Mengawali pagi dengan
sejuk-segarnya udara aroma embun yang natural tanpa polusi, lalu mencoba
meneduhkan diri di bawah rindangnya pepohonan yang membikin hawa sepoi-sepoi
nan adem oleh angin, berikut mengakhirinya dengan menikmati sayup-sayup
keheningan hidung menghirup-hembus ketenangan alam bersama segelas teh dan
senja, rasanya hidup seperti demikian adalah laksana surga. Sayang, surga yang
saya dambakan dan saya maksud tak benar-benar mewujud dalam realitasnya. Tak
sadar saya telah tertidur dalam mimpi ....
Entah butuh berapa ratus purnama
saya akan menanti ke-tidak-adil-an yang dibiasakan ini dihentikan. Saya
bukanlah seorang perokok, sungguh. Bila saya bukan seorang perokok, bukan
berarti saya adalah seorang yang bisa disebut si “anti rokok”.
Dalam
keseharian, saya bergerumul, berinteraksi, atau bersahabat dengan teman-teman
saya yang notabene adalah perokok (berat). Di lingkungan saya, saya adalah
minoritas yang tidak merokok. Saya tak pernah merasa ditindas atau
didiskriminasi.
Dari apa yang saya alami selama ini, sering judgement
diskriminator jatuh pada orang yang tak merokok, alasannya konyol: kalau tak
suka dengan asap rokok, jangan berteman dengan kami! Well sekarang siapa yang
menindas dan siapa yang mendiskriminasi? Sejak kapan rokok menjadi kunci
persahabatan antara kita? Sehingga letak
benang silaturahim ditentukan oleh rokok, sungguh, ini tidak adil.
Saya senang dengan isu-isu
mutakhir bertopik sok agamis, dengan menggandeng klausa toleransi-
empati-kompromi atau kolaborasi. Sayang seribu kali sayang sama dengan sayang
sekali, kenapa klausa toleransi-empatisme tidak tersentuh oleh babagan rokok.
Padahal, bermula dari rokok, muncullah dua aliran yang selalu menjadi polemik
kesyejahteraan keadilan endonesa: sang perokok dan yang nggak merokok. Betul
kan?
Di endonesa, para perokok
mendapatkan tempat yang istimewa. Mereka diberi ruang-ruang khusus area
smooking. Tapi, tahu sendirilah bagaimana watak manusia endonesa. Semakin
dilarang semakin nekad melanggar. Walhasil kawasan bebas asap rokok menjadi tak
termaknai sesuai harapan: asap rokok benar-benar bebas berhembus di setiap
sudut ruang kawasan terbuka dan fasilitas umum. Syahdu sekali pemira... ada
ibu-ibu hamil kena asap rokok, bukannya minggir malah dengan santainya ngajak
ngobrol si ibu hamil. Mengaharukan.
Oh iya, endonesa adalah negeri
yang tercipta sebagai istana para perokok, itu karena harga rokok yang bisa
dibilang murahan. Jadi, maaf, jangan marah kalau saya bilang perokok itu
murahan. Anggapan saya, bila rokok harganya naik sehingga mahal, maka dampaknya
adalah akan terjadi kastanisasi terhadap
rokok. Rokok turut memberikan warna identitas pada kelas sosial. Kaum
borjuislah yang bisa membeli rokok dengan harga mahal, sedang proletar terkini
lebih memilih beli tembakau langsung dari petani dan melintingnya.
Konkretnya, bila rokok
benar-benar mahal, yang akan kita temui adalah hanya pejabat-pejabat atau
konglomerat yang bisa kebal-kebul merokok. Sedangkan kelas buruh tentu akan
kesulitan membeli rokok.
Lain hal apabila harga rokok
masih begitu-begitu saja, dinamika yang terjadi adalah rokok bisa dibeli oleh
siapapun. Entah ia kaya atau miskin, muda atau om-om, tua atau veteran, anak
teka atau esde (masih ingatkan gambar meme anak yang meloporkan gurunya ke
polisi dengan gambar bergaya merokok sok gagah!), tentu juga mahasiswa atau
tante-tante.
Persoalnnya Pemerintah dinilai
telah kewalahan mengatasi regulasi bea cukai rokok untuk mempermahal harga
rokok perbungkusnya nanti, ini berkaitan erat juga dengan para juragan tembakau
di Indonesia.
Dugaan saya adalah wacana yang
lebih senang disebut hoax ini memperlihatkan bahwa pemerintah akan dicap
sebagai kapitalis, bahkan istilah overgeneralisasi atau Fallacy of Dramatic
Instance atau lebay yang dilayangkan oleh Erdward S. Kennedy. Tabik! Atau
jangan-jangan desas-desus bahwa ini adalah akal busuk pemerintah juga membuat
enak-emak takut belanja bulanan dipotong suami buat beli rokok? Aduhai mama...
tamatlah riwayatmu kini. Pucing-pucing pala mamak.
Mengharukan sekali stigmatisasi
dan pandangan seperti demikian.
Barangkali Pramis endonesa seolah
kehilangan jati diri sebagai orang yang ngintelek. Tokoh-tokoh yang gemar
merokok dan dijadikan cover buku seolah interpretasi dari tingkat
keintelektualan seseorang. Padahal teman-teman saya nggak begitu pinter-pinter
banget. Bahkan ada yang sok intelek kalau ngrokok afdolnya ditemani kopi. Duh
Gusti paringono ekstasi macam GusMul, sejak kapan logika kopi dan rokok
tertanam dalam benak otak orang endonesa.
Sekali lagi. Rokok lagi-lagi tak
pernah memberikan kemerdekaannya pada konsep toleransi dan empati pada para
orang yang tak merokok-- yang alergi pada asap ketidak-adilan.
Konteks asap menjadi sangat logis
bagi yang mendambakan kenyamanan. Mereka bebas melakukan aktivitas seperti
mengawali pagi dengan sejuk-segarnya udara aroma embun yang natural tanpa
polusi, lalu mencoba meneduhkan diri di bawah rindangnya pepohonan yang
membikin hawa sepoi-sepoi nan adem oleh angin, berikut mengakhirinya dengan
menikmati sayup-sayup keheningan hidung menghirup-hembus ketenangan alam
bersama segelas teh dan senja. Inilah surga, bukan neraka! Surga bagi pendamba
surga hahaha...
Di sisi lain telah dibangun
gerakan-gerakan olahraga dengan sponsor merk rokok ternama, belum lagi
rupiah-rupiah yang dialokasikan untuk dana beasiswa. Sungguh bijaknya pabrik
rokok endonesa. Slalu ada plus minusnya! Mau menentang kok sayang, mau
mendukung kok tak sesuai nurani... haduhh
Sekali lagi, saya kian mumet
untuk berapologi pada ketidakadilan. Tapi realitasnya rokok membuat paradigma
keadilan yang nyata. Ya itu, lewat sponsor-sponsor dan beasiswanya itu.
Akhirul kalam... bagi
perokok silakan nimbun sebanyak-banyaknya, siapa tahu wacana yang lebih senang
disebut hoax ini akan segera dibahas di meja DePeeR dan Presyiden dan dibuat
surat keputusan! Modyar genti koen...
Untuk yang antirokok atau nggak
merokok jangan sok sehat banget, ngerokoknya nggak, tapi konsumsi makanan
sampah (junkfood), udah gitu nggak pernah olahraga, padahal tercemar asap
kendaraan udah pasti. Wkwkwk ada keluhan sila nge-tweet di Twitter dengan tagar
#tolakhargarokok50ribu vs #dukunghargarokok50ribu . Tagar ini sempat jadi trending topic , loh...
Selamat berwacana!
*kredit foto: sumber -http://dayat-latuconsina.blogspot.co.id/


2 komentar:
Terimakasih atas inforasi yang anda berikan.Semoga bermanfaat juga untuk pembaca yang lain.izin share tentang air minum dan standar air yang laik dan sehat.
Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
The blog is genuinely impressive in all aspects.
Good job, I like this blog.
judi poker online terbesar
Posting Komentar