Gadis Solo dan (puisi) surokarto
Jujur, baru setengah windu aku disini. Berdiam diri
di tepi bantaran kali memanjang berderu selurus-arus. Aku bilang “baru” sebab
aku masih ingin berlama-lama disini. Setelah lelah perjalanan naik-turun,
berdesak-desakan, kutatap awan cinta. Kau sambut aku tepat di depanmu,
menatapku, melapangkan pelukanmu setiba diriku. Tirtonadi-bengawan solo
| Baru setengah windu aku disini, berdiam diri lalu pergi. Setelah lelah
meratapi air ditepian kali. Walaupun
“baru”, namun aku masih ingin berlama-lama disini. Menjemputmu (lagi) .
menemanimu (lagi) ke pasar kembang, sebab rupiah-rupiah ini tak pantas
kuberikan kecuali harus ku tukar dipasar kembang . sebab aku ingin mengajakmu
ke balekambang dengan kembang rupa merah ,mawar.
| Setengah windu lagi, aku masih disini. Sebab aku masih ingin lagi bersamamu,
menyusuri slamet riyadi dan tak ingin ke tirtonadi. Tempat dimana perjumpaan
dan perpisahan kerap ku lalui , di tirtonadi. Aku hanya ingin disini, di
purwosari, naik kereta ber-uap yang slalu ku tunggui klaksonnya. Sebab aku
disitulah kita saling berani memadu kasih tanpa mengasihi tanpa hiraukan bunyi klakson yang mencoba
menghalangi.
| Setengah windu telah lewat, genap se-windu sudah aku bersamamu. Jangan coba kau terka mana “Paragon” dan mana
“Aston”. Sebab semua itu bayang-bayang. Dan kan ku jawab “keraton” . tempat
cinta kita bersemi. Indah sekali. Kini dan dulu berbeda. Juga dengan cinta
kita. Antara solo dan Surakarta. Aku cinta solo tapi juga cinta Surokarto
antara potret tradisional solo dan bayang-bayang Surokarto. Tapi, sudahlah
cinta. Banyak alur di cerita cinta kita tapi satu, Di manakah solo cerita cinta
kita ?

0 komentar:
Posting Komentar