surokarto. Tapi, sudahlah cinta. Banyak alur di cerita cinta kita tapi satu, Di manakah solo cerita cinta kita ?

 

 





0 komentar:

Posting Komentar